Category: Cerita Sinema

Wind River: Drama Pembunuhan dan Derita Peranakan Suku Indian

Sutradara dan Penulis Naskah: Taylor Sheridan; Produser: Matthew George, dkk; Genre: Thriller, Mystery; Durasi: 107 menit; Bujet: $ 11 juta; Tahun Tayang: 2017; Pemeran: Jeremy Renner (Cory Lambert), Elizabeth Olsen (Jane Banner), Gil Birmingham (Martin Hanson), Graham Greene (Ben), Jon Bernthal (Matt Rayburn), Kelsey Asbille Chow (Natalie Hanson)

Terinspirasi dari peristiwa nyata ihwal maraknya laporan orang hilang dan kekerasan pada perempuan di wilayah penampungan Suku Indian,

Nothing is harder to track than the truth,

Dari Wind River, kabar ratusan hingga ribuan laporan orang hilang tak berpenyelesaian secara laik berembus. Di wilayah penampungan warga asli Amerika itu, perempuan keturunan Suku Indian disebut sering jadi korbannya.

Saat ditemukan, mereka teridentifikasi mengalami kekerasan fisik bahkan seksual, tidak jarang berujung kematian.

Continue reading “Wind River: Drama Pembunuhan dan Derita Peranakan Suku Indian”

Miss Sloane: Laku Lobi yang Tak Kenal Kompromi

Miss Sloane (2016)

Sutradara: John Madden; Penulis Naskah: Jonathan Perera; Genre: Drama; Durasi: 132 menit; Bujet: $13 juta

Pemeran: Elizabeth Sloane (Jessica Chastain), Rodolfo Schmidt (Mark Strong), Esme Manucharian (Gugu Mbatha-Raw), Jane Molloy (Alison Pill), Senator Ron M Sperling (John Lithgow), Forde (Jake Lacy).

Make sure you surprise them and they don’t surprise you

Pernah ada gaduh politik di Indonesia pada pengujung 2015. Ada keterlibatan perusahaan penyedia jasa lobi untuk mengatur pertemuan presiden Jokowi dengan presiden Obama.

Asal kabar datang dari tulisan Dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies, Universitas London, Michael Buehler. Buehler menuliskan artikel di situs new mandala dengan judul waiting in the white house lobby.

Continue reading “Miss Sloane: Laku Lobi yang Tak Kenal Kompromi”

Night Bus: Bus Malam Saksi Konflik dan Derita

Night Bus (2017)

“conflict doesn’t choose its victims”

Sutradara: Emil Heradi; Produser: Teuku Rifnu, Darius Sinathrya; Penulis Naskah: Rahabi Mandra; Genre: Aksi, Thriller; Durasi: 135 menit

Pemeran: Bagudung (Teuku Rifnu), Amang (Yayu Unru), Yuda (Edward Akbar), Mahdi (Alex Abbad), Annisa (Hana Prinantina), Bu Nur (Laksmi Notokusumo), Laila (Keinaya Messi Gusti), Rifat (Arya Saloka), Idrus LSM (Abdurrahman Arif), Luthfy Orang Tua Tuna Netra (Agus Nur Amal/PM Toh), Umar (Torro Margens), Mala (Rahael Ketsia), Suha (Lukman Sardi), Anggota Samerka (Donny Alamsyah), Komandan Pos Jaga (Tio Pakusadewo)

Aneka ngeri hadir di sepanjang perjalanan bus

Pada intro, ingatan kita bakal terseret ke tayangan mula film Harry Potter: gumpalan awan, meski tidak kelam, membetot mata kita selama lima detik lalu dari kepulan awan itu, sorot kamera membidik satu titik di permukaan bumi, mirip aplikasi google earth saat zoom in, yang kemudian menayangkan sebuah terminal bus bernama Rampak.

Tapi tenang, Night Bus bukan film sihir laiknya Harry Potter. Meski begitu, nuansa gelap memenuhi hampir seluruh durasi tayangan. Ini memang film gelap tentang laku (lancung) manusia yang kini masih lestari.

