Hal Ihwal mengenai Keterasingan dalam “Pingkan Melipat Jarak”

Pingkan terjebak dalam sebuah penyangkalan atas kenyataan hidup, bahwa Sarwono tengah “sekarat”

Asumsikan kita telah membaca novel pertama dari trilogi Hujan Bulan Juni. Ada Pingkan yang baru tiba di Indonesia, sejak keputusannya menempuh studi di Jepang, dalam rangka kunjungan beberapa mahasiswa negeri Sakura ke kampus UI. Ada Katsuo, kolega yang menyimpan perasaan cinta kepada Pingkan, yang turut menemani gerombolan peserta didik itu.

Sementara Sarwono, peneliti FISIP-UI, yang baru memamerkan tiga sajak tentang perasaannya kepada Pingkan tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Ia tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Pingkan dan Katsuo mengetahui kabar itu.

Berangkat dari titik ini, novel kedua dari trilogi Hujan Bulan Juni, Pingkan Melipat Jarak, melanjutkan narasinya.

Pingkan, secara mendadak, mengalami kehilangan “diri”. Ia seperti hidup dalam lamunannya bersama dengan Sarwono yang kini terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Ia terjebak dalam sebuah penyangkalan atas kenyataan hidup, bahwa Sarwono tengah “sekarat”.

Dari sudut pandang Pingkan, kita diminta untuk lebih jeli menempatkan tokoh itu: apakah ia tengah berada di alam nyata atau sedang bertualang di alam bawah sadar? Ya, jiwanya kini sering bolak-balik dan keluar-masuk raga. Sejak mengetahui Sarwono terbaring tak sadarkan diri berhari-hari, Pingkan seperti menyalahkan diri sendiri.

Apalagi diketahui sebelum lelaki Jawa kesayangan Pingkan itu dirawat, Sarwono lebih sering mengurung diri dalam kamarnya, menyusun puisi tentang Pingkan, yang ditulis pada kertas yang berlembar-lembar, dan kini berserakan. Pingkan seolah menyimpan perasaan bersalah sekaligus penyesalan yang ia sendiri sebenarnya kebingungan akan apa yang benar-benar salah dan disesalkan.

Sementara Sarwono, porsi ceritanya nyaris dilahap kisah tentang Katsuo, kolega Pingkan yang diam-diam mencintai perempuan berdarah Jawa-Menado itu. Tokoh cerita ini lebih banyak mendapatkan eksplorasi di novel kedua dari trilogi Hujan Bulan Juni.

Inilah cerita betapa Katsuo, juga, sama dengan Pingkan, mengalami keterasingan. Lelaki kelahiran Okinawa ini sering menganggap tata cara hidupnya berbeda dengan yang berlaku di Hokkaido. Kebudayaan Jepang, kata dia, pada hakikatnya tidak tunggal. Di kalangan orang Jepang, mereka yang berasal dari Okinawa dianggap “bukan Jepang”, alias “liyan”.

Suatu perasaan yang menemukan kesamaan irama dengan Pingkan yang seringkali mengeluhkan jati dirinya antara menjadi oranb Menado, daerah asal ayahnya, atau orang Jawa, tempat kelahiran sekaligus juga daerah asal ibunya. Kegelisahan yang semakin mengkristal, semakin menegaskan kediriannya yang “liyan”, kala ia berkumpul dengan keluarga besar Pelenkahu.

Identitas “liyan” yang juga membuat Katsuo minder mendekati Pingkan karena bukan kelahiran Indonesia, lebih khusus lagi Jawa atau Menado. Kondisi yang kemudian mengasingkannya dalam relasinya dengan Pingkan dan Sarwono.

Di sini kita juga akan lebih banyak berhadapan dengan dunia metafisika Jawa dan Jepang. Ibu Hadi, ibunda Sarwono, yang menganggap anaknya tidak menderita sakit biasa melainkan mengalami kepergian jiwa/roh, memasang inthuk-inthuk (sesaji penangkal gangguan gaib) di depan rumahnya. Berharap agar roh Sarwono masuk kembali ke dalam jasadnya.

Adapun Katsuo menganggap Sarwono telah kehilangan mabui­-nya, semacam roh/jiwa, yang mengharuskannya menjalani upacara mabui-gumi (pemanggilan roh). Sebuah upaya yang biasa ia saksikan semasa tinggal di Okinawa karena ibunya adalah seorang kaminchu atau “orang pintar” di tempat tinggalnya.

Dengan begitu, Pingkan Melipat Jarak, tidak semata mengisahkan gejolak batin Katsuo dan Sarwono tentang perasaan cintanya kepada Pingkan, melainkan juga bercerita tentang persoalan metafisika, budaya, dan konsep “liyan” atau “yang lain”, mereka yang merasa berada di pinggiran, berada d luar inti, semacam keterasingan.

Semua terasa asing kalau kau berada di tempat asing (hal. 3)

Dalam kondisi itu, Pingkan harus melipat jarak. Entah mendekat kepada pusat atau pinggiran. Apakah mendekat kepada inti masalah yakni Sarwono atau mendekat ke pinggiran yakni Katsuo atau orang lain yang mungkin muncul di novel ketiga.

Pingkan sadar waktu terus berjalan meski ia tidak tahu hingga berapa lama lagi ia harus menunggu, menanti Sarwono atau Katsuo atau orang lain? Kini yang ia perlukan adalah waktu jeda yang selama ini luput dari pertimbangannya.

Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling … (hal. 106)

Tapi sebagai pengujung cerita novel kedua sekaligus pengantar untuk novel ketiga, pernyataan Pingkan yang kini sedang asyik melipat banyak bangau kertas mengundang kita untuk mengira-duga. Aku tidak mau menjadi Sadako Sasaki

Apakah dengan begitu, ia tidak mau melepas hidup seperti mendiang Sadako Sasaki yang menjelang kematiannya melipat hampir 1.000 bangau kertas berharap dewa akan mengabulkan permintaannya? Apakah dengan begitu Pingkan enggan mati karena cintanya kepada Sarwono?

Atau justru itu penegasan akan perjuangan yang tak kenal henti untuk terus mengharapkan kesembuhan Sarwono?

Semoga tidak ada lagi keterasingan dalam novel ketiga nanti. Semoga muncul kejutan lain seperti kejutan saat hujan turun di bulan Juni.

—–

Pingkan Melipat Jarak (Novel Kedua dari Trilogi Hujan Bulan Juni)

Penulis: Sapardi Djoko Damono; Penyelia Naskah: Mirna Yulistiani; Perancang Sampul: Aidha Asri; Penata Letak: Iwan Gunawan; Proof Reader: Sasa Tebal: 121 Halaman; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama; Tahun Terbit: April 2017 (Cetakan Pertama Maret 2017); ISBN: 978-602-03-3975-7

Advertisements

One thought on “Hal Ihwal mengenai Keterasingan dalam “Pingkan Melipat Jarak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s