Tomb Raider: Lara Croft dan Awal Mula Kisah Petualangannya

Seperti Wonder Woman (2017) yang bercerita tentang riwayat awal untuk aksi heroiknya, Tomb Raider (2018) juga ingin menapaki jejak yang sama

Di awal milenium ketiga, kita mengenal Lara Croft sebagai Angelina Jolie.

Dua filmnya, Lara Croft: Tomb Raider (2001) dan Lara Croft Tomb Raider: The Cradle of Life (2003), sudah cukup melekatkan kesan dan memperkuat pertalian itu.

Kita juga tahu, dua film itu merupakan produk adaptasi dari serial permainan video terkenal berjudul Tomb Raider.

Di tahun 2000-an, video game yang pertama kali dikembangkan oleh Core Design ini, pada 1996, menjadi salah satu permainan favorit para remaja.

Setidaknya kita mengetahui hal itu dari produksi serial game yang terus-menerus dilakukan oleh Core Design.

Sejak peluncuran perdananya pada 1996, hampir saban tahun serial terbaru permainan video itu muncul hingga pengembang video game asal Inggris itu mengakhirinya pada 2003 dengan seri Tomb Raider: The Angel of Darkness.

Namun rupanya, pesona Lara Croft belum pudar.

Pengembang video game lain, di antaranya Crystal Dynamics, kepincut melanjutkan serial permainan video itu. Jadilah pada 2006, seri Tomb Raider: Legend muncul.

Dan ternyata pengembang video game asal Amerika itu ketagihan memproduksi serial Tomb Rider yang rupanya masih digemari banyak orang tersebut.

Tercatat Crsytal Dynamics masih memproduksi permainan video itu hingga 2015 lewat judul game-nya Rise of the Tomb Raider.

Padahal kalau dilihat dari tema utama permainannya, seri video game yang lahir sejak 1996 ini cuma menyajikan petualangan yang sama: memburu makam yang dikenal punya daya supernatural dan berselisih dengan mereka yang mengatasnamakan Ordo Trinity.

Hikayat Lara Croft juga tidak banyak berubah: perempuan dari Keluarga Croft yang kaya raya sekaligus sosok pemberani dan tangguh juga jago kelahi.

Pada satu seri video game Lara bersenjatakan busur, sementara di seri lainnya, ia diperlengkapi dengan dua pistol yang menempel di kedua pahanya.

Lantas, apa yang membuat Tomb Raider menarik untuk dijadikan film lagi pada 2018?

Sutradara Roar Uthaug rupanya penasaran dengan cerita awal mula Lara Croft hingga menjadi petualang makam kuno.

Seperti Wonder Woman (2017) yang bercerita tentang riwayat awal untuk aksi heroik pahlawan super perempuan itu, Tomb Raider (2018) juga ingin menapaki jejak yang sama.

Setelah pada 2001 dan 2003 kita mengenal sosok Lara Croft dan petualangannya yang seru, tahun ini, kita akan diajak mengenal siapa sosok Lara Croft sesungguhnya.

Beruntung Roar Uthaug menemukan serial video game yang mengisahkan petualangan Lara Croft di Pulau Yamatai.

Adalah seri video game Tomb Raider (2013) garapan Crystal Dynamics jawabannya.

Si pengarah film menyelipkan sejarah hidup Lara Croft sebelum menempuh perjalanan pertamanya ke makam kuno.

Fragmen kehidupan awal Lara Croft itu melengkapi beberapa bagian interlude pada permainan video game tentang misi pencarian makam kuno Himiko.

Sebagian besar tayangan film Tomb Raider di Pulau Yamatai memang menyajikan nuansa dan sajian visual yang mirip dengan seri video game-nya.

Kecuali beberapa bagian alur cerita yang sengaja dibuat beda oleh pengarah film.

Alur Cerita

Lara Croft (Alicia Vikander) diceritakan menjalani hidup sebagai kurir. Dengan sepedanya, ia mengelilingi jalanan London menemui para pemesan barang.

Di sela-sela aktivitasnya itu, ia kerap menyempatkan diri berlatih tinju bebas di sebuah sasana. Ia hidup mandiri dan berkecukupan.

Padahal di balik laku hariannya itu, Lara seorang keturunan Keluarga Croft yang kaya raya.

Ayahnya, Richard Croft (Dominic West), adalah pemilik perusahaan induk dengan banyak lini usaha.

Lara sebenarnya berhak atas “warisan” peninggalan ayahnya itu. Tapi ia menolak menandatangani dokumen alih harta warisan.

Lara enggan menganggap ayahnya telah meninggal.

Ia lebih suka menilai ayahnya belum pulang dari sebuah petualangan panjang selama tujuh tahun.

