Aktris pemeran Psylocke di X-Men: Apocalypse (2016) itu mengaku telah berkali-kali mengalami pelecehan seksual dari pengarah film Rush Hour dan serial televisi terkenal Prison Break itu

Di pengujung tahun lalu, jagat perfilman Hollywood diterpa isu pelecehan seksual. Seorang perempuan, pada Oktober 2017, mengaku diperkosa oleh sutradara beken, Brett Ratner (48 tahun).

Alih-alih dianggap isapan jempol semata, kabar skandal itu semakin kencang menerpa Ratner setelah tujuh orang aktris, pada November lalu, menuduhnya telah melakukan pelecehan seksual atas mereka.

Advertisements

Jenaka, jadi kata kunci lain untuk memahami aneka ulasan film karya Lane

Ia hanya perlu sebaris judul untuk memerikan sensasi yang dirasakan setelah menyaksikan sebuah produk sinematik. Deret kata pengantar tulisan itu bahkan terbaca seperti sebuah ikhtisar atas alur cerita film.

Sebuah judul, baginya, mesti berperan sebagai cerita mini dari narasi besar yang ia sampaikan dalam badan tulisan.

Ini evolusi IMDb: berawal dari pangkalan data film pribadi, menjadi semacam buletin hingga jadi situs internet

Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia menyangka tengah bermimpi saat dirinya berada di tengah kerumunan pelaku sinema pada perhelatan anugerah Piala Oscar.

Bahkan pria yang dikenal ramah kepada semua orang ini harus mencubit pipinya berkali-kali untuk memastikan semua yang dilihat dan dirasakan adalah nyata. Termasuk perjumpaannya dengan tokoh perfilman macam Steven Spielberg.

Untuk film horor, Ebert punya seleranya sendiri

Roger Ebert, Si Kritikus Film Pecinta Sinema

Ia membangun narasi dengan jujur. Film apik pasti menuai pujian dan tentu saja nyaris dapat empat bintang. Film buruk, siap-siap dapat tomat busuk dan pasti “nyaris” dapat bintang.

Tapi tenang, ia tipe orang jenaka. Mustahil ia menghina sebuah karya sinema. Kritiknya dipoles dalam ungkap canda.

Ebert adalah kritikus film pertama peraih penghargaan Pulitzer pada 1975

Ia larut dalam lamunan: seperti ada yang salah pada profesinya. Orang lain tampak hidup normal. Bangun pagi, mulai kerja saat hari terang, bercengkerama dengan kolega, bersiap pulang kala senja, tidur di waktu langit gelap.

Tapi pria ini cuma punya satu kesamaan dengan “orang normal” itu. Sama-sama bangun pagi. Sisanya, jauh dari gaya hidup orang kebanyakan.