People are a resource, Simon

Inilah episode dengan muatan cerita paling lengkap di sepanjang season 8.

The Key, judul episode ini, tidak hanya menyajikan duel Rick (Andrew Lincoln) kontra Negan (Jeffrey Dean Morgan), tetapi juga menghadirkan aroma muslihat dan pengkhianatan, balas dendam, konflik batin, dan persahabatan.

Paket lengkap yang juga disertai kelokan cerita (twist) yang bikin kita penasaran untuk buru-buru menyaksikan kelanjutan ceritanya. Terutama menanti aksi Dwight (Austin Amelio) di episode 13 bertajuk Do Not Send Us Astray.

Sebelum ke sneak preview episode 13, kita terlebih dulu dihadapkan pada bentrok satu lawan satu: Negan vs Rick. Ya, akhirnya, kedua pemimpin kelompok terbesar itu terlibat adu fisik. Meskipun proses sebelum terjadinya pertempuran itu rada janggal.

Advertisements

The only thing faster than darkness is light

Cobalah ingat kembali bagaimana Alice Kingsleigh memulai petualangannya di Wonderland. Ya, tanpa sengaja, ia menemukan seekor kelinci dengan rompi biru yang kemudian menariknya masuk ke sebuah lubang.

Sekarang coba bayangkan kisah pertama perjalanan Harry Potter saat bertemu dengan pria bertubuh besar dan berkostum aneh, Hagrid. Dan lihat bagaimana protagonis kita dipaksa “menabrak” tembok peron stasiun kereta untuk masuk ke dunia para juru sihir.

Kedua film fantasi itu, setidaknya, punya empat kesamaan. Pertama, kedatangan tamu asing sekaligus aneh di dunia nyata. Kedua, tokoh utama kita diajak melewati sebuah medium yang mengantarkannya ke alam lain.

Ketiga, petualangan dan perjumpaan tokoh utama kita dengan aneka rupa wujud aneh di dunia yang sebelumnya tidak ia kenal. Keempat, ada musuh yang dihadapi sang protagonis.

Tidak tanggung-tanggung, Negan telah menyiapkan senjata khusus: sebuah trik melumuri semua senjata tajam dengan darah the walker, zombie

Inilah episode pembuka untuk pertempuran besar antara pasukan Rick kontra geng Negan. Dan tentu saja, seri cerita ini juga menyimpan kejutan ala The Walking Dead yang terus menggugah rasa penasaran kita untuk selalu menyaksikan kelanjutan kisahnya.

Ya, lagi-lagi, kita disuguhkan kelokan cerita di pengujung episode, yang sebenarnya lebih banyak bikin kesal, tetapi sialnya, juga tambah bikin kepo. Tapi rupanya, inilah resep manjur serial televisi yang pertama kali muncul pada 2010 itu agar tidak ditinggal penontonnya.

Pada episode ini, kita bertemu dengan aksi Daryl (Norman Reedus) yang tengah memimpin perjalanan pasukan Alexandria menuju permukiman Hiltop. Sementara itu, anggota geng Savior tampak berpencar untuk mencegat laju kawanan itu.

Sebab jika kelompok Alexandria berhasil mencapai Hiltop, apalagi Rick (Andrew Lincoln) dan Michonne (Danal Gurira) juga tiba di permukiman itu dengan selamat, geng Savior pimpinan Negan tentu dalam bahaya besar.

Seperti Wonder Woman (2017) yang bercerita tentang riwayat awal untuk aksi heroiknya, Tomb Raider (2018) juga ingin menapaki jejak yang sama

Di awal milenium ketiga, kita mengenal Lara Croft sebagai Angelina Jolie. Dua filmnya, Lara Croft: Tomb Raider (2001) dan Lara Croft Tomb Raider: The Cradle of Life (2003), sudah cukup melekatkan kesan dan memperkuat pertalian itu.

Kita juga tahu, dua film itu merupakan produk adaptasi dari serial permainan video terkenal berjudul Tomb Raider. Di tahun 2000-an, video game yang pertama kali dikembangkan oleh Core Design ini, pada 1996, menjadi salah satu permainan favorit para remaja.

Setidaknya kita mengetahui hal itu dari produksi serial game yang terus-menerus dilakukan oleh Core Design.

Sutradara Noh Dong-seok punya resep sendiri untuk terus mengajak penonton menduga-duga dan berkali-kali terjebak dalam kelokan alur ceritanya

Tahun lalu, ada film Korea yang menyedot perhatian banyak penonton, hingga masuk daftar film Box Office, berjudul Fabricated City/Jojakdwen Doshi. Kisahnya berkisar seputar perjuangan seorang pemuda bernama Kwon Yoo (Ji Chang-wook) dalam menguak aksi sindikat rahasia perekayasa kasus pembunuhan.

Organisasi ini menerima pesanan untuk merancang kematian seseorang dengan cara merekayasa cerita pembunuhannya. Aneka barang bukti, dari mulai sidik jari, rekaman kamera pengawas, dan saksi mata, telah disiapkan untuk calon pelaku yang sudah jadi incaran, salah satunya Kwon Yoo.

Bahkan pemberitaan media massa juga dikerahkan untuk memperkuat kesan publik ihwal kebenaran cerita pembunuhan yang sebenarnya penuh rekayasa itu. Tentu saja, untuk melancarkan aksi ini, diperlukan bantuan teknologi yang tersaji apik, terutama di akhir film.