Petualangan yang kemudian ia ketahui sebagai perjalanan mencari makam kuno Himiko.

Ya, dari buku harian ayahnya, diketahui bahwa Richard bukan semata menjalani bisnis di perusahaannya tetapi juga memenuhi ambisi mencari kekuatan supernatural untuk mengobati rasa kehilangan atas kematian istrinya.

Bermodal buku harian itu, Lara menapaki kembali jejak ayahnya, semata mencari kebenaran ihwal kabar kematian sosok yang ia cintai, yang senantiasa disampaikan orang kepercayaan ayahnya, Ana Miller (Kristin Scott Thomas).

Jadilah ia pergi ke Hongkong mencari kapal bernama Endurance yang kini dimiliki Lu Ren (Daniel Wu).

Foto kapal itu termuat dalam dokumen milik ayahnya yang mengaku berhasil mendapatkan moda transportasi menuju makam kuno milik Himiko.

Anehnya, meskipun ayahnya telah hilang, kapal itu rupanya masih ada.

Lara dan Lu Ren akhirnya berlayar menuju Pulau Yamatai di tengah Laut Iblis. Pulau itu dikenal misterius karena keberadaannya yang tidak terdeteksi radar.

Adegan perahu yang terguncang ombak hingga penampakan dari kejauhan fisik pulau dengan gundukan bukit dan gunung sangat mirip dengan tayangan dalam video game.

Kemiripan yang juga terjadi hingga sepasukan orang tak dikenal melumpuhkan Lara setelah berhasil mendarat di Pulau Yamatai.

Di sana pula Lara menunjukkan keahliannya bertahan hidup demi mendapati keberadaan sang ayah tercinta.

Ia harus berhadapan dengan hutan lebat sekaligus mengeksplorasi keliarannya.

Ia juga bertemu dengan aneka tantangan bahkan jebakan, terlebih setelah pintu makam terbuka.

Lara juga harus melawan sejumlah musuh dengan busur di tangannya.

Dan tidak lupa, bagian yang menjadi ciri khas dalam seri video game-nya, memecahkan teka-teki yang tersaji dalam makam.

Akhir cerita, justru sangat menarik. Roar Uthaug berhasil mengubah nuansa supernatural yang melekat di sepanjang cerita menjadi sedikit lebih modern, lebih masuk akal.

Tidak ada ilmu hitam apalagi kebenaran mitos mengenai Himiko. Semuanya ada penjelasan ilmiahnya.

Dan tampaknya, petualangan Lara Croft versi Alicia Vikander akan berlanjut bila kita menyadari bahwa ada sekuel untuk seri permainan video yang menjadi rujukan bagi film Tomb Raider.

Ya, Rise of the Tomb Raider (2015) merupakan sekuel video game untuk Tomb Raider.

Lara Croft masih akan melanjutkan petualangan ke kota yang hilang bernama Kitezh. Sebuah kota yang konon menyimpan misteri tentang hidup abadi.

Lara juga masih akan bertemu dengan anggota Trinity yang belakangan baru disadari Lara bahwa ordo misterius itu ada di lingkungan perusahaan milik Keluarga Croft.

Dengan kata lain, ada pengkhianat di kalangan orang dekat Richard Croft.

Bilapun film lanjutan ini benar-benar ada. Lara dipastikan akan bersenjatakan pistol, bukan lagi busur.

Dan tentu saja, ada penjelasan ilmiah dari nuansa supernatural yang menyelimuti kisah petualangan Lara Croft.

Selamat Alicia Vikander. Riwayat hidup awal Lara Croft kini milik Anda kendatipun Angelina Jolie merupakan karakter pertama pemeran Lara Croft.

—–

Tomb Raider (2018)

Sutradara: Roar Uthaug; Penulis Skenario: Geneva Robertson-Dworet, Alastair Siddons; Produser: Gary Barber, Graham King; Genre: Laga, Petualangan; Kode Rating: +13; Durasi: 118 Menit; Perusahaan Produksi: Warner Bros., Metro-Goldwyn-Mayer, GK Films 

Pemeran: Lara Croft (Alicia Vikander), Lu Ren (Daniel Wu), Mathias Vogel (Walton Goggins), Richard Croft (Dominic West), Ana Miller (Kristin Scott Thomas)

Diadaptasi dari seri permainan video berjudul sama garapan Crystal Dynamics (2013) dan pernah juga dibuat film dengan judul Lara Croft: Tomb Raider (2001) dan Lara Croft Tomb Raider: The Cradle of Life (2003) dengan pemeran utama Angelina Jolie

sumber data film: IMDB

sumber gambar: wallpapersite.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s