Golden Slumber: Ketika Penguasa Jadi Produsen Hoaks

Sutradara Noh Dong-seok punya resep sendiri untuk terus mengajak penonton menduga-duga dan berkali-kali terjebak dalam kelokan alur ceritanya

Tahun lalu, ada film Korea yang menyedot perhatian banyak penonton, hingga masuk daftar film Box Office, berjudul Fabricated City/Jojakdwen Doshi.

Kisahnya berkisar seputar perjuangan seorang pemuda bernama Kwon Yoo (Ji Chang-wook) dalam menguak aksi sindikat rahasia perekayasa kasus pembunuhan.

Organisasi ini menerima pesanan untuk merancang kematian seseorang dengan cara merekayasa cerita pembunuhannya.

Aneka barang bukti, dari mulai sidik jari, rekaman kamera pengawas, dan saksi mata, telah disiapkan untuk calon pelaku yang sudah jadi incaran, salah satunya Kwon Yoo.

Bahkan pemberitaan media massa juga dikerahkan untuk memperkuat kesan publik ihwal kebenaran cerita pembunuhan yang sebenarnya penuh rekayasa itu.

Tentu saja, untuk melancarkan aksi ini, diperlukan bantuan teknologi yang tersaji apik, terutama di akhir film.

Banyak kejutan muncul di sepanjang film hingga kelokan cerita yang tak terduga di bagian ujungnya. (baca: Fabricated City)

Nah, di awal tahun ini, Negeri Ginseng itu kembali merilis film yang juga tak kalah menarik dengan Fabricated City (2017), berjudul Golden Slumber.

Ya, judul film ini mirip dengan judul sebuah lagu karangan Paul McCartney, anggota kelompok band The Beatles, yang terinspirasi dari puisi Cradle Song ciptaan dramawan Thomas Dekker pada 1603.

Menariknya, kedua film itu memiliki kemiripan ide cerita.

Baik Fabricated City maupun Golden Slumber sama-sama mengusung gagasan cerita tentang upaya merekayasa fakta untuk sebuah kepentingan tertentu.

Kedua film itu juga memaksa tokoh utamanya untuk terus berlari dari kejaran mereka yang mau menangkap, bahkan membunuhnya.

Dua-duanya juga mengajak penontonnya untuk sadar bahwa dunia telah berubah: kebenaran bukan seperti apa yang tampak di permukaan.

Tapi yang justru menjadi daya tarik dalam Golden Slumber justru terletak pada karakter pemeran utamanya yang dipotret sebagai orang baik, benar-benar baik.

Sebuah sifat yang boleh dikatakan langka di zaman modern ini.

Suatu sikap yang justru dipertanyakan sendiri oleh tokoh utamanya: Apakah menjadi orang baik adalah sebuah kesalahan?

Ya, Golden Slumber menampilkan Gang Dong-won yang berperan sebagai Gun-woo selaku tokoh utama.

Sebelumnya, ia juga memainkan peran yang apik sebagai seorang mahasiswa yang melancarkan aksi demonstrasi bersejarah di Korea Selatan dalam film 1987: When The Day Comes (2017).

Gun-woo dikisahkan sebagai seorang pengantar barang yang juga mendapatkan label sebagai “warga teladan” atas aksi heroiknya menggagalkan percobaan perampokan yang dialami seorang penyanyi K-Pop.

Di beberapa lokasi, keberadaan Gun-woo menjadi pusat perhatian bagi para penerima barang.

Tidak sedikit dari mereka yang mengajaknya ber-swafoto lantaran ia bukan semata pengantar barang, melainkan juga seorang warga teladan.

Namun pertemuannya dengan seorang teman lama, Moo-yeol (Yoon Kye-sang), mengubah citra positif itu.

Lewat dua peristiwa ledakan yang menewaskan Moo-yeol dan, ini yang paling mengerikan, seorang kandidat presiden yang dicintai rakyatnya, Gun-woo mendadak dapat predikat buronan kelas satu.

Gun-woo dinilai sebagai tersangka utama peristiwa yang merenggut nyawa salah satu tokoh bangsa itu. Bagaimana ini bisa terjadi?

Rupanya sebuah kamera pengawas berhasil merekam sosok Gun-woo yang tengah melakukan percakapan melalui telepon umum ihwal rencana peledakan.

Sidik jarinya juga diperoleh. Beberapa saksi mata bahkan mengafirmasi aneka petunjuk itu.

