The Killing of a Sacred Deer: Berserah Diri pada Secuplik Hidup yang Ganjil

Tetapi, pertemanannya dengan seorang remaja bernama Martin (Barry Keoghan) mengubah semua keindahan itu

Sebuah drama mitologi Yunani Kuno menjadi inspirasi cerita sebuah film modern. Tentu saja itu bukan hal baru.

Beberapa cerita sangat lawas dari negeri para filsuf itu pernah dijadikan basis untuk penggarapan sebuah film. Sebut saja film Troy (2004), Clash of the Titans (2010), Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief (2010), dan Wrath of The Titans (2012).

Dari keempat film tersebut, paling tidak, ada kesamaan genre yang diusung. Film Aksi dan Petualangan atau Action and Adventure Movie.

Tetapi, apa jadinya bila adaptasi salah satu cerita kuno itu mengambil genre drama? Sutradara berkebangsaan Yunani, Yorgos Lanthimos, menjawabnya lewat The Killing of a Sacred Deer.

Mengambil cerita dari sebuat drama Mitologi Yunani Kuno, Iphigenia at Aulis, Yorgos berusaha memasukkan elemen penting drama klasik itu ke dalam filmnya. Hasilnya, boleh dibilang ganjil, untuk tidak mengatakan aneh, bila dilihat dari kacamata kehidupan modern.

Dalam Mitologi Yunani, Iphigenia adalah anak perempuan dari Raja Agamemnon dan Ratu Clytemnestra. Iphigenia kemudian harus “dikorbankan” sebagai balasan atas pembunuhan seekor rusa suci milik Dewi Perburuan dan Alam Liar, Artemis

Bila tidak memenuhi syarat itu, kapal yang ditumpangi Agamemnon beserta keluarga dan pasukannya tidak akan melaju dan terus terombang-ambing di lautan. Sebab Dewi Artemis menahan embusan angin yang menjadi penggerak kapal.

Seolah tiada pilihan lain, Agamemnon akhirnya mengamini syarat itu dan membunuh Iphigenia. Ada dua versi untuk akhir dari cerita ini. Pertama, Iphigenia benar-benar mati di tangan ayahnya. Kedua, Dewi Artemis menyelamatkannya dengan cara menggantikan wujud Iphigenia dengan seekor hewan ternak.

Cerita itu kemudian diadaptasi ke dalam kisah seorang dokter bedah yang menjadi ayah untuk dua anak dan suami bagi istri yang berprofesi sebagai dokter mata. Sang ayah, Steven Murphy (Colin Farrell), seperti telah memiliki segalanya: keluarga yang harmonis, harta yang memadai, dan profesi yang dihormati.

Tetapi, pertemanannya dengan seorang remaja bernama Martin (Barry Keoghan) mengubah semua keindahan itu. Boleh jadi karena dasar hubungan tersebut tidak benar-benar tulus. Sebuah ikatan pertemanan dengan hantu masa lalu yang terus bergentayangan di benak mereka.

Hantu masa lalu yang seperti apa? Tentu saja Yorgos akan mencicil pengungkapan rahasia itu sedikit demi sedikit. Rahasia yang tidak pernah diungkap oleh Steven dan diakuinya sebagai sebuah kenyataan.

Hingga, secara tiba-tiba, penyakit misterius itu datang. Penyakit lumpuh yang menyerang kedua anaknya, Kim Murphy (Raffey Cassidy) dan Bob Murphy (Sunny Suljic).

Semestinya bukan sebuah masalah yang besar bagi pasangan dokter itu untuk mendiagnosis dan menyembuhkan penyakit kedua anaknya. Tetapi tampaknya, pengetahuan kedokteran tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut.

Petunjuk mengenai misteri penyakit itu, secara mengejutkan, datang dari Martin. Ia menyatakan bahwa penyakit itu merupakan sejenis pembalasan. Pembalasan atas perbuatan Steven pada masa lalu yang merenggut nyawa ayah Martin di meja operasi.

Sang istri, Anna Murphy (Nicole Kidman), yang penasaran akan jenis perbuatan apa yang suaminya lakukan hingga sebuah kutukan menimpa kedua anaknya yang tidak bersalah, mulai mencari penjelasan. Hingga cara kotor pun dilakukan lewat hubungan intim dengan rekan medis ayahnya, Matthew (Bill Camp).

Film ini, kendatipun mengisahkan tentang kehidupan sebuah keluarga, bisa dikatakan, bukan konsumsi yang tepat bagi keluarga. Aneka skandal yang ditampilkan dalam film juga tayangan kekerasan dan muatan seksual pasti bukan materi yang pas untuk tontonan keluarga.

Tetapi sebagai sebuah upaya menyusun logika cerita agar akhir kisah tampak seperti sebuah kelaziman, The Killing of a Sacred Deer, laik menjadi film jagoan seperti film garapan Yorgos sebelumnya, The Lobster (2015).

Bila menyandarkan cerita film pada kisah klasik dari Mitologi Yunani mengenai Iphigenia, yang juga disebut dalam dialog di film ini, akhir kisah sudah bisa ditebak. Tetapi proses untuk mencapai keputusan akhir itu sulit diterima akal manusia modern.

Tapi Yorgos memang sengaja menciptakan keganjilan dan absurditas itu dalam The Killing of a Sacred Deer. Keganjilan yang bahkan dipertahankan hingga akhir tayangan tanpa ada penjelasan sedikitpun tentang siapa pihak yang bertanggungjawab atas keanehan yang terjadi.

Meminjam penilaian kritikus film The New York Times, A.O Scott, untuk film ini: “tampak bahwa keganjilan merupakan kunci dari The Killing of a Sacred Deer, namun sayang, kunci itu hanya untuk membuka sebuah kotak yang kosong, dan kita hanya sia-sia saja menikmati tayangan penderitaan (di film) itu.”(asw)

—–

The Killing of a Sacred Deer (2017)

Sutradara: Yorgos Lanthimos; Penulis Naskah: Yorgos Lanthimos, Efthymis Filippou; Produser: Ed Guiney dkk.; Genre: Drama, Horor, Misteri, Thriller; Kode Rating: Dewasa (17+); Durasi: 121 Menit; Produksi: Film4, New Sparta Film, Element Pictures

Pemeran: Anna Murphy (Nicole Kidman), Steven Murphy (Colin Farrell), Martin (Barry Keoghan), Ibu Martin (Alicia Silverstone), Kim Murphy (Raffey Cassidy), Bob Murphy (Sunny Suljic), Matthew (Bill Camp)

Berdasarkan sebuah drama Mitologi Yunani Kuno “Iphigenia at Aulis”

sumber data film: IMDB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s