A Quiet Place: Saat Minim Bunyi Jadi Kunci Bertahan Hidup

Menyaksikan film ini, kita bisa mendapatkan dua rasa sekaligus: adrenalin yang melompat-lompat dan inspirasi tentang bagaimana bangunan kekeluargaan dikelola

Bagaimana bisa sebuah film dengan sedikit dialog, minim karakter, plus nuansa yang sunyi-sepi bisa bikin bulu tengkuk kita berdiri? Sutradara John Krasinski ternyata mampu menciptakan suasana ngeri dengan “keterbatasan”, yang mungkin saja, disengaja itu.

Sebermula ia perlihatkan kondisi kota yang berantakan. Jalanan sepi dari jejak kaki orang dan hewan, kecuali dedaunan kering yang berserakan. Aneka bangunan tampak terbengkalai karena ditinggal penghuninya yang kabur atau raib entah ke mana.

Itu terlihat dari aneka koran beserta informasinya yang tergeletak begitu saja dan potongan foto penanda orang hilang di sebuah dinding toko. Dari penggambaran itu, kita kemudian sadar, ada yang tidak beres di sana.

Lima tokoh kita kemudian masuk bingkai film dan nyaris tidak melakukan dialog lisan sedikitpun. Jalinan komunikasi antar mereka dilakukan lewat bahasa isyarat dan bisikan. Bahkan semua tokoh kita jalan bersijingkat seperti ketakutan langkahnya didengar orang.

Dari sini, kita sudah berkenalan dengan latar film yang dilanda “kiamat” di hari ke-89 tahun 2020. Kita juga tahu kelima tokoh kita, yang tampak seperti satu keluarga, adalah para penyintas alias orang-orang yang bertahan hidup pascakiamat.

Kiamat karena apa? Aksi bocah kecil bernama Beau Abbott (Cade Woodward) menjawab sebabnya. Sesaat setelah ia menyalakan roket mainannya yang menimbulkan bunyi, seketika itu juga muncul makhluk besar seperti monster yang menarik tubuh anak imut itu.

Cerita survival keluarga itu pun dimulai dengan kehilangan satu anggota keluarga karena bunyi.

Ya, bunyi sekecil apapun yang muncul bisa mengundang monster pembunuh. Kita seketika mempertanyakan logika bunyi itu setelah terdengar desik daun di pepohonan dan bunyi kepakan burung di udara yang sama sekali tidak kena usik monster.

Tapi tenang, John Krasinski sudah menyimpan jawabannya di tengah laga.

Sebagian bunyi-bunyian alam rupanya jadi pengecualian bagi kehadiran monster pembunuh. Seperti saat Lee Abbott (John Krasinski), si ayah, dan anaknya, Marcus Abbott (Noah Jupe) berteriak-teriak di bawah guyuran air terjun yang menderu.

Selamatlah John Krasinski dari petaka logika cerita.

Krasinski Membangun Kecemasan dan Kengerian

Bagaimana kemudian si sutradara membangun kengerian? Kita benar-benar diajak masuk oleh suami Emily Blunt ini ke dalam cerita film. Ya, sepasang suami-istri itu memang ikut bermain peran dalam film. Emily Blunt berperan sebagai Evelyn.

Keduanya bersama sisa dua anaknya menjadi tokoh yang bikin kita ikut-ikutan gelisah dan cemas. Seperti waktu Marcus bikin kesalahan yang menimbulkan bunyi saat tengah bermain dengan saudarinya Regan Abbott (Millicent Simmonds).

Kegelisahan itu muncul karena si sutradara berhasil membangun ikatan kuat tali kekeluargaan. Setiap kita tentu punya keluarga, sehingga menyimak film ini seperti melihat diri sendiri beserta anggota keluarga kita sedang berada pada situasi yang disajikan film.

Belum lagi konflik kecil antar anggota keluarga yang turut membumbui ikatan hangat kekeluargaan itu. Ditambah lagi, si ibu tengah hamil tua dan semua anggota keluarga bersiap menerima kedatangan seorang bayi.

