Downsizing: Menuju Peradaban Manusia Mini dan Satire Sosial di Sekitarnya

Ternyata, masalah kemanusiaan tidak lantas lenyap setelah mereka semua mengecil

Penyusutan tubuh manusia hingga ukuran yang paling mini atau setinggi korek api rupanya masih menjadi tema menarik untuk genre film fiksi ilmiah. Setelah ada petualangan empat bocah yang menjalani hidup di tubuh mini dalam Honey, I Shrunk the Kids (1989), pahlawan super bertubuh sebesar semut, Ant-Man (2015), kemudian muncul.

Tampaknya, sutradara Alexander Payne ikut tergoda untuk menggarap film sejenis itu. Sutradara lulusan Universitas Stanford ini memutuskan untuk menjadi pengarah di produk sinematik terbarunya berjudul Downsizing (2017). Namun tentu saja, Payne punya resep sendiri untuk meracik tema film yang boleh dibilang tidak segar lagi ini.

Dengan ambisinya yang mau berbeda itu, Payne rupanya meramu Downsizing dengan aneka bahan baku dan bumbu di dalamnya. Sehingga yang terasa adalah alur cerita yang warna-warni dengan akhir kisah yang cenderung menggantung.

Atau jangan-jangan, Payne sengaja tidak mengutamakan alur cerita, yang sebagian besar hanya berpusat pada perjalanan hidup pemeran utamanya, melainkan pada pesan tentang upaya manusia dalam memecahkan masalah hidup dan satire sosial yang melingkupinya lewat tema penyusutan tubuh manusia.

Sepertinya terkaan terakhir lebih mewakili pesan yang diusung Downsizing. Indikasinya terlihat saat salah satu permasalahan hidup manusia, persoalan kesejahteraan, dimunculkan di bagian awal putaran film.

Di bagian awal cerita, Paul Safranek (Matt Damon) harus rela menjalani hidup rutin di rumah sederhana milik ibunya yang sedang sakit-sakitan. Pagi hari ia harus bekerja, sorenya pulang dan tak lupa membeli makanan, sementara di waktu malam, ia harus meminumkan obat untuk ibunya.

Tapi cerita itu rupanya dipercepat hingga ke kehidupan Paul dan istrinya, Audrey Safranek (Kristen Wiig), yang ternyata masih menempati rumah yang sama, milik mendiang ibunya.

Keinginan membeli rumah yang lebih besar kandas lantaran ketidakcukupan uang. Kisah yang sama seperti cita-cita Paul menjadi seorang dokter bedah yang kandas sesaat setelah ia menyadari dirinya kini hanyalah seorang terapis di tempat kerjanya. 

Masalah kesejahteraan ekonomi tampaknya harus selamanya ia hadapi bersama sang istri hingga sebuah acara reuni alumni sekolahnya memberikan secercah harapan. Salah seorang sahabatnya, yang kini telah beristri, hadir dengan tubuh yang sangat mini, sekitar 13 cm.

Di hadapan teman-temannya yang berada dalam ukuran tubuh normal manusia, ia berkomunikasi dengan bantuan pengeras suara. Rupanya teman dekat Paul itu telah menjalani program penyusutan atau downsizing yang merupakan penemuan ilmiah terbaru dari seorang dokter asal Norwegia, Jorgen Asbjornsen (Rolf Lassgard). 

Lewat serangkaian tahapan medis, seorang yang bertubuh 180 cm bisa menyusut menjadi hanya setinggi korek api. Dan tidak hanya itu. Mereka yang secara sukarela ingin menjalani penyusutan tubuh akan mendapatkan kesejahteraan hidup yang lebih baik: uang yang berlimpah, rumah dan kendaraan yang mewah, lingkungan perumahan yang sangat ideal.

Mereka yang menjadi sukarelawan penyusutan manusia bahkan bisa mendapatkan label pahlawan ekologis lantaran keputusannya itu merupakan bagian dari solusi bagi masalah populasi penduduk yang terus tumbuh, sampah yang kian menggunung, dan konsumsi sumber daya alam yang terus meningkat.

Tentu saja sudah ada beberapa anggota masyarakat yang menjadi contoh untuk masa depan manusia yang lebih baik itu. Merekalah koloni pertama atau orang-orang Norwegia yang telah bertahun-tahun menajalani hidup sebagai manusia mini.