Continue reading “Night Bus: Bus Malam Saksi Konflik dan Derita”

Danur: Berbagi Pengalaman Mistik lewat Karya Sinematik

Danur (2017)

Sutradara: Awi Suryadi; Genre: Horor; Durasi: 78 menit

Pemeran: Risa (Prilly Latuconsina); Riri (Sandrinna Michelle); Asih (Shareefa Daanish); Andri (Indra Brotolaras); Elly (Kinaryosih); Nenek (Inggrid Widjanarko); Risa Kecil (Asha Kenyeri); Ujang (Fuad Idris)

Lirik yang disenandungkan itu, rupanya bertujuan memanggil arwah tiga hantu

Danur, pada dirinya, sudah menyimpan debar: air yang keluar dari bangkai (mayat) yang membusuk.

Sebelum jadi karya sinematik, Danur telah menebar “ngeri” lebih dulu lewat novel garapan Risa Saraswati, Gerbang Dialog Danur.

Inilah fiksi misteri yang diadaptasi dari pengalaman pribadi Risa, seorang perempuan indigo, yang diberkati kemampuan melihat hantu, bahkan menjalin pertemanan dengannya.

Continue reading “Danur: Berbagi Pengalaman Mistik lewat Karya Sinematik”

Fabricated City: Merancang Kematian, Mereka Tuduhan

Fabricated City/Jojakdwen Doshi (2017)

Sutradara: Park Kwang-Hyun; Penulis Naskah: Park Kwang-Hyun, Oh Sang-Ho; Genre: Aksi, Thriller; Durasi: 126 menit

Pemeran: Kwon Yoo (Ji Chang Wook), Yeo Wool (Shim Eun Kyung), Min Cheon-Sang (Oh Jung Se), Ma Deok-Soo (Kim Sang Ho), Demolition (Ahn Jae Hong)

Serangkaian pembunuhan terjadi karena rekayasa si maniak ini. Siapa si maniak pembunuhan ini?

Seteru itu bergerumut, mereka kian beringsut maju. Todongan aneka senjata api seakan tegas membidik satu kelompok kecil. Sedikit saja anggota badan terlihat, desingan peluru tak terelakkan.

Tapi si target engah. Anggota kelompok kecil itu siap memuntahkan peluru ke arah kelimun orang bersenjata. Dan benar, tretetetet!!!, baku tembak terjadi. Kelompok kecil dengan jumlah sekitar tujuh orang ini lebih tangkas membidik lawan.

Mereka intens berkomunikasi lewat semacam mikrofon yang menempel di sekitar telinga: saling jaga, saling serang.

Continue reading “Fabricated City: Merancang Kematian, Mereka Tuduhan”

The Invitation: Menjagal, Melepas Agonia

-wallpaper_14558645753
sumber gambar

Will (Logan Marshall-Green) seperti berimaji di balik kemudi mobilnya meskipun sang kekasih, Kira (Emayatzy Corinealdi) ada di sisinya. Brak!!! tetiba ada tumbukan keras di muka luar mobil Will. Seekor anjing hutan tertabrak, sekarat. Seketika itu, Will memungut kunci inggris di bagasi mobil dan memukul hingga tewas anjing malang yang tengah sangat menderita, agonia. Keduanya pun meneruskan laju kendaraan menuju kediaman rekannya di kawasan Hollywood Hills untuk merayakan suatu reuni bersama teman lama.

Tibalah mereka di sebuah rumah megah yang dulu dihuni Will. Ya, Will dan pemilik rumah, Eden (Tammy Blanchard), pernah hidup bersama dan memiliki putra di rumah itu. Tapi kini, Eden telah berpisah dengan Will dan memilih melanjutkan hidup bersama pasangan baru, David (Michiel Huisman). Di dalam rumah, sejumlah teman lama Will telah berkumpul. Mereka menyambut Will dengan antusias tapi Will lagi-lagi berimaji seturut dengan tatapannya ke pelbagai sisi dalam rumah itu. Satu per satu ingatan masa lalu bermunculan.