Banyak kejutan muncul di sepanjang film hingga kelokan cerita yang tak terduga di bagian ujungnya. (baca: Fabricated City)

Episode 11 belum akan mempertemukan Rick kontra Negan. The Walking Dead masih harus menyelesaikan pecahan cerita yang berserak

Sudah hidup di tengah kerumunan sampah, Komunitas Scavenger pimpinan Jadis (Pollyanna McIntosh) masih harus merasakan pilu setelah seorang antek Geng Savior, beserta pasukannya, menyambangi markas mereka.

Nasib nahas harus diterima Jadis usai kegagalannya bernegosiasi dengan Simon (Steven Ogg), tangan kanan Negan (Jeffrey Dean Morgan), ketua Geng Savior.

Jadis harus menyaksikan sendiri kematian seluruh anggota komunitasnya yang dibantai habis oleh pasukan Simon.

The only thing that stops a bad guy with a gun is a good guy with a gun

Pemutaran perdana film Death Wish menuai kontroversi. Bukan karena aneka aksi baku tembak yang membuatnya jadi topik perdebatan, melainkan karena laku main hakim sendiri tokoh utama filmnya.

Si pemeran utama ini menjadikan pistol di tangannya sebagai senjata untuk membunuhi warga sipil.

Meskipun mereka yang jadi sasaran tembak tergolong pelaku kriminal, namun laku main hakim sendiri ini terlihat seperti meruapkan trauma atas rentetan kejadian penembakan oleh warga sipil di Amerika.

I should one day like to show by my work what such an eccentric, such a nobody, has in his heart

Inilah salah satu wujud totalitas tanpa batas. Suatu bentuk apresiasi setinggi langit atas aneka lukisan karya Vincent van Gogh. Sebuah persembahan seni yang memadukan produk seni rupa dan karya sinematik.

Ya, Loving Vincent, memang bukan film animasi yang biasa kita saksikan sehari-hari. Loving Vincent merupakan animasi lukisan cat minyak pertama di dunia. Untuk memrpoduksinya, diperlukan puluhan ribu bingkai gambar (frames) dalam bentuk lukisan kanvas.

Dorota Kobiela, salah satu sutradaranya, seperti dikutip dari BBC, menyebut Loving Vincent bermula dari sebuah film pendek berdurasi tujuh menit yang diciptakannya pada 2008. Ia melahirkan produk animasi itu dari ratusan lukisan cat minyak di atas kanvas yang berperan sebagai frame.

Every human being is a puzzle of need

Sudah pasti, film dengan protagonis perempuan yang berprofesi sebagai mata-mata bak cendawan di musim hujan. Produk sinematik macam itu sudah sangat banyak dan tidak lagi segar apalagi istimewa.

Setidaknya kita bisa menyebut La Femme Nikita (1990), Salt (2010), dan Atomic Blonde (2017) untuk seorang peluluk wanita dengan kemampuan bela diri di atas rata-rata dan perlengkapan teknologi canggih di sekitarnya.

Atau Mr & Mrs. Smith (2005), Get Smart (2008), Spy (2015), dan Charlie Angels (2001 & 2003) untuk agen intelijen cerdas yang sesekali melucu lewat aneka laku dan dialognya.

Dengan begitu, karakter intel perempuan yang jago kelahi dan menembak disertai perangkat teknologi tinggi dengan balutan komedi sudah jadi hal yang lazim.

You put away your gun, you stopped fighting. You did what was right. It still is. You can still be like that again

Paruh kedua serial televisi The Walking Dead Season 8 kembali tayang. Setelah menamatkan delapan seri pertama pada periode 22 Oktober-10 Desember 2017, film besutan Frank Darabont ini mulai melanjutkan sisa delapan episodenya pada 25 Februari 2018.

Cerita pilu menjadi pembuka episode di paruh kedua ini. Sama seperti awal episode pada season 7, saat Abraham (Michael Cudlitz) dan Glenn (Steven Yeun) tewas di tangan Negan (Jeffrey Dean Morgan), kali ini Carl Grimes (Chandler Riggs), anak pemeran utama Rick (Andrew Lincoln), harus mengakhiri petualangannya di dunia para zombie.

Because it’s my name, and I’ll never have another

Bersiap-siaplah menyimak parade kata-kata dari Molly Bloom (Jessica Chastain) tentang keruntuhan dan kejayaan penggalan hidupnya serta aneka lakunya, yang secara implisit, menunjukkan hasrat untuk melawan kuasa para pria.

Lewat film Molly’s Game, yang diadaptasi dari sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Molly, kita sama sekali tidak akan dimanjakan dengan adegan penuh aksi, misteri atau bahkan teka-teki.

Tetapi kita akan diajak seperti mendengarkan cerita tentang cuplikan perjalanan hidup Molly yang dibacakan sendiri olehnya secara lajak, namun tetap bernas. Cerita yang tentu tidak biasa dan datar-datar saja, melainkan lebih mirip seperti laju jet-coaster.

The Post bergerak dalam dimensi yang lebih luas: jurnalisme, antara membela kepentingan bisnis atau kepentingan masyarakat

Awal tahun 1970 bisa dikatakan sebagai salah satu periode gemilang bagi kerja jurnalisme Amerika Serikat (AS). Klaim ini tentu saja berangkat dari pengungkapan dua kasus besar oleh dua surat kabar terkenal: The New York Times dan The Washington Post.

Dua kasus bermuatan skandal politik yang akhirnya memaksa orang nomor satu Negeri Abang Sam (AS) saat itu, Richard Nixon, mengundurkan diri dari kursi presiden.

Dua tema liputan yang mengantarkan The Times, sebutan The New York Times dan The Post, panggilan The Washington Post, meraih penghargaan The Pulitzer Prizes untuk kategori public services.