Film 5PM: Cerita Sederhana di Balik Terpautnya Hati Lima Pemuda dengan Masjid

Kesederhanaan itu punya misi mulia agar film mudah dicerna sekaligus menyimpan risiko film jadi kurang istimewa

5PM, dengan kepanjangan Penjuru Masjid (PM) ataupun Pemuda Masjid (PM), sungguh film yang sederhana hampir di semua aspek.

Latarnya, acting pemerannya, dialognya, sound serta sinematografinya tidak menampakkan keisitimewaan kecuali tekanannya yang konsisten pada tema kembali ke masjid.

Terkait dengan masjid, mungkin kita akan membandingkan film 5PM ini dengan seri Para Pencari Tuhan yang diputar saban sore di bulan puasa.

Film yang hampir memasuki jilid ke-12 ini mengusung tema hijrahnya tiga pemuda ke kehidupan masjid.

Boleh dibilang kedua film itu punya kesamaan tema namun beda gaya.

Di saat seri Para Pencari Tuhan menguarkan banyak dialog filosofis dan relijius dari para pemerannya, film 5PM tetap konsisten dengan dialog keseharian yang sederhana.

Di kala film garapan Deddy Mizwar mengusung komedi reliji dengan acting para tokohnya yang tampak mendalami perannya masing-masing, film besutan Humar Hadi tampil dengan para pemain baru di industri perfilman yang boleh dikatakan kurang menyelami acting-nya.

Tapi sekali lagi, film 5PM memang sejak awal berangkat dari kesederhanaan cerita dan dialog agar tema keterpautan hati dengan masjid bisa mudah dipahami penonton.

Sebuah misi mulia agar film mudah dicerna sekaligus menyimpan risiko film jadi kurang istimewa.

Konsistensi pada tema kesederhanaan itu tampak sejak awal tayangan.

Kita tetiba disuguhkan dengan latar sebuah permukiman khas wilayah pinggiran ibukota dengan aneka jalan kecil alias gang yang sempit dan deretan rumah yang saling bertumpuk.

Pada latar itu, adegan kejar-kejaran warga dengan maling kotak amal terjadi.

Tentu saja ada celoteh soal bakar si maling dan aksi main hakim sendiri yang dilakukan warga terhadap si maling.

Dan pasti ada penengah atas laku main hakim sendiri tersebut.

Merekalah para pemuda masjid jagoan kita.

Alih-alih dikriminalisasi, si maling malah kena hukuman kerja sosial jadi marbot masjid selama 40 hari.

Di sinilah tokoh kita, Bewok (M. Taufik Akbar), si maling kotak amal, secara perlahan mengorek latar belakang para pemuda masjid.

Bewok, anak baru masjid yang tampak polos sambil sesekali bikin kocak, adalah bintang utama di film ini. Dialah benang merah cerita.

Kita tidak perlu alasan kuat tentang mengapa, secara ujug-ujug, Bewok menanyakan kisah hijrahnya Lukman (Ahmad Syarief) hingga ia rajin datang ke masjid?

Namun yang pasti, alur cerita akan menggiring kita ke masa lalu Lukman sebagai pelaku bisnis penatu.

Jangan juga terlalu berharap akan adanya cerita detail mengenai hubungan Lukman dengan ibunya.

Biarkan intuisi kita bekerja, bahwa, ya, si Lukman sibuk mengurusi bisnisnya sehingga ia mengabaikan kewajibannya mengunjungi rumah ibunya hingga kabar duka tetiba datang dari kediaman ibunya itu.

Dan ini yang bikin alur cerita tidak mengalir gangsar.

Tersebab suntingan film yang kurang sempurna, kita tetiba langsung diajak memasuki cerita masa lalu pemuda masjid lain, Abian (Zikri Daulay), Usman (Zaky Ahmad Rivai), dan Budi (Aditya Surya Pratama), tanpa prolog seperti saat Bewok bincang-bincang dengan Lukman di serambi masjid.

Kita juga jangan banyak tanya perihal konflik batin di masa lalu ketiga pemuda itu hingga akhirnya mereka memilih masjid sebagai tempat beribadah dan berkegiatan sosial.

Biarkan cerita Budi si pemburu beasiswa, Abian si musisi yang sepi order, dan Usman karyawan dengan banyak cicilan kredit yang tak kunjung kelar mampir di benak kita.

Jangan juga dihiraukan konflik baru yang mendadak muncul menjelang pengujung cerita. Ya, Arde (Alfie Affandi), pemuda yang terlihat ikut memukuli si maling kotak amal, Bewok, tetiba saja hadir dengan kekacauan yang dibuatnya.

Dan sim salabim, kekacauan itu tiba-tiba reda dan berakhir pada sesi curhat Arde dengan para pemuda masjid yang baru saja ia kenal.

Kita kembali menyaksikan masa lalu seorang pemuda bernama Arde di sebuah kota kecil di Provinsi Aceh.

Kita kembali disuguhkan dengan konflik sederhana, melekat di keseharian kita, tentang bagaimana beberapa bocah yang sering bikin gaduh di masjid kena usir seorang jamaah masjid.

Adegan ini sangat kuat karena kita sering melihatnya di kehidupan sehari-hari.

Lagi-lagi, biarkan saja cerita tetiba mengantarkan kita ke Banda Aceh dengan beberapa pemuda masjid yang mengantarkan Arde pulang ke rumah.

Jangan juga jadi pikiran tentang siapa-siapa saja sebenarnya yang laik menjadi anggota 5PM karena kita tidak mendapati Bewok di sana.

Selain Budi, Abian, Usman, dan Lukman, ternyata pemuda kelima adalah Gani, bendahara Masjid Al Kautsar yang durasi penampilannya lebih sedikit dibandingkan dengan Bewok.

Mungkin akan lebih asyik bila judul film menjadi 7PM agar lebih adil, apalagi cerita mereka sudah tergambar di dalam film.

Mengingat tanggal edar film yang masih relatif lama yakni 17 Mei 2018, masih ada waktu bagi penciptanya untuk menyunting hasil shooting agar peralihan cerita dan pembabakan adegan lebih halus lagi.

Biarkan film ini memiliki dialog, latar, acting dan cerita yang sederhana.

Pertahankan juga aksi para cameo yang malah lebih kocak ketimbang aksi dan dialog para pemuda masjid, kecuali Usman yang memang sudah lucu sejak awal kehadirannya.

Semoga dengan kesederhanaan itu, pesan agar hati kita kembali terpaut dengan masjid dapat tercapai. Apalagi pesan itu disampaikan dengan tidak menggurui, tapi lewat komedi. Semoga!

—–

5PM (2018)

Sutradara: Humar Hadi; Penulis Skenario: Humar Hadi; Produser: Izharul Haq; Genre: Drama; Kode Rating: Semua Umur; Durasi: 100 Menit; Perusahaan Produksi: Bedasinema Pictures; Tanggal Edar: 17 Mei 2018 

Pemeran: Bewok (M. Taufik Akbar), Budi (Aditya Surya Pratama), Abian (Zikri Daulay), Usman (Zaky Ahmad Rivai), Lukman (Ahmad Syarief), Gani (Faisal Azhar Harahap), Arde (Alfie Affandi), Mey (Ressa Rere)

sumber data film: filmindonesia.or.id

sumber gambar: koleksi pribadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s