Acting­ Jon Hamm begitu menawan, baik saat menjadi diplomat, pemabuk, dan penyelamat. Perubahan karakternya tampak jelas pada laku dan gaya bicaranya.

Beirut pernah dapat julukan “Parisnya Timur Tengah” (The Paris of the Middle East). Sebutan itu muncul bukan tanpa sebab.

Ibu kota Lebanon ini pernah dihuni warga yang berpengetahuan luas, buah dari pertukaran wawasan warganya yang punya latar belakang agama dan budaya yang beraneka macam. Wajar jika kemudian Beirut menyandang label sebagai kota kosmopolitan laiknya Paris.

Namun suasana hidup yang heterogen itu pernah rusak karena perang saudara selama 25 tahun. Pada periode 1975-1990, kehidupan penuh ragam nan harmonis di sana mendadak bersalin rupa menjadi penuh curiga.

Kecurigaan yang kemudian berbuah pertikaian dan peperangan antar warga sipil.

Advertisements

Kesederhanaan itu punya misi mulia agar film mudah dicerna sekaligus menyimpan risiko film jadi kurang istimewa

5PM, dengan kepanjangan Penjuru Masjid (PM) ataupun Pemuda Masjid (PM), sungguh film yang sederhana hampir di semua aspek. Latarnya, acting pemerannya, dialognya, sound serta sinematografinya tidak menampakkan keisitimewaan kecuali tekanannya yang konsisten pada tema kembali ke masjid.

Terkait dengan masjid, mungkin kita akan membandingkan film 5PM ini dengan seri Para Pencari Tuhan yang diputar saban sore di bulan puasa. Film yang hampir memasuki jilid ke-12 ini mengusung tema hijrahnya tiga pemuda ke kehidupan masjid.

Boleh dibilang kedua film itu punya kesamaan tema namun beda gaya. Di saat seri Para Pencari Tuhan menguarkan banyak dialog filosofis dan relijius dari para pemerannya, film 5PM tetap konsisten dengan dialog keseharian yang sederhana.

Menyaksikan film ini, kita bisa mendapatkan dua rasa sekaligus: adrenalin yang melompat-lompat dan inspirasi tentang bagaimana bangunan kekeluargaan dikelola

Bagaimana bisa sebuah film dengan sedikit dialog, minim karakter, plus nuansa yang sunyi-sepi bisa bikin bulu tengkuk kita berdiri? Sutradara John Krasinski ternyata mampu menciptakan suasana ngeri dengan “keterbatasan”, yang mungkin saja, disengaja itu.

Sebermula ia perlihatkan kondisi kota yang berantakan. Jalanan sepi dari jejak kaki orang dan hewan, kecuali dedaunan kering yang berserakan. Aneka bangunan tampak terbengkalai karena ditinggal penghuninya yang kabur atau raib entah ke mana.

Itu terlihat dari aneka koran beserta informasinya yang tergeletak begitu saja dan potongan foto penanda orang hilang di sebuah dinding toko. Dari penggambaran itu, kita kemudian sadar, ada yang tidak beres di sana.

Lima tokoh kita kemudian masuk bingkai film dan nyaris tidak melakukan dialog lisan sedikitpun. Jalinan komunikasi antar mereka dilakukan lewat bahasa isyarat dan bisikan. Bahkan semua tokoh kita jalan bersijingkat seperti ketakutan langkahnya didengar orang.

Dari sini, kita sudah berkenalan dengan latar film yang dilanda “kiamat” di hari ke-89 tahun 2020. Kita juga tahu kelima tokoh kita, yang tampak seperti satu keluarga, adalah para penyintas alias orang-orang yang bertahan hidup pascakiamat.