12 Strong: Kisah Heroik Prajurit Berkuda AS di Medan Tempur Afganistan

This is Afghanistan, the graveyard of many empires

Tolong singkirkan sejenak kesan yang mungkin muncul dari sebuah film perang garapan Hollywood yang lekat dengan cerita Rambo dan anti-kalah. Hilangkan juga rasa curiga bahwa produk sinematik bertema perang ala Amerka merupakan upaya unjuk gigi atau gagah-gagahan semata, semacam show of force.

Meskipun benar terselip citra unjuk kehebatan dan, tentu saja, akhir dramatis yang berujung pada kemenangan, tetapi, tampaknya, 12 Strong, tidak diproduksi semata hanya untuk itu.

Film besutan Nicolai Fuglsig yang juga seorang jurnalis foto berpengalaman kelahiran Denmark ini merupakan refleksi dari sikap patriotisme, rasa cinta kepada keluarga, dan keinginan kuat untuk menjalin persahabatan.

Karya sinematik yang diadaptasi dari sebuah buku non-fiksi karangan Doug Stanton berjudul Horse Soldiers (2009) ini merekam cerita 12 prajurit Amerika yang untuk pertama kalinya, sesaat setelah tragedi 9/11, dikirim ke medan tempur Afganistan.

Selusin prajurit di bawah komando Kapten Mitch Nelson (Chris Hemsworth) ini boleh dibilang semacam “kelinci percobaan”. Sebuah label yang tidak dihiraukan sama sekali oleh 12 prajurit Amerika itu lantaran enggan melihat lagi aksi kejam kelompok Taliban dan Al Qaida di Amerika setelah tragedi 9/11. Suatu upaya yang harus dilakukan dengan cara menggempur habis markas kelompok itu.

Untuk melakukan hal tersebut, Mitch dan sebelas prajurit lain, di antaranya, Hal Spencer (Michael Shannon) dan Sam Diller (Michael Pena), ditugasi melakukan pendekatan terhadap salah satu kelompok Aliansi Utara yang membenci kelompok Taliban. Tujuannya agar upaya penyerangan ke sebuah markas Taliban bernama Mazar-i-Sharif bisa berjalan efektif-efisien dengan bantuan kelompok Aliansi Utara itu.

Rupanya sebelum misi utama itu berjalan, sebagian prajurit yang kala itu, berdasarkan informasi dalam buku Horse Soldiers, berusia sekitar 30 tahun, harus melalui tantangan berat pertama yakni berpamitan dengan istri dan anak mereka.

Mitch yang baru saja pindah tugas ke dalam kantor, tidak lagi di lapangan, dengan tujuan agar bisa menghabiskan hari bersama keluarga, harus mengucap pisah sementara dengan istri dan anaknya. Tentu saja dialog intim antara suami-istri itu terjadi dan meninggalkan pesan kuat dari mulut sang istri: it doesn’t matter on how long you go, as long as you are back.

Begitu juga dengan Hal dan dan Sam yang terpaksa meninggalkan sejenak keluarga mereka untuk bertempur di Afganistan. Istri Hal pun menebar “ancaman”, tentu saja lantaran cintanya yang mendalam kepada Hal, dengan mengatakan I love you when you are back. Keresahan yang juga coba disimpan oleh istri Sam saat mendengar suaminya akan berlaga di medan tempur yang ganas.

Tentu saja itu bukan tantangan satu-satunya. Tantangan lain datang dari komandan perang Amerika di pangkalan militer Uzbekistan. Di hadapan Micth, sang komandan menyebut bahwa misi ini tidak mengenal bala bantuan dan penarikan pasukan. Ini misi mandiri sekaligus sangat rahasia.

Tapi Mitch dan sebelas prajurit tempur yang tergabung dalam US Army Green Berets Operational Detachment Alpha 595 (ODA 595) pantang surut langkah. Keamanan negeri dan keluarganya merupakan motivasi mendasar yang mereka miliki. Di medan tempur yang kebanyakan gunung dan jurang itu, mereka akhirnya bertemu dengan pemimpin salah satu kelompok Aliansi Utara, Jenderal Abdul Rashid Dostum (Navid Negahban).