David dan Eden tidak ketinggalan menyambut Will dan Kira yang baru tiba. Selaku tuan rumah yang baik, David menawarkan anggur mahal kepada tetamu untuk disesap. Mereka semua bungah kecuali Will. Perjumpaannya dengan Eden, sang mantan istri, kian menyuburkan memori di kepalanya. Gambaran tawa dan laku gembira bersama Eden terus meriap. Imaji itu makin lengkap seiring dengan kenangan yang muncul bersama putra Will-Eden, Ty. Ketiganya hidup bahagia hingga sebuah peristiwa terjadi.

the-invitation-soundtrack_BlogPost_600x300
sumber gambar

Laku Janggal Tuan Rumah

Tapi, imaji Will teralihkan lantaran laku janggal David dan Eden. Mulai dari semua jendela rumah yang kini telah berterali besi, kehadiran perempuan dan lelaki misterius, Sadie (Lindsay Burdge) dan Pruitt (John Carroll Lynch), hingga gelagat David yang risi dan mengunci pintu rumah seolah tidak ada seorang pun yang berada di dalam bisa keluar. David mengonfirmasi semua pandangan akan kejanggalan yang dilihat Will dan mengamini pinta Will agar kunci tergantung di pintu.

Kecurigaan Will semakin menjadi saat ia melihat Eden menelan sebuah pil yang dikonfirmasi kemudian oleh Will kepada rekannya, sebagai obat penenang. Ini janggal lantaran Eden mengaku kepada Will sudah hidup tenang pasca peristiwa yang menimpa anaknya, Ty. Dua tahun menghilang, rupanya Eden pergi ke Mexico dan menjalani ritual penenang diri dan hati. Di sana Eden bertemu dengan David, Sadie dan Pruitt. Dua tahun menyepi inilah yang kemudian memicu Eden untuk mengundang teman lamanya guna merayakan reuni.

Merasa berhasil dengan ritual yang dijalani, David mempromosikan “perguruannya” yang bernama The Invitation kepada tetamunya. Mereka yang menyaksikan video ritual yang diputar David, tercenung. Para tetamu terkesiap dengan rekaman perempuan yang tengah sekarat dan mengembuskan napas terakhir. Engah video itu menimbulkan kengerian, David mengajak tetamu bermain games. Di sinilah, Will kembali mendapati kejanggalan: Claire (Marieh Delfino), rekannya, yang memutuskan untuk pulang, seperti ditahan David. Will menyergah dan Claire bisa keluar rumah.

Teman-teman Will rupanya tidak merasakan kegelisahan seperti yang dirasakan Will. Will dianggap masih menyesali masa lalunya bersama Eden dan anaknya Ty. Meski begitu, Will tetap awas pada tiap laku tuan rumah dan orang-orang misterius. Puncaknya, Will beroleh pesan suara di ponselnya dari salah satu rekannya, Choi (Karl Yune), yang sudah berada di depan pintu rumah Eden sebelum Will datang. Tapi batang hidung Choi tidak ada. Kondisi ini memaksa Will mempertanyakan keberadaan Choi kepada David-Eden. Keduanya menjawab tidak sesuai harapan Will, tapi tetamu lain tetap menganggap Will seperti menderita kegelisahan yang akut, penderitaan yang amat-sangat, agonia.

