Because it’s my name, and I’ll never have another

Bersiap-siaplah menyimak parade kata-kata dari Molly Bloom (Jessica Chastain) tentang keruntuhan dan kejayaan penggalan hidupnya serta aneka lakunya, yang secara implisit, menunjukkan hasrat untuk melawan kuasa para pria.

Lewat film Molly’s Game, yang diadaptasi dari sebuah memoar yang ditulis sendiri oleh Molly, kita sama sekali tidak akan dimanjakan dengan adegan penuh aksi, misteri atau bahkan teka-teki.

Tetapi kita akan diajak seperti mendengarkan cerita tentang cuplikan perjalanan hidup Molly yang dibacakan sendiri olehnya secara lajak, namun tetap bernas. Cerita yang tentu tidak biasa dan datar-datar saja, melainkan lebih mirip seperti laju jet-coaster.

Advertisements

The Post bergerak dalam dimensi yang lebih luas: jurnalisme, antara membela kepentingan bisnis atau kepentingan masyarakat

Awal tahun 1970 bisa dikatakan sebagai salah satu periode gemilang bagi kerja jurnalisme Amerika Serikat (AS). Klaim ini tentu saja berangkat dari pengungkapan dua kasus besar oleh dua surat kabar terkenal: The New York Times dan The Washington Post.

Dua kasus bermuatan skandal politik yang akhirnya memaksa orang nomor satu Negeri Abang Sam (AS) saat itu, Richard Nixon, mengundurkan diri dari kursi presiden.

Dua tema liputan yang mengantarkan The Times, sebutan The New York Times dan The Post, panggilan The Washington Post, meraih penghargaan The Pulitzer Prizes untuk kategori public services.

Ternyata, masalah kemanusiaan tidak lantas lenyap setelah mereka semua mengecil

Penyusutan tubuh manusia hingga ukuran yang paling mini atau setinggi korek api rupanya masih menjadi tema menarik untuk genre film fiksi ilmiah. Setelah ada petualangan empat bocah yang menjalani hidup di tubuh mini dalam Honey, I Shrunk the Kids (1989), pahlawan super bertubuh sebesar semut, Ant-Man (2015), kemudian muncul.

Tampaknya, sutradara Alexander Payne ikut tergoda untuk menggarap film sejenis itu. Sutradara lulusan Universitas Stanford ini memutuskan untuk menjadi pengarah di produk sinematik terbarunya berjudul Downsizing (2017). Namun tentu saja, Payne punya resep sendiri untuk meracik tema film yang boleh dibilang tidak segar lagi ini.

This is Afghanistan, the graveyard of many empires

Tolong singkirkan sejenak kesan yang mungkin muncul dari sebuah film perang garapan Hollywood yang lekat dengan cerita Rambo dan anti-kalah. Hilangkan juga rasa curiga bahwa produk sinematik bertema perang ala Amerka merupakan upaya unjuk gigi atau gagah-gagahan semata, semacam show of force.

Meskipun benar terselip citra unjuk kehebatan dan, tentu saja, akhir dramatis yang berujung pada kemenangan, tetapi, tampaknya, 12 Strong, tidak diproduksi semata hanya untuk itu.