Darkest Hour: Potret Sikap Kepala Batu Perdana Menteri Churchill

Bila melihat aksi Gary Oldman di Darkest Hour, penonton, sedikit-banyak, akan lupa bahwa mereka tengah menyaksikan film fiksi bukan karya dokumenter tentang Churchill

Sebagian dari kita, tentu masih ingat suasana rapat dengar pendapat yang dihadiri Perdana Menteri David Cameron di Majelis Rendah Parlemen Inggris pada medio Juli 2016. Kala itu, Cameron, dari Partai Konservatif, dicecar sejumlah pertanyaan dari anggota Partai Buruh seputar hasil referendum yang menunjukkan mayoritas rakyat Inggris menghendaki negaranya keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Di sebuah ruang sidang parlemen dengan kursi-kursi yang saling berhadapan itu, silang pendapat antara Cameron dan anggota Partai Buruh berlangsung sengit. Tapi jangan pernah menyangka aksi lempar argumentasi itu diwarnai keributan yang destruktif atau berakhir dengan adu-jotos. Justru yang terjadi adalah riuh rendah laku canda-tawa para anggota parlemen yang tetap menyampaikan argumentasi secara logis.

Sinopsis Film

Suasana serius tapi santai semacam itu rupanya tidak terjadi di era Perang Dunia II atau setidaknya seperti Darkest Hour memotret situasi sidang perlemen pada masa kritis itu. Anggota Parlemen Inggris yang terbelah menjadi dua kubu itu tampak kesulitan membalut pendapatnya dengan canda berujung tawa.

Seluruh anggota Partai Buruh, dengan raut wajah serius, justru menyerukan mosi tidak percaya dan meminta Neville Chamberlain (Ronald Pickup) meletakkan jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris.

Situasi parlemen semacam itu, tentu saja, bisa dipahami. Sebab, sejumlah negara di Eropa tengah berada dalam ancaman penjajahan Pasukan Nazi Hitler, termasuk Inggris. Dengan begitu, ketegangan dan kekhawatiran seakan menyelimuti seluruh negara di benua biru.

Pada medio 1940 tersebut, Inggris, tengah berada di ambang kolonialisasi Der Fuhrer. Kondisi itu merupakan konsekuensi logis dari kekalahan Perancis dan Belgia oleh Nazi Hitler. Kedua negera itu, seperti diketahui, merupakan pintu gerbang untuk memasuki wilayah kedaulatan Inggris.

Di tengah kondisi itu, Chamberlain dinilai gagal mengantisipasi ancaman Nazi Hitler. Sebagai konsekuensi, ia diminta mundur dari jabatan orang nomor satu Inggris. Partai Konservatif dituntut mencari penggantinya dan sosok itu harus bisa membentuk koalisi dua partai.

Nama Menteri Luar Negeri Viscount Hallifax (Stephen Dillane) sempat mencuat, namun ia menolak dicalonkan sebagai perdana menteri.

Belakangan, para elit Partai Konservatif menyadari ada satu nama yang juga merupakan petinggi partai dan mampu merangkul Partai Buruh untuk menggalang persatuan demi melawan ancaman Nazi Jerman.

Tapi tokoh ini, sebenarnya, adalah pilihan terakhir dan malah tidak dikehendaki lantaran keputusannya kerapkali dinilai kontroversial. Pilihan kebijakannya pun sulit ditebak.

Sosok itu, tidak lain, adalah Winston Churchill (Gary Oldman). Tokoh yang dinilai sebagai “penjagal” karena pernah terlibat dalam keputusan mengirim ribuan anggota militer Inggris ke Semenanjung Gallipoli pada Perang Dunia I.

Keputusan tersebut berakhir dengan duka bagi Inggris lantaran puluhan ribu tentaranya tewas dalam perang yang kemudian dimenangkan oleh Kesultanan Utsmaniyah (sekarang Turki).

Atas rekam jejak seperti itu, para elit politik, tentu tidak terkejut dengan orasi pertama Churchill di Majelis Rendah Parlemen Inggris. Ia meneguhkan sikap never give up, never give in terhadap Hitler dan menawarkan seruan perang melawan Nazi kepada anggota parlemen. Seruan yang ditanggapi dengan keraguan oleh anggota Partai Buruh dan koleganya di Partai Konservatif.

Menanggapi sikap anggota parlemen yang skeptis, Chuchill tidak mau ambi pusing. Ia justru membentuk Kabinet Perang untuk menopang keputusannya melawan Nazi Hitler. Susunan kabinet itu juga melibatkan Chamberlain dan Hallifax.

Churchill tentu saja sadar, dua tokoh itu tidak pernah mendukung gagasan Churchill. Keduanya bahkan hendak menggulingkan kekuasaan Churchill tidak lama setelah pengangkatannya sebagai perdana menteri.

Chamberlain dan hallifax juga meminta dukungan untuk penggulingan Churchill itu kepada Raja George VI (Ben Mendelsohn) yang juga menyimpan keraguan akan kebijakan perang Churchill.

Di tengah fakta akan kekalahan pasukan Inggris di Perancis, Churchill malah mengumumkan kepada rakyat Inggris bahwa situasi di Perancis aman-terkendali. Informasi itu dinilai membohongi publik meskipun bertujuan agar rakyat Inggris tidak gelisah akan ancaman Nazi Hitler.

Untuk menjaga optimisme rakyat, Churchill bahkan mengirimkan sinyal kemenangan lewat isyarat dua jari berbentuk huruf V (Victory). Simbol itu kemudian masyhur dan dikenal sebagai V-sign Churchill.

Tapi fakta perang tidak bisa dibohongi. Pasukan Inggris di Dunkirk dan Calais terjepit. Di dua lokasi itu, seluruh pasukan harus ditarik keluar. Namun Churchill hanya punya satu pilihan: menyelamatkan pasukan di Dunkirk atau Calais.

Dengan pertimbangan kuantitatif, Churchill memerintahkan pasukan di Calais untuk mengadakan perlawanan terhadap pasukan Nazi dengan harapan tekanan militer di Dunkirk mereda. Dengan begitu evakuasi bisa dilakukan di Dunkirk yang menampung jumlah pasukan hampir 10 kali lipat daripada di Calais.

Operasi Dynamo dengan pengiriman perahu kecil, sebagian besar milik nelayan, untuk evakuasi tentara di Dunkirk, dilancarkan. Atas keputusannya itu, label “penjagal” kembali melekat pada Churchill lantaran ia telah mengorbankan pasukan di Calais untuk keselamatan tentara di Dunkirk.

Khawatir akan jatuh banyak korban lagi, Chamberlain dan Hallifax bersiasat. Keduanya meminta Churchill membuka opsi dialog untuk perdamaian dengan Nazi Hitler melalui perantara Italia.

Tetapi Churchill tetap pada pendiriannya hingga serangkaian data dan fakta kekalahan demi kekalahan pasukan Inggris mengubah segalanya. Churchill mempertimbangkan usulan Chamberlain dan Hallifax agar Inggris menjalin dialog dengan Nazi Hitler.

Di tengah keraguannya akan keputusan tersebut, Churchill melakukan survei kecil kepada rakyat Inggris dalam perjalanan kereta yang ia tumpangi dari St. James ke Westmnister. Ia bahkan meminta pendapat anggota parlemen lain terkait keputusannya untuk memerangi Nazi Hitler.

Rupanya, keputusan untuk berperang melawan Nazi Hitler merupakan keputusan kolektif yang juga dimiliki oleh sebagian besar rakyat dan anggota parlemen, bahkan belakangan oleh Raja George VI yang awalnya tidak meyakini keputusan Churchill.

Churchill memang kepala batu. Keputusannya untuk melancarkan perang terhadap Nazi Hitler akhirnya mendapatkan sambutan yang luar biasa. Sikap keras kepala yang akhirnya tercatat dalam sejarah sebagai keputusan yang berani dan turut berkontribusi atas kekalahan Nazi Hitler di Perang Dunia II. Meskipun, tentu saja, keputusan heroik itu harus menelan banyak korban jiwa dari tentara Inggris.