Rupanya anggapan tetamu benar. Choi tetiba muncul dari luar dan menjelaskan dirinya kembali ke kantor sebelum mengetuk pintu rumah Eden. Ia baru datang dan mendapati suasana tegang di meja makan. Will menyesali prasangka buruknya kepada tuan rumah dan memilih untuk menenangkan diri di luar. Tapi lagi-lagi, kecurigaan itu kembali muncul saat Will melihat David menyalakan lentera merah dan menggantungnya di pohon. Will menganggap ada pertanda buruk dari penyalaan lentera itu. David menyalakannya dengan gelagat risi.

untitled_1-174-1
sumber gambar

Komen Film

Sejak mula, film garapan Karyn Kusama ini secara jelas menempatkan aneka jejak yang mengarahkan penontonnya pada muara akhir plot. Misalnya, tentang peristiwa sadis yang bakal terjadi hingga para pelakunya. Tapi, penonton seolah dibiarkan menerka-nerka hal itu hingga 2/3 durasi film. Konfirmasi atas tebakan cerita para penonton baru muncul di 1/3 akhir durasi film. Meski begitu, ketegangan tetap muncul perihal siapa yang bakal jadi penyintas. The Invitation jelas masuk kategori thriller lantaran penonton sudah bisa menebak aktor teror sejak mula. Bisa masuk suspense bila penonton ragu-ragu menebak pelaku teror.

Tidak ada yang menarik dari dialog yang bertebaran sepanjang film. Tapi aneka informasi yang dikisahkan satu per satu, seperti dicicil, membuat penonton beroleh informasi baru dari waktu ke waktu. Kendati sebagian besar latar film hanya di bagian dalam sebuah rumah dengan sajian obrolan yang biasa saja, aneka kejutan yang dihadirkan pada tiap fragmen cukup untuk menahan keluhan itu. Bahkan di ujung cerita, penonton kembali beroleh kejutan ihwal aksi horor di Hollywood Hills.

The Invitation adalah cerita masa lalu Will-Eden dan putranya, Ty. Tema pemujaan kemudian menjadi perekat cerita thriller ini. “Perguruan” The Invitation dijadikan penyebab dari serangkaian aksi horor yang tersaji di film ini. Alur pengisahan mudah ditebak tapi nuansa tegang tetap terasa pada tiap fragmen. Inilah film sederhana dengan ritme ketegangan yang terus terjaga hingga pengujung. Catat! Tegang hingga akhir. Hehe (asw)

—–

The Invitation (2015)

Sutradara: Karyn Kusama; Penulis Naskah: Phil Hay, Matt Manfredi; Genre: Thriller; Durasi: 100 menit

Pemeran: Will (Logan Marshall-Green), Kira (Emayatzy Corinealdi), David (Michiel Huisman), Gina (Michelle Krusiec), Tommy (Mike Doyle), Miguel (Jordi Vilasuso), Ben (Jay Larson), Claire (Marieh Delfino), Eden (Tammy Blanchard), Sadie (Lindsay Burdge), Pruitt (John Carroll Lynch), Dr. Joseph (Toby Huss), Choi (Karl Yune)

Hidden Figures: Di Balik Pesona Program Antariksa Amerika

ibm-hidden-figures-social-2
sumber gambar

Every time we get a chance to get ahead, they move the finish line, EVERY TIME!

Perempuan itu bertubuh mini, seturut dengan usianya: 12 tahun. Di usia itu, ia sudah duduk di bangku kuliah West Virginia University. Tidak tanggung-tanggung, mahasiswi mini berkulit gelap ini menggeluti bidang matematika. Teman kuliah dan para dosen di kampus itu pun dibuat termangu. Ia kerjakan soal rumit matematika dalam sekejap. Di hadapan kelas, ia wedar penjelasan deret angka matematis yang ia tulis. Orang sekelas pasti tercenung.

Nama perempuan itu Katherine (Taraji P. Henson). Di tubuhnya yang telah dewasa, bersama dua teman sejawatnya: Dorothy (Octavia Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Monae), mereka bertiga bekerja di badan antariksa nasional negeri Paman Sam: NASA. Ketiganya, bersama dengan puluhan perempuan Afro-Amerika lain, menempati sisi Barat Divisi Komputasi di Pusat Penelitian Langley, Hampton, Virginia. Mereka bekerja di NASA karena kepiawaiannya di bidang matematika.

