“Yang Fana Adalah Waktu”, Yang Kekal Cuma Cinta Sarwono dan Pingkan

Novel ketiga ini tidak lagi mengulik lorong-lorong labirin cinta Sarwono dan Pingkan seperti yang tersaji di novel pertamanya

Novel pemungkas untuk Trilogi Hujan Bulan Juni itu akhirnya terbit. Judul puisi lama karangan Sapardi Djoko Damono (SDD), yang fana adalah waktu, didaulat menjadi judul novel penutup trilogi itu.

Judul puisi yang termaktub dalam kumpulan sajak Perahu Kertas (1982) itu pun bukan lagi semacam satire bagi manusia yang mengaku kekal dan menyebut waktu adalah fana.

Judul itu kini seolah menjadi penegasan akan kefanaan waktu dan kekekalan cinta Sarwono dan Pingkan.

Ya, dua tokoh utama cerita itu memang sudah melalui pelbagai macam ujian sebelum membuktikan cinta keduanya tak lekang oleh waktu alias tetap abadi.

Bahkan pada Pingkan Melipat Jarak (novel kedua), Sarwono “mampu” keluar dari kerangka waktu agar bisa berkomunikasi dengan Pingkan.

Saat itu, mabui (semacam roh/jiwa) Sarwono keluyuran di tengah masa komanya. Ia mengunjungi mimpi Pingkan untuk sekadar meyakinkan perempuan itu bahwa cintanya akan selalu ada untuk Pingkan.

Sarwono dan Pingkan memang sudah menaklukkan waktu.

Jadi laiklah kemudian SDD melabeli novel terakhir untuk trilogi Hujan Bulan Juni ini Yang Fana Adalah Waktu. Sebab yang kekal hanyalah cinta Sarwono dan Pingkan.

Kekekalan cinta yang juga tergambar pada cerita sepasang burung merpati di awal kisah.

Keabadian bunyi wok-wok-kethekur yang senantiasa dikeluarkan sepasang merpati, yang meskipun sudah dijual, dilepas ke alam bebas, tetap kembali lagi, berdua, ke bubungan rumah. Itulah bukti bahwa ketetapan Tuhan tidak akan pernah berubah.

Dalang (memang) tidak berpihak kepada nasib tetapi kepada takdir (halaman 88)

Meski begitu novel ketiga ini tidak lagi mengulik lorong-lorong labirin cinta Sarwono dan Pingkan seperti yang tersaji di novel pertamanya, Hujan Bulan Juni. Keruwetan perasaan sayang Sarwono dan Pingkan dinilai sudah clear.

Tiada lagi kegelisahan soal perbedaan asal-usul kedaerahan dan keagamaan seperti dialog dalam mimpi keduanya pada halaman 39-43 di Hujan Bulan Juni. Kepelikan macam itu dianggap sudah selesai. Novel ketiga ini semata soal pangkal dan ujung kisah Pingkan dan Sarwono.

Ya, pangkalnya adalah pertemuan pertama Sarwono dan Pingkan di kediaman Bu Pelenkahu (ibu Pingkan) semasa SMP yang kemudian berlanjut dengan komunikasi cinta lewat surat. Jenis komunikasi yang sampai menjelang ujung cerita di novel ketiga masih terus dipelihara.

Keduanya masih berkomunikasi lewat aksara. Masih saling bertukar surat elektronik, obrolan WA bahkan cuitan twitter. Komunikasi lisan seolah terlalu terburu-buru untuk menikmati obrolan tentang cinta keduanya.

Dan ujungnya, mengapa sejak pertama kali membaca novel ini, saya sudah menduga, akan berakhir asyik, hehe.

Namun yang menarik justru kelokan cerita pada jalan hidup yang dilalui Katsuo. Ya, cerita kolega Pingkan di sebuah universitas Jepang, yang secara diam-diam mencintai Pingkan, malah asyik untuk dicermati.

Keputusannya untuk keluar dari pakem karakternya selama ini cukup menarik untuk diikuti. Termasuk monolog batinnya tentang Sarwono, Pingkan, ibunya dan Noriko.

