The Post: Dilema Jurnalisme Antara Mengutamakan Kepentingan Bisnis atau Masyarakat

The Post bergerak dalam dimensi yang lebih luas: jurnalisme, antara membela kepentingan bisnis atau kepentingan masyarakat

Awal tahun 1970 bisa dikatakan sebagai salah satu periode gemilang bagi kerja jurnalisme Amerika Serikat (AS). Klaim ini tentu saja berangkat dari pengungkapan dua kasus besar oleh dua surat kabar terkenal: The New York Times dan The Washington Post.

Dua kasus bermuatan skandal politik yang akhirnya memaksa orang nomor satu Negeri Abang Sam (AS) saat itu, Richard Nixon, mengundurkan diri dari kursi presiden.

Dua tema liputan yang mengantarkan The Times, sebutan The New York Times dan The Post, panggilan The Washington Post, meraih penghargaan The Pulitzer Prizes untuk kategori public services.

The Times merengkuh penghargaan itu pada 1972 atas pengungkapan perdananya untuk kasus Pentagon Papers. Sementara The Post meraihnya pada 1973 atas liputan investigasinya tentang skandal Watergate.

Dua kasus tersebut, yang bermuara pada satu nama besar, Richard Nixon, kemudian ditampilkan secara berkelindan dalam The Post. Film ini boleh dibilang sebagai prekuel untuk produk sinematik yang tayang pada 1976 berjudul All The President’s Men.

Dalam film garapan Steven Spielberg ini, kita akan disuguhkan tayangan mengenai andil The Post, selain The Times, dalam mengungkap upaya pembohongan publik tentang Perang Vietnam. Kebohongan yang terus didengungkan selama 30 tahun, semata untuk menjaga gengsi, oleh empat presiden AS, yakni Dwight Eisenhower, John F Kennedy, Lyndon Johnson, dan Richard Nixon.

Upaya pengungkapan yang tentu saja berjalan sangat dramatis, yang tidak hanya melibatkan ancaman dari pemerintah tetapi juga “ancaman” lain dari dalam kantor berita. Serangkaian ancaman yang akhirnya memaksa orang nomor satu The Post untuk memilih antara membela kepentingan bisnis atau kepentingan masyarakat.

Sang nakhoda The Post, Katharine (Kay) Graham (Meryl Streep) tentu tidak pernah menyangka akan berada dalam pusaran masalah yang pelik itu.

Sebagai penerbit-surat-kabar berjeniskelamin perempuan pertama, ia dihadapkan pada satu tantangan besar yakni menyelamatkan bisnis The Post dengan tetap menaruh harapan: suatu saat koran tingkat lokal ini bisa beralih status menjadi koran level nasional.

Tapi aneka tugas untuk mencapai cita-cita itu terlampau berat. Bayangkan saja, Kay harus memimpin laju bisnis The Post nyaris tanpa modal pengetahuan jurnalisme sedikitpun. Sejak surat kabar ini dibeli oleh mendiang ayahnya, Eugene Meyer, pada 1933, ia sama sekali tidak pernah terlibat dalam mengurus perusahaan.

Bahkan selepas sang ayah wafat, pucuk pimpinan tidak lantas menjadi miliknya, malah beralih ke suaminya, Philip Graham, yang kemudian memilih bunuh diri dan meninggalkan bisnis The Post untuk Kay.

Dalam kondisi “keterkejutan” itu, untung saja Kay punya orang kepercayaan seperti Fritz Beebe (Tracy Letts) yang mengajarkannya cara mengembangkan bisnis lewat upaya penawaran saham perdana atau IPO (initial public offering). 

Tapi kondisi itu sama sekali belum sepenuhnya membantu Kay lancar dalam menjalankan bisnis The Post. Kebingungannya dalam hampir semua hal tentang kerja jurnalistik membuat ragu sejumlah direktur perusahaan termasuk Arthur Parsons (Bradley Whitford).