Tentu saja, sebagian media massa kemudian menggemakan keterkaitan Gun-woo dengan pembunuhan tokoh kenamaan negeri itu.

Akibatnya, isu berita kematian calon presiden bersaing ketat dengan isu berita pengkhianatan Gun-woo atas nilai-nilai kebaikan yang selama ini ia tunjukkan.

Isu kedua tampak lebih menarik bagi masyarakat.

Atas berita tersebut, ada sindikat pelaku permufakatan jahat yang ternyata diuntungkan. Seorang petinggi kepolisian terlibat.

Bahkan ada adegan yang memotret peran penguasa dalam proyek konspirasi pembunuhan atas seorang kandidat presiden yang dicintai rakyatnya itu.

Pada posisi ini, resmi sudah label penguasa sebagai produsen hoaks.

Misi sindikat itu akan selesai setelah Gun-woo dinyatakan tewas atau mengaku bersalah.

Namun Gun-woo gesit. Ia terus berlari dari kejaran anggota gugus tugas kepolisian yang berada di pihak sindikat.

Hingga ia akhirnya bertemu dengan Min (Kim Eui-sung), seorang agen mata-mata rekan Moo-yeol.

Pertemuan yang akhirnya mengarahkan Gun-woo pada sebuah rencana pengungkapan aksi kejahatan yang dilakukan oleh penguasa.

Kenapa Gun-woo jadi sasaran empuk pelaku konspirasi? Siapa sosok mirip Gun-woo yang terekam kamera pengawas itu?

Dan bagaimana juga Gun-woo akhirnya bisa terus lepas dari kejaran anggota sindikat yang, tentu saja, ada orang kuat di belakangnya?

Sutradara Noh Dong-seok punya resep sendiri untuk terus mengajak penonton menduga-duga dan berkali-kali terjebak dalam kelokan alur ceritanya.

Namun laju cerita Golden Slumber yang tergesa-gesa ini seringkali menciptakan celah pada plot.

Seperti cerita tak tuntas tentang operasi gagal yang dijalankan Min dan Moo-yeol, alasan Gun-woo tidak langsung dibunuh saat tertangkap, hingga profil sosok aktor di belakang upaya rekayasa atas pembunuhan calon presiden.

Kalaupun Golden Slumber mau dibandingkan dengan Fabricated City, film yang disebut terakhir lebih menyajikan kejelasan profil para pemeran protagonis dan antagonisnya.

Akhir cerita juga tampak lebih berkelok tapi tetap terlihat jernih.

Meski begitu, Golden Slumber yang diadaptasi dari novel tahun 2007 berjudul sama karangan Isaka Kotaro ini, menyajikan kisah thriller yang tetap menarik.

Dengan balutan kisah persahabatan yang mengharukan, film laga ini menjadi kental bernuansa Korea.

Lagu Golden Slumbers yang diperdengarkan di banyak adegan cukup membantu memperkuat rasa film.

Ada kerinduan yang besar pada diri Gun-woo untuk bisa kembali bersama dengan orang dekat dan mendamaikan perasaan mereka, seperti kedamaian yang terasa pada lantunan lagu nina-bobok yang ingin dinyanyikan aku lirik pada lagu Golden Slumbers.

—–

Golden Slumber (2018)

Sutradara: Noh Dong-seok; Penulis Skenario: Noh Dong-seok, Lee Hae-jun, Cho Ui-seok; Produser: Song Dae-chan; Genre: Laga, Thriller; Kode Rating: +17; Durasi: 108 Menit; Perusahaan Produksi: Zip Cinema; Bujet Film: US$ 12,75 Juta 

Pemeran: Kim Gun-woo (Gang Dong-won), Sun-young (Han Hyo-joo), Moo-yeol (Yoon Kye-sang), Min (Kim Eui-sung), Geum-chul (Kim Sung-kyun), Dong-gyu (Kim Dae-myung), Hwang Jin-ho (Yoo Jae-Myung), Joo-ho (Choi Woo-SIk) 

Diadaptasi dari novel tahun 2007 berjudul “Golden Slumber” karangan Isaka Kotaro dan juga pernah dibuat film di Jepang pada 2010 dengan judul sama arahan sutradara Yoshihiro Nakamura

sumber data film: IMDB/AsianWiki

sumber gambar: asianwiki.com

Advertisements

One thought on “Golden Slumber: Ketika Penguasa Jadi Produsen Hoaks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s