Ya, kehadiran bayi yang suka rewel dan menangis di tengah kepungan monster pemburu suara. Makin pecah konflik yang tersaji dalam film. Tapi lagi-lagi, John Krasinski tidak konyol menghadirkan konflik tersebut.

Lihat bagaimana tokoh suami-istri kita mendesain tempat tidur bayi dari peti disertai perangkat oksigen. Mereka juga telah menyiapkan ruang bawah tanah yang kedap suara. Tapi tentu itu semua belum cukup menghentikan ketegangan kita.

Justru semua perlengkapan itu malah jadi instrumen pencipta horor yang efektif. Bayangkan saja di ruang serba sempit itu, tempat bayi tidur nyenyak, muncul monster pembunuh. Beruntung logika bunyi yang jadi pakem cerita menyelamatkan ibu dan anak itu.

Tetapi yang menarik ditunggu justru apakah keutuhan anggota keluarga itu tetap terpelihara hingga akhir cerita? Bagaimana juga kemudian mereka bisa menangani ancaman monster pemburu bunyi yang mengepung kota, bahkan mungkin dunia?

A Quiet Place sepertinya tidak mempedulikan plotdengan aneka kelokan ceritanya. Kita cukup disuguhi situasi semacam Dead or Alive (DoA) sekaligus menanti-nanti kelanjutan nasib para tokoh kita.

Tapi adegan penyusun cerita DoA ini tidak habis-habis muncul di hadapan kita. Kita hanya bisa beristirahat kurang dari dua menit sebelum kemunculan kembali adegan ngeri lainnya.

Dan tentu saja, kita tidak seperti sedang dibodohi. Sebab logika cerita sudah selesai dibangun secara kokoh.

Malah menyaksikan film ini, kita bisa mendapatkan dua rasa sekaligus: selain adrenalin yang melompat-lompat, film ini juga memberikan inspirasi tentang bagaimana bangunan kekeluargaan dikelola.

Kita bisa melihat sikap Regan yang merasa bersalah atas kematian adiknya. Kita juga bisa menyimak betapa Lee, sang ayah, sangat menyayangi istri dan anak-anaknya. Hingga kita pun bisa mendengar suara Evelyn, sang ibu, yang meminta suaminya melindungi anak-anak mereka.

who are we if we can’t protect them? We have to protect them 

Semua rasa itu mustahil hadir bila tanpa acting yang menawan dari semua tokoh film. Setiap gerak-geriknya efektif menggambarkan suasana tegang. Bahkan mereka tampak apik menunjukkan ekspresi tawa, sedih, dan khawatir.

Jadi, sedikit dialog, minim karakter, dan nuansa sunyi-sepi bukan penghalang bagi A Quiet Place menghadirkan suasana ngeri di sepanjang cerita.

Selama logika cerita kokoh terbangun ditambah sinematografi dan efek bunyi yang apik serta acting yang tepat dari para tokohnya, elemen horor bisa terasa seketika dan tentu saja bikin bulu tengkuk kita berdiri.

—–

A Quiet Place (2018)

Sutradara: John Krasinski; Penulis Skenario: John Krasinski, Scott Beck, Bryan Woods; Produser: Michael Bay, Brad Fuller, Andrew Form; Ide Cerita: Bryan Woods, Scott Beck; Genre: Drama, Horor; Kode Rating: +13; Durasi: 90 Menit; Perusahaan Produksi: Paramount Pictures, Platinum Dunes; Bujet Film: US$ 17 Juta 

Pemeran: Lee Abbott (John Krasinski), Evelyn Abbott (Emily Blunt), Regan Abbott (Millicent Simmonds), Marcus Abbott (Noah Jupe), Beau Abbott (Cade Woodward) 

sumber data film: IMDB

sumber gambar: rogerebert.com

Advertisements

Published by

Asep Wijaya

either write something worth reading or do something worth writing - Benjamin F,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s