Belum lagi kelakuan editor eksekutif The Post, Ben Bradlee (Tom Hanks), yang cenderung “mengintimidasi” Kay dalam setiap permintaan keputusan tentang keredaksian. Intimidasi yang semakin kuat setelah The Times, pesaing The Post, menerbitkan cerita tentang Pentagon Papers.

Titik balik laku linglung itu pun datang kala Ben Bradlee meminta restu Kay agar The Post menayangkan liputan mengenai dokumen Petangon atau Pentagon Papers yang memuat informasi seputar kekalahan AS atas Vietnam dan keputusan yang sia-sia dalam upaya pengiriman pemuda Negeri Abang Sam ke medan tempur di Asia Tenggara itu.

Atas berbagai pertimbangan, yang dipotret secara lengkap dan apik oleh Steven Spielberg, Kay pun merestui penayangan liputan yang sebenarnya telah dilarang oleh Pemerintah AS karena berpotensi mengganggu stabilitas keamanan itu. Sebuah restu yang juga mempertaruhkan kelangsungan bisnis The Post dan jeratan hukum atas Kay dan Ben.

Selaku pengarah film, Steven Spielberg benar-benar ogah membuat kita berhenti sejenak dari ketegangan. Meskipun ber-genre drama, The Post menampilkan aneka fragmen dengan ketegangan yang intes, sampai-sampai adegan menyalin ribuan lembar dokumen rahasia di awal film bisa bikin deg-degan.

Meski menampilkan beberapa adegan upaya investigasi para jurnalis The Post, tapi Steven Spielberg rupanya tidak ingin menjadikan The Post seperti Spotlight (2015) yang secara detail menampilkan kerja jurnalisme investigasi.

The Post bergerak dalam dimensi yang lebih luas: jurnalisme, antara membela kepentingan bisnis atau kepentingan masyarakat.

Pesan yang hingga saat ini masih sangat relevan kala industri media massa berada dalam pergulatannya dengan upaya mempertahankan bisnis dengan menjalin hubungan “mesra” dengan penguasa dan upaya menuliskan kabar secara benar, sesuai fakta, komprehensif dan mendalam.

Tapi rupanya, Kay memilih menjadikan berita sebagai sebuah sejarah hari itu yang ditulis secara akurat berdasarkan fakta yang sebenarnya. Meskipun ia dikenal dekat dengan para “penghuni gedung putih” tetapi fakta, buruk ataupun baik, harus ditulis secara benar.

news is the first rough draft of history

Ia juga percaya bahwa kualitas berita senantiasa berbanding lurus dengan keuntungan bisnis. Suatu keyakinan yang awalnya ia ragukan namun akhirnya pernyataannya itu membuahkan hasil.

quality drives profitability

The Post, akhirnya bukan sekadar film yang memotret laku pencarian berita atau pengungkapan kasus oleh para jurnalis. The Post, lebih jauh dari itu, merupakan potret penegasan kebebasan pers untuk kepentingan masyarakat.

the press was to serve the governed, not the governors

Suatu sikap yang akhirnya membongkar kebohongan yang bersemayam di benak publik sekaligus membangkitkan soliditas antar pelaku industri media massa untuk terus memperjuangkan kebebasan pers demi melayani masyarakat.

——

The Post (2017)

Sutradara: Steven Spielberg; Penulis Skenario: Liz Hannah, Josh Singer; Produser: Amy Pascal, Steven Spielberg; Genre: Biografi, Drama, Sejarah; Kode Rating: +13; Durasi: 116 Menit; Perusahaan Produksi: Amblin Entertainment, DreamWorks; Biaya Produksi: US$ 50 Juta

Pemeran: Katharine (Kay) Graham (Meryl Streep), Ben Bradlee (Tom Hanks), Lally Graham (Alison Brie), Tony Bradlee (Sarah Paulson), Ben Bagdikian (Bob Odenkirk), Fritz Beebe (Tracy Letts), Daniel Ellsberg (Matthew Rhys), Arthur Parsons (Bradley Whitford), Judith Martin (Jessie Mueller), Meg Greenfield (Carrie Coon), Robert McNamara (Bruce Greenwood) 

sumber data film: IMDB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s