Dalam menjalankan misi penaklukan Kota Mazar-i-Sharif, Mitch dan sebelas prajurit lain mendapatkan banyak pelajaran dari Dostum yang bertindak seperti guru perang di medan terjal Afganistan. Mereka dipaksa menunggang kuda untuk menempuh perjalanan menuju markas Taliban yang diketahui kemudian pasukan musuh malah bersenjatakan tank dengan amunisi modern lain. Tank vs Kuda!!!

Tentu saja, meskipun tanpa pasukan militer yang memadai, 12 prajurit ini dipersenjatai pesawat pengebom yang kapanpun informasi titik koordinat musuh diketahui, bom siap dijatuhkan. Tapi untuk memperoleh titik koordinat itu, prajurit Amerika harus mendekati lokasi musuh yang tidak jarang mengundang desingan peluru, ledakan granat, dan bom bunuh diri.

Pada momen perjalanan menuju markas Taliban di sisi Selatan Afganistan ini, Mitch kerapkali mendapatkan wejangan dari Dostum. Di antara pesan yang disampaikannya kepada Mitch adalah a soldier leads with his head, but a true warrior listens to his heart. Sebuah pesan yang juga mengesankan kita betapa perang suku di Afganistan benar-benar telah berakar kuat hingga ke hati.

This is Afghanistan, the graveyard of many empires

Dari dialog dan sikap kesatria yang ditunjukkan Mitch dan Dostum itu, persahabatan antara keduanya terjalin kuat. Pada aspek ini, sang sutradara berhasil menunjukkan adanya pengembangan karakter tokoh. Pengembangan karakter yang juga terjadi secara riil di dunia nyata lantara hubungan persahabatan antara Mitch dan Dostum, yang sejak 2014 menjadi wakil presiden Afganistan, tetap terjaga.

Inilah cerita mengenai prajurit berkuda melawan pasukan tank dengan perlengkapan tempur modern. Cerita yang kemudian didokumentasikan menjadi sebuah monumen patung perunggu seorang prajurit Green Beret yang tengah menunggang kuda di Liberty Park, dekat Menara Kembar World Trade Center (WTC).

Dalam nuansa kehebatan itu, 12 Strong tetap menyimpan kelemahan terutama dalam mengeksplorasi latar belakang 12 anggota ODA 595 yang ternyata hanya lebih banyak menyoroti kisah Mitch, Hal dan Sam. Sementara kita “buta” akan identitas sembilan orang lainnya.

Dengan begitu kita jadi bertanya-tanya: bagaimana bisa 12 prajurit itu tampil solid di medan tempur Afganistan? Apa elemen yang menyatukan selusin prajurit itu?

Kita juga jangan terlalu berharap akan mendapatkan informasi yang memadai tentang kondisi apa yang sebenarnya terjadi di Afganistan sehingga ada Taliban, Al Qaida, dan Aliansi Utara kecuali hanya secuplik.

12 Strong, bisa dibilang, hanya rangkuman kisah dari sebuah buku non-fiksi yang terbit pada 2009 dan dijadikan film pada 2018. Mengapa baru ditayangkan sekarang? Tentu itu pertanyaan kita bersama, hehe.

—–

12 Strong (2018)

Sutradara: Nicolai Fuglsig; Penulis Skenario: Ted Tally, Peter Craig; Produser: Thad Luckinbill, Jerry Bruckheimer, Trent Luckinbill, Molly Smith, Ellen H. Schwartz; Genre: Aksi, Drama, Sejarah; Kode Rating: +17; Durasi: 130 Menit; Perusahaan Produksi: Alcon Entertainment, Black Label Media; Biaya Produksi: US$ 35 Juta

Pemeran: Kapten Mitch Nelson (Chris Hemsworth), Jean Nelson (Elsa Pataky), Jenderal Abdul Rashid Dostum (Navid Negahban), Hal Spencer (Michael Shannon), Sam Diller (Michael Pena), Milo (Trevante Rhodes), Coffers (Geoff Stults), Vern (Thad Luckinbill)

sumber data film: IMDB

diadaptasi dari buku non-fiksi, Horse Soldiers: The Extraordinary Story of a Band of U.S. Soldiers who Road to Victory in Afghanistan (2009), karya Doug Stanton

sumber foto: fansided.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s