The Nutcrakcer and the Four Realms: Di Alam Fantasi, Clara Stahlbaum Menemukan Jati Diri

Dan konflik cerita sebatas perebutan kepemilikan kunci yang dapat menguak jati diri Clara dan mampu memberikan “nyawa”

Film fantasi banyak menyinggung tema kekeluargaan. Termasuk produk sinematik teranyar garapan Walt Disney Pictures: The Nutcracker and the Four Realms.

Alih-alih berfokus pada peran TheNutcracker si prajurit, film fantasi ini lebih banyak menyoroti kisah Clara Stahlbaum (Mackenzie Foy) dan upayanya menemukan identitas diri.

Sejak kematian ibunya, Marie Stahlbaum (Anna Madeley), yang entah karena apa, mungkin sakit, Clara lebih senang menjalani hidup di kamar atap dan menjauhi hiruk-pikuk.

Ia kelihatan asyik menguji-coba “mainan” mekanikanya laiknya Domino Effect Game dan menikmati tiap detailnya.

Mungkin dengan cara itu, ia bisa sejenak membebaskan pikiran dari kenangan bersama mendiang ibunya. Tetapi kenangan rupanya tetap melekat.

Buktinya ia memprotes cara ayahnya, Tuan Stahlbaum (Matthew Macfadyen), menghias pohon natal. Ia menilai itu bukan cara yang biasa dilakukan ibunya.

Ia meradang hingga akhirnya kembali tenang setelah ayahnya memberikan hadiah natal yang dikatakannya sebagai pemberian terakhir ibunya.

Kakaknya kebagian gaun yang anggun. Adiknya dapat mainan kesukaan. Sedangkan Clara memperoleh benda seperti telur yang diyakini ada hal istimewa di dalamnya.

Hal itu diperkuat dengan sepucuk kertas bertulisan tangan mendiang ibunya: Everything you need is inside. Namun Clara mustahil mengetahui isi benda mirip telur itu.

Benda itu terkunci dan satu-satunya petunjuk hanyalah ukiran bertulisan “Drosselmeyer”. Dialah ayah baptis Clara yang diperankan Morgan Freeman.

Malam natal yang seharusnya diliputi nuansa suka cita, kali ini, sama sekali tidak dirasakan oleh Clara. Ia gelisah mencari kunci untuk membuka benda serupa telur itu.

Dan Drosselmeyer menunjukkan jalan sekaligus kesempatan bagi Clara untuk berpetualang ke alam fantasi. Perjalanan yang dilakukannya dengan meninggalkan perasaan gelisah di hati ayahnya.

Seketika, sesaat setelah menyusuri salah satu koridor di kediaman megah milik Drosselmeyer, Clara berada di dunia lain.

Ia menemukan kunci itu tergantung di batang pohon. Namun belum juga tergapai, kunci itu kena “rampok”.

Di tengah pengejaran “perampok”, ia berkenalan dengan The Nutcracker, Kapten Philip (Jayden Fowora-Knight), kena kejaran tikus raksasa yang menjijikan, dan “mampir” di Alam Hiburan (Land of Amusements) yang dikuasai Mother Ginger (Helen Mirren).

Untung ada Kapten Philip yang menyelamatkannya dari bahaya dan langsung membawanya ke sebuah kastil.

Rupanya itu tempat tinggal mendiang ibunya. Di sana ia bertemu dengan tiga pemimpin alam.

Ada Pemimpin Alam Gula-Gula (Land of Sweets), Sugar Plum (Keira Knightly); Bupati Alam Salju (Land of Snowflakes), Shiver (Richard E. Grant); dan Penguasa Alam Bunga (Land of Flowers), Hawthorne (Eugenio Derbez).

Dan diajaklah Clara berkeliling ke tiga alam itu sembari diingatkan untuk jangan pernah menginjakkan kaki di Alam Hiburan.

Tetapi sayang eksplorasi khayali di tiga alam fantasi itu kurang memuaskan.

Dari 99 menit durasi film, hanya sekitar 10 menit kita diajak melihat-lihat tiga alam itu. Yang sebenarnya hampir tidak ada hal istimewa di dalamnya.