Gerangan mana ujung-pangkalku (hal. 111)

Simak juga bagaimana akhir kisah hubungannya dengan Noriko. Ya, nama Noriko pertama kali muncul di Pingkan Melipat Jarak. 

Dialah perempuan pilihan ibu Katsuo. Perempuan yang ternyata menyimpan masa lalu pilu yang akan diceritakan secara detail di novel ketiga ini. Sejarah hidup yang memberinya sebuah keberanian untuk bersikap, yang sepertinya terinspirasi dari keteguhan hati Pingkan.

Tapi di tengah perayaan cinta Sarwono dan Pingkan juga kelokan kisah Katsuo dan Noriko, terselip pertanyaan ihwal mengapa harus ada cerita mengenai Budiman, teman kecil Sarwono, yang tetiba datang memberikan undangan pernikahan?

Apakah ini semacam proses peralihan cerita untuk menegaskan “hey, Sarwono sudah sembuh dan siap menjalin cerita cintanya dengan Pingkan”? Atau memang ada serpihan cerita yang terlewat dan penting terkait Budiman ini?

Kedatangan adik bu Hadi, ibunda Sarwono, juga sedikit menyela kelancaran cerita cinta Sarwono dan Pingkan.

Mungkin saja bagian cerita itu muncul untuk menegaskan bahwa hubungan cinta Sarwono dan Pingkan tidak hanya kena adang keluarga besar Pelenkahu (Pingkan) tetapi juga sebagian anggota keluarga besar Sarwono.

Tetapi bukankah kerumitan macam itu sudah clear dan tidak lagi berlanjut di novel ketiga ini?

Persoalan yang melingkupi novel pemungkas ini, lagi-lagi, dan tiada lain, adalah monolog batin yang masih menguar dari hati Sarwono dan Pingkan.

Ya, sejak awal, SDD memang secara konsisten menampilkan monolog batin ini. Monolog batin yang rasanya sudah tidak sekelam pada novel pertama dan kedua.

Nuansa optimisme untuk bisa bersama selamanya mendominasi monolog batin dua tokoh utama itu di novel ketiga ini.

Apalagi Sarwono bakal pergi ke Jepang, tempat Pingkan melanjutkan studi kebahasaan dan kebudayaan.

Tak lupa, SDD menyelipkan pengetahuan tentang budaya Jepang lewat sederet istilah dan ungkapan yang jadi perilaku kesehariaan masyarakat Jepang. Kita juga akan disuguhi pengetahuan kebahasaan tentang aksara dan bunyi.

Angka dan aksara yang ditulis di kertas hanyalah label dan karenanya tidak memiliki aura macam apa pun. Hanya setelah dilisankan label berubah menjadi bunyi yang memiliki kekuatan magis… Kau bukan sosok yang sekadar kasat mata. Kau adalah sebongkah bunyi. Hanya dengan cara mengubahmu menjadi bunyi maka kau memiliki kekuatan yang tidak akan bisa dikibaskan siapa pun (hal. 6)

Memang benar, bagi Sarwono, Pingkan telah bersalin rupa menjadi bunyi, bukan lagi cuma sebatas sosok yang mengasyikkan penglihatannya. Bunyi yang kemudian menggema hingga ke pusat kesadarannya sekaligus mengekalkan cintanya yang pantang padam untuk Pingkan.

Ungkapan cinta yang juga disampaikan dalam bentuk kumpulan sajak untuk Pingkan yang terlampir secara terpisah dalam novel ketiga ini. Kumpulan sajak yang pernah ditemukan Pingkan dalam kondisi berserakan di kamar Sarwono saat lelaki yang dicintainya itu dalam masa kritis.

—–

Yang Fana Adalah Waktu (Novel Ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni)

Penulis: Sapardi Djoko Damono; Penyelia Naskah: Mirna Yulistiani; Perancang Sampul: Suprianto; Penata Letak: Fitri Yuniar; Proof ReaderSasa; Tebal: 146 Halaman; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama; Tahun Terbit: Maret 2018 (cetakan pertama); ISBN: 978-602-03-8305-7

Advertisements

Published by

Asep Wijaya

either write something worth reading or do something worth writing - Benjamin F,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s