Apakah Jaume Collet-Serra berhasil membangun logika cerita The Commuter?

Tidak ada yang menarik bagi mereka yang menjalani hidup secara rutin. Melakukan aktivitas yang terasa sama hampir setiap hari tentu memuakkan. Begitu juga dengan Michael MacCauley (Liam Neeson) yang digambarkan terbangun, secara berulang-ulang, saat mendengar “pekikan” alarm jam, untuk kemudian mendengarkan berita di radio, sarapan, bercengkrama dengan anaknya lalu berangkat kerja bersama dengan istrinya, Karen MacCauley (Elizabeth McGovern).

Kerutinan yang juga terjadi di setiap perjalanannya menumpang kereta hingga turun di stasiun terdekat dengan kantor tempatnya bekerja. Sang sutradara, Jaume Collet-Serra, berhasil menayangkan gambaran kerutinan itu dengan cara yang efisien tanpa banyak basa-basi. Pada fragmen awal ini, The Commuter sukses menyajikan gambaran aktivitas seorang penglaju bernama Michael secara apik.

Advertisements

Pingkan terjebak dalam sebuah penyangkalan atas kenyataan hidup, bahwa Sarwono tengah “sekarat”

Asumsikan kita telah membaca novel pertama dari trilogi Hujