Hujan Bulan Juni dan Sepasang Kekasih yang Terjebak dalam Labirin Cinta

Sarwono dan Pingkan dihadapkan pada kepelikan dan keruwetan perasaan sayang yang mengendap dalam batinnya masing-masing

Sarwono adalah seorang peneliti di Prodi Antropologi FISIP-UI. Sementara Pingkan menekuni bahasa dan kebudayaan Jepang di kampus tersebut. Keduanya terlibat cinta dan kasih sayang yang intens. Orang tua Sarwono dan Pingkan merestui hubungan mereka. Tapi, jika cuma tema besar ini yang muncul, cerita pasti sudah rampung, dan tentu saja, berakhir bahagia, nyaris tanpa konflik yang kuat.

Namun, Hujan Bulan Juni tidak menawarkan cerita semacam itu. Mustahil juga bagi penulisnya, Sapardi Djoko Damono, membuat cerita pertama yang sesederhana itu untuk sebuah rencana trilogi Hujan Bulan Juni. Akhirnya, gerombolan situasi pelik pun bermunculan dalam cerita. Tentu bukan melulu karena kehadiran pihak ketiga melainkan juga sajian situasi pelik yang menyentuh sisi budaya, konsep liyan, dan agama.

Ya, sepasang kekasih itu akhirnya dipaksa masuk, oleh penulisnya, terjerembap ke dalam labirin yang bernama kasih sayang. Keduanya dihadapkan pada kepelikan dan keruwetan perasaan yang mengendap dalam batinnya masing-masing. Tentu saja itu kondisi yang disadari oleh keduanya sebab mereka meyakini bahwa kasih sayang beriman pada senyap (hal. 45).

Kesenyapan yang akhirnya membawa Sarwono untuk menimbang-nimbang rasa sayangnya kepada Pingkan karena penyakit paru-paru basah yang dideritanya bisa sangat mematikan, yang bila kematian itu terjadi, tentu membuat Pingkan merasa kehilangan. Kesenyapan yang juga berkisar tentang perbedaan budaya dan agama yang seolah membelah keduanya dalam wilayah hidup yang berlainan.

Pingkan pun merasakan hal yang sama, menimbang-nimbang beberapa hal. Perasaan batin berupa ajakan kepada Sarwono untuk pindah ke keyakinan yang sama dengannya agar kerabatnya bisa menerima Sarwono. Perasaan batin yang pada satu sisi ingin merengkuh Sarwono tetapi pada sisi yang lain ingin membahagiakan semua orang, termasuk kerabat ayahnya dari Menado.

Kegelisahan Sarwono dan Pingkan perihal perbedaan agama, di antaranya, muncul dalam dialog yang terjalin kala keduanya bermimpi di halaman 39-43. Kegelisahan serupa yang juga terungkap dalam dongeng Pingkan dan Matindas yang kerap membuat Sarwono maju-mundur dalam memperjuangkan cintanya kepada Pingkan.

Tetapi keduanya sadar, hubungan yang jelimet semacam itu tidak bisa menjadi alasan keduanya untuk kemudian berpisah. Layar sudah berkembang, genderang perang sudah ditabuh, dengan begitu keduanya meyakini bahwa cinta mereka harus terus diperjuangkan, semacam usaha pantang pulang sebelum padam.

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri … (hal. 66)

Dalam novelnya ini, Sapardi Djoko Damono seperti berusaha untuk setia kepada tema kesederhanaan cinta yang tetap saja, sebenarnya, tidak sederhana, dalam buku kumpulan puisi berjudul serupa, Hujan Bulan Juni.

Bagaimana bisa kita sebut puisi Aku Ingin: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu//Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada, merupakan puisi yang sederhana?

Pada dua platform cerita itu, novel dan puisi, penulis seolah ingin menyampaikan sebuah kisah perjuangan dua manusia yang tengah mengejar cinta sejati dengan cara yang seolah sederhana namun terselip persoalan atau ungkapan pelik di dalamnya. Kepelikan, dalam novel, yang tersaji dalam banyak monolog batin milik Sarwono dan Pingkan.

Ya, sebagian besar narasi novel ini memuat pergolakan batin Sarwono dan Pingkan dalam memahami kasih sayang yang mereka rasakan. Ungkapan batin yang juga mengajak kita untuk turut serta berempati pada perasaan yang tengah dialami sepasang kekasih ini.

Seperti ungkapan hati Sarwono kala melihat betapa banyak sesuatu yang seragam di hadapannya, seolah hendak menegasikan hubungannya dengan Pingkan yang memiliki perbedaan identitas diri, Jawa dan muslim untuk Sarwono serta Menado-Jawa dan penganut Katholik untuk Pingkan.

Sejak menjadi mahasiswa ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga, Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam (hal. 88)

Ucapan batin yang juga menyelipkan opsi lain bilamana Sarwono lenyap dalam pilihan Pingkan atau sebaliknya, Ada nama Pak Tumbelaka yang baru saja menyelesaikan studi MA di Amerika yang naksir berat dengan Pingkan dan jadi pilihan utama keluarga Pingkan di Menado. Ada juga nama Katsuo, mahasiswa asal Jepang, yang disebut pernah dekat dengan Pingkan.

Adapun dari Sarwono, muncul nama Dewi, perempuan Sunda, rekan seangkatannya Sarwono yang kepincut dengannya, dan kini bekerja di Prodi yang sama dengan Sarwono.

Tapi ujung dari kepelikan itu akan terangkum dalam sajak-sajak buatan Sarwono yang terbit dan ditayangkan di koran Swara Keyakinan tentang perasaannya kepada Pingkan. Akhir cerita yang sekaligus menjadi pengantar untuk novel kedua dalam trilogi Hujan Bulan Juni, berjudul Pingkan Melipat Jarak.

kita tak akan pernah bertemu:/aku dalam dirimu//tiadakah pilihan/kecuali di situ//kau terpencil dalam hatiku

di jantungku/sayup terdengar/debarmu hening//di langit-langit/tempurung kepalaku/terbit silau/cahayamu//dalam intiku/kau terbenam (hal. 133)

Novel Hujan Bulan Juni tidak sulit untuk dibaca meskipun kita harus rela memberikan cukup waktu untuk memahami sejumlah puisi yang tersaji di tengah cerita. Tujuannya supaya kita bisa memahami keseluruhan cerita dan merasa siap untuk menekuni pembacaan novel keduanya nanti.

Tetapi kita juga harus sejenak mencari tahu makna ungkapan Jawa yang banyak tersaji tanpa disertai artinya. Meskipun pada beberapa ungkapan, kita seolah bisa menebak maknanya, tetapi karena beberapa ucapan Jawa ada yang disertai arti, seperti, pidak pedarakan=kelas rendah (hal. 19) dan pengung=bodoh (hal. 20), novel ini jadi terasa tidak konsisten dalam membubuhkan arti ungkapan Jawa.

Meski demikian, tentu saja hal itu bukan sesuatu yang rumit untuk dipahami tinimbang kerumitan yang terjadi di sekitar labirin kasih sayang Sarwono dan Pingkan.

—–

Hujan Bulan Juni (Novel)

Penulis: Sapardi Djoko Damono; Penyelia Naskah: Mirna Yulistiani; Perancang Sampul: Iwan Gunawan; Penata Letak: Fitri Yuniar; Tebal: 135 Halaman; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama; Tahun Terbit: Juni 2015 (Cetakan Pertama); ISBN: 978-602-03-1843-1

Advertisements

One thought on “Hujan Bulan Juni dan Sepasang Kekasih yang Terjebak dalam Labirin Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s