Bahkan diketahui bahwa proses reproduksi manusia berjalan baik setelah bayi pertama dari sepasang anggota koloni lahir dan hidup sehat.

Melihat kemuliaan itu, Paul dan Audrey tertarik menjalani penyusutan badan. Meskipun belakangan Audrey menarik diri dari rencana itu dan membiarkan Paul hidup dalam tubuhnya yang mini sendirian.

Di tengah kesepian dan keputusan yang dianggapnya sebagai sebuah kesalahan itu, Paul bertemu dengan Ngoc Lan Tran (Hong Chau), Dusan Mirkovic (Christoph Waltz), dan Joris Konrad (Udo Kier) serta orang-orang dalam koloni pertama yang tengah menyiapkan sebuah rencana penyelamatan manusia dari ancaman kepunahan.

Sebelum pertemuan itu terjadi, alur cerita terasa hambar, semata hanya ingin menggambarkan kesendirian, rasa penyesalan, dan kepiluan hati Paul yang kini hidup sendirian di sebuah koloni bernama Leisureland. Perasaan hancur karena keputusan yang ia ambil tidak bisa lagi mengubahnya menjadi manusia dengan tubuh normal.

Alur cerita kembali hidup setelah Paul bertemu dengan Dusan, Konrad dan tentu saja Ngoc Lan. Pertemuan yang juga menegaskan bahwa ternyata, masalah kemanusiaan tidak lantas lenyap setelah mereka semua mengecil.

Penyalahgunaan metode penyusutan tubuh pun terjadi seperti yang dialami Ngoc Lan yang dihukum penyusutan badan oleh penguasa Vietnam karena menggalang aksi protes. Setelah badannya disusutkan, ia ditaruh di dalam kotak televisi dan dibuang ke Amerika.

Penipuan dan penyelundupan barang pun terjadi. Seperti yang dilakukan Dusan dan Konrad yang menggelapkan barang konsumsi bagi manusia normal agar bisa diperjual-belikan di kehidupan mini mereka.

Misalnya, cerutu dan minuman beralkohol dalam ukuran normal “dipreteli” untuk kemudian dijadikan seukuran mini sehingga bisa diperjual-belikan dengan jumlah yang besar di koloni mereka. Dengan begitu, Dusan dan Konrad memperoleh uang yang sangat banyak dari aktivitasnya itu.

Belum lagi kesejahteraan yang dijanjikan di kehidupan mini ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Kehidupan Ngoc Lan dan beberapa orang di luar “kompleks” Leisureland menjadi potret betapa kesenjangan ekonomi masih terjadi.

Downsizing ingin menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari aneka masalah betapapun mereka ingin membuangnya jauh-jauh. Manusia, justru, seharusnya mempersiapkan diri dan terus belajar dalam menghadapi aneka masalah itu dan jangan pernah lari darinya.

Ngoc Lan secara tidak langsung menyampaikan pesan itu kepada Paul di akhir cerita yang seolah menggantung itu. Jadi, sekali lagi, jangan terlalu fokus pada alur cerita saat menyaksikan Downsizing, melainkan perhatikan saja pesan-pesan kuat mengenai kemanusiaan yang bertebaran di sepanjang film.

Dan tentu saja, ini satire bagi manusia yang hidup secara serakah dan egois, hehe.(asw)

—–

Downsizing (2017)

Sutradara: Alexander Payne; Penulis Skenario: Alexander Payne, Jim Taylor; Produser: Jim Burke, Megan Ellison, Mark Johnson, Alexander Payne; Genre: Drama, Fiksi Ilmiah; Kode Rating: +17; Durasi: 135 Menit; Perusahaan Produksi: Ad Hominem Enterprises; Biaya Produksi: US$ 68 Juta 

Pemeran: Paul Safranek (Matt Damon), Audrey Safranek (Kristen Wiig), Ngoc Lan Tran (Hong Chau), Dusan Mirkovic (Christoph Waltz), Dr. Jorgen Asbjornsen (Rolf Lassgard), Joris Konrad (Udo Kier) 

sumber data film: IMDB 

sumber foto: vox.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s