Alam hiburan yang dikuasai Mother Ginger, malah, ternyata hanya sejenis taman bermain dengan tenda sirkus yang menjadi istananya. Di mana fantasinya?

Padahal kita berharap, pada film fantasi, setidaknya suatu keadaan, tempat, dan karakter yang khayali, jauh dari gambaran riil yang sehari-hari terlihat di dunia.

Tetapi sudahlah, kita nikmati dulu hutan, lahan bersalju dan beberapa situasi serta makhluk modifikasi yang sesungguhnya wujud aslinya tidak jauh berbeda dengan yang ada di bumi.

Agaknya, film ini memang hanya mau menceritakan upaya Clara mencari jati dirinya. Dan betul, perubahan karakter terjadi.

Clara, yang secara mendadak, suka dengan kesendirian dan tidak memedulikan orang di sekelilingnya, termasuk perasaan ayahnya, setelah kematian ibunya, tetiba punya kepedulian besar kepada sekeliling.

Ia peduli akan nasib empat alam fantasi peninggalan mendiang ibunya itu.

Dan konflik cerita sebatas perebutan kepemilikan kunci yang dapat menguak jati diri Clara dan mampu memberikan “nyawa”.

Kita tentu tahu akhir ceritanya akan seperti apa. Apalagi latar waktu adalah malam perayaan natal: malam penuh suka cita.

Dan ya, pada kata “natal” ini kita dibikin bingung dengan dialog para pemerannya.

Penguasa alam sama sekali tidak mengenal apa itu perayaan natal tetapi mereka menyebut dua atau tiga kali hutan pohon natal (Christmas Tree Forest).

Lagi-lagi, tekanan cerita seperti mengarahkan pada pencarian identitas protagonis kita, Clara Stahlbaum, alih-alih tentang The Nutcracker dan empat alam fantasi.

Ditambah lagi, ritme (pace) cerita berjalan pelan sekali. Seperti mau mengeksplorasi dialog, menguatkan nuansa, dan mendramatisasi keadaan.

Efeknya, muncul sejumlah celah pada dialog, jalan cerita, dan pengembangan konflik.

Tetapi untuk tujuan memanjakan mata penikmatnya, film arahan Lasse Hallstrom dan Joe Johnston cukup memuaskan.

Untuk konflik pencarian jati diri Clara juga punya resolusi yang indah.

The Nutcrakcer and the Four Realms seperti cuma menjadikan The Nutcracker dan empat alam fantasi sebagai bumbu pemanis cerita. Hidangan utamanya, sebenarnya, ada pada pencarian identitas diri Clara.

Bukankan seharusnya terbalik? Film fantasi mengeksplorasi keadaan khayali dengan balutan konflik pada karakter, tema atau jalan ceritanya. Ah nikmati saja sajian visualnya, hehe. (asw)

—–

The Nutcrakcer and The Four Realms (2018)

Sutradara: Lasse Hallstrom, Joe Johnston; Penulis Skenario: Ashleigh Powell; Produser: Mark Gordon, Larry Franco; Genre: Fantasi/Petualangan; Durasi: 99 Menit; Perusahaan Produksi: Walt Disney Pictures, The Mark Gordon Company; Bujet Film: $ 133 Juta; Tanggal Edar: 2 November 2018; Batas Usia Penonton: Semua Umur; Ide Cerita: Berdasarkan cerita pendek berjudul The Nutcracker and the Mouse King (1816) karangan E. T. A Hoffmann

Pemeran: Clara Stahlbaum (Mackenzie Foy), Kapten Philip (Jayden Fowora-Knight), Sugar Plum (Keira Knightly), Hawthorne (Eugenio Derbez), Tuan Stahlbaum (Matthew Macfadyen), Shiver (Richard E. Grant), Mother Ginger (Helen Mirren), Drosselmeyer (Morgan Freeman), Marie Stahlbaum (Anna Madeley)

sumber data film: IMDB

sumber gambar: GeekTyrant

untuk bacaan lebih lanjut mengenai film ini, silakan klik di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s