Ulasan Film

Alur cerita Darkest Hour tentu mirip dengan sejarah yang meliputi sosok Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill. Dengan begitu, awal dan akhir cerita bukan merupakan sebuah elemen yang dinanti-nanti. Tidak ada yang mengejutkan dari kronologi cerita.

Justru yang menjadi perhatian serius penonton adalah sosok Gary Oldman yang memerankan perdana menteri eksentrik itu. Bila melihat aksinya di Darkest Hour, penonton, sedikit-banyak, akan lupa bahwa mereka tengah menyaksikan film fiksi bukan karya dokumenter tentang Churchill.

Bagaimana tidak? Penampilan fisik Gary Oldman jauh dari perannya sebagai Sirius Black di Film Harry Potter. Di Darkest Hour, ia ditampilkan lebih gemuk dari aslinya dengan aksen suara yang lebih kasar dan sangat menyerupai gaya bicara Churchill yang sebenarnya.

Aksennya semakin kentara saat ia melancarkan orasi. Ya, Darkest Hour memang sama sekali bukan film aksi dengan adegan perang dan baku serang amunisi yang intens. Potret itu hanya ditampilkan pada porsi yang kecil seperti saat pasukan Inggris di Calais kena serang bom pasukan Nazi Hitler. Sisanya, dialog yang kuat.

Kekuatan Darkest Hour, selain peran Churchill oleh Gary Oldman, justru terletak pada dialog antar pemerannya. Termasuk kutipan Churchill saat menolak opsi damai dengan Nazi Hitler dengan mengatakan: you cannot reason with a Tiger when your head is in its mouth.

Pernyataan itu tepat sekali disampaikan oleh Churchill apalagi bila kita pernah mengetahui fakta bahwa Hitler pernah membatalkan sepihak pakta anti-perang pada 1939 antara negaranya dengan Soviet.

Lewat Operasi Barbossa, pasukan Nazi Hitler malah melancarkan serangan ke wilayah Soviet yang belakangan menjadi cikal bakal kekalahan Nazi Hitler di Perang Dunia II.

Darkest Hour juga menyimpan kekuatan sinematik pada detail kehidupan Churchill yang, salah satunya, dekat dengan cerutu dan alkohol. Lewat mata sekretarisnya, Elizabeth Layton (Lily James) dan istrinya Clementine (Kristin Scott Thomas), penonton diajak masuk ke kehidupan pribadi Churchill sesaat setelah ia menjabat sebagai perdana menteri di tengah Perang Dunia II.

Mungkin tiga alasan ini: kemiripan peran Churchill dengan sosok aslinya, dialog yang kuat antar pemerannya, dan potongan detail potret pribadi Churchill, yang membuat Darkest Hour lebih banyak mendapatkan sorotan ketimbang film biopic bertema serupa berjudul Churchill yang sama-sama tayang perdana pada 2017.

Alasan pertama sudah terjawab lewat raihan dua penghargaan bagi Gary Oldman sebagai aktor terbaik di Golden Globes 2018 dan Critics Choice Awards 2018. Alasan kedua dan ketiga boleh jadi akan juga terjawab pada gelaran Academy Award 2018 (Piala Oscar) bulan depan.

Apakah ada penghargaan untuk penulisan naskah, sutradara atau film terbaik di Penghargaan Piala Oscar 2018 untuk Darkest Hour? Februari 2018 adalah jawabannya. Kita tunggu saja.

—–

Darkest Hour (2017)

Sutradara: Joe Wright; Penulis Skenario: Anthony McCarten; Produser: Tim Bevan, Lisa Bruce, Eric Fellner; Genre: Drama Sejarah; Kode Rating: 13+; Durasi: 125 Menit; Perusahaan Produksi: Perfect World Pictures, Working Title Films; Biaya Produksi: US$ 30 Juta

Pemeran: PM Winston Churcill (Gary Oldman), Raja George VI (Ben Mendelsohn), Clementine (Kristin Scott Thomas), Elizabeth Layton (Lily James), Viscount Hallifax (Stephen Dillane), PM Neville Chamberlain (Ronald Pickup)

sumber data film: IMDB

sumber gambar: comingsoon.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s