Sebenarnya, “Sisi Barat” bukan loka yang sengaja dibuat karena alasan pembagian fungsi kerja. Fungsi Komputasi juga ada di “Sisi Timur”. Ini salah satu rupa segregasi rasial yang melanda negeri Paman Sam pada 1960-an. Katherine dkk yang berkulit gelap keturunan Afro-Amerika, kendatipun bekerja di lembaga bonafide, tetap mendapat perlakuan diskriminatif dalam laku kesehariannya. Pemisahan ruang kerja berdasarkan warna kulit hanya salah satu.

Mitchell (Kirsten Dunst), perempuan kulit putih, menyorong aneka surat kepada Dorothy. Isinya seputar pembagian tugas komputasi. Mary kebagian tugas menjadi teknisi untuk membesut perisai anti panas pada kapsul antariksa. Katherine ditugasi membantu sebuah tim elite yang menjadi ujung tombak program penerbangan antariksa negeri Paman Sam. Ia menjadi wanita Afro-Amerika pertama yang bertugas di sana. Tim ini dikepalai Al Harrison (Kevin Costner) yang telah memecat 12 belas pakar komputasi. Katherine orang yang ke-13.

hf-gallery-03-gallery-image
sumber gambar

Mereka Kena Aneka Diskriminasi

Dorothy sendiri masih mengharapkan legalitasnya sebagai Penyelia Program Antariksa. Sebenarnya, fungsi penyeliaan sudah dan tengah ia jalankan dengan baik. Tapi tanpa legalitas jabatan itu, daya kerjanya tetap tidak maksimal. Surat usulannya telah dilayangkan. Tapi sudah lama juga surat itu tak berbalas. Bahkan Dorothy tidak pernah dapat informasi baru seputar program antariksa sebagaimana penyelia lain peroleh untuk dilakukan pengawasan atas program tersebut.

Salah satunya, program Komputer Elektronik IBM. Mesin ini digadang-gadang mampu melakukan fungsi komputasi secara cepat dan akurat tinimbang yang dilakukan manusia. Tapi sayang, karena fungsi penyeliaan yang tak maksimal, mesin ini mati, tak dapat digunakan. Insan IBM pun tidak dapat memfungsikan mesin dengan harga selangit itu. Kondisi ini sempat membuat berang Al Harrison dengan mengancam untuk tidak memberikan gaji para insan IBM hingga mesin IBM itu hidup dan berfungsi maksimal.

Dorothy engah, teknologi seperti pedang bermata dua: punya lebih banyak manfaat tapi juga berpotensi menggantikan tugas manusia. Kehadiran mesin IBM jelas mengancam eksistensi divisi komputasi, terutama mereka yang bekerja di “Sisi Barat”. Enggan lengah, Dorothy mulai mempelajari teknologi mesin IBM dari sebuah buku mengenai FORTRAN meskipun harus melalui perilaku diskriminatif dari seorang petugas kulit putih penjaga bibliotek yang mengusir Dorothy karena memasuki bibliotek untuk warga kulit putih.

Kondisi serupa juga dialami Katherine. Di ruang “pasukan elite” yang beranggotakan para ilmuwan cerdas, Katherine kebagian tugas memeriksa hitungan rumus matematis yang sebagian datanya “digelapkan” sehingga Katherine kesulitan menangkap keseluruhan konsep matematis itu. Selain itu, ia juga tidak bisa mengakses toilet terdekat karena hanya diperuntukkan bagi pegawai berkulit putih. Untuk ke toilet, Katherine harus menuju gedung “Sisi Barat” yang berjarak 800 meter dari gedung “pasukan elite”.

Bayangkan Katherine yang harus lari tunggang-langgang sambil mengapit tumpukan berkas di lengannya, dan tidak jarang kena hujan, untuk sekadar ke toilet. Kemudian, dengan tergopoh, ia harus lari kembali ke ruang “pasukan elite” dan tiba dengan napas mengap-mengap. Belum lagi, Al Harrison yang mendadak membentaknya karena sering tidak ada di tempat. Sontak, Katherine pun langsung menumpahkan isi hatinya di hadapan banyak orang dan Al Harrison soal laku diskriminatif yang ia alami. Al Harrison engah, semua toilet bisa diakses oleh siapapun dengan warna kulit apapun: “karena warna urin kita semua sama.”

Bagaimana dengan Mary? Setali tiga uang, Mary sulit mewujudkan minatnya menjadi seorang teknisi NASA. Kemampuan yang mumpuni tidak begitu saja memuluskan minatnya. Bahkan ketika ia berhasil menawarkan solusi atas perisai anti panas pada kapsul antariksa, upayanya tetap rompal. Mitchell mengabarkan, untuk menjadi seorang teknisi, diperlukan satu dokumen pelatihan dari perguruan tinggi yang hanya bisa diakses warga kulit putih. Every time we get a chance to get ahead, they move the finish line, EVERY TIME!

Tapi Mary tidak putus asa. Kendatipun suaminya, Levi Jackson (Aldis Hodge), menahannya untuk tidak membuang waktu mengupayakan hal yang tak mungkin, Mary tetap berupaya. Ia ajukan permintaan untuk bisa mengakses perguruan tinggi bagi warga kulit putih ke pengadilan. Ia meyakinkan sang hakim bahwa keputusan hakim, kali ini, sangat penting karena berpengaruh terhadap masa depan program antariksa negeri Paman Sam.

hidden-figures-HF-228_rgb-e1483623580966
sumber gambar

Komen Film

Apakah upaya Mary berhasil memuluskan langkahnya menjadi teknisi NASA? Apakah Dorothy akhirnya memperoleh legalitas sebagai seorang Penyelia Program Antariksa NASA? Apakah Katherine berhasil memukau Al Harrison dan rekan sejawatnya dengan hitungan matematis untuk upaya peluncuran roket berawak ke antariksa dan memulangkan kembali sang astronot ke bumi? Semua pertanyaan itu seperti telah beroleh jawab di kepala. Film ini jelas mudah ditebak muaranya. Karena diadaptasi dari peristiwa nyata, tentu saja catatan sejarah mengenai persaingan menuju antariksa (space race) antara negeri Paman Sam dan Uni Soviet mudah dilacak.

Tapi film ini tentu saja bukan semata soal plot. Ada tema universal mengenai laku diskriminatif yang tidak disadari masih terasa di aktivitas keseharian. Tentu saja laku itu berwujud dalam bentuk yang lain, tapi yang pasti diskriminasi punya potensi menghambat kemajuan. Meski begitu, film ini juga berusaha menyampaikan pesan bahwa di tengah laku “pembedaan”, seseorang pantang tunduk pada keadaan dan pasrah. Aneka upaya harus terus dilakukan kendati tembok penghalangnya terlampau danawa.

Ini film tentang para penyintas laku diskriminatif. Film ini juga berkisah seputar para perempuan tangguh yang berani menghadapi diskriminasi dengan cara yang kadang penuh canda-tawa. Bagi mereka yang suka dengan inspirasi, Hidden Figures merupakan sinema yang pas buat dinikmati. Bagi para perempuan, trio Katherine, Dorothy dan Mary siap melekat di benak Anda menjadi pengawal asa atas tiap upaya di tengah keputusasaan Anda. Hehe (asw)

—–

Hidden Figures (2016)

Sutradara: Theodore Melfi; Penulis Naskah: Allison Schroeder, Theodore Melfi; Genre: Biografi; Durasi: 127 menit; Bujet: $25 juta

Pemeran: Katherine (Taraji P. Henson), Dorothy (Octavia Spencer), Mary Jackson (Janelle Monae), Al Harrison (Kevin Costner), Mitchell (Kirsten Dunst), Paul Stafford (Jim Parsons), Kolonel Jim Johnson (Mahershala Ali), Levi Jackson (Aldis Hodge)

Diadaptasi dari buku non-fiksi karya Margot Lee Shetterly dengan judul serupa: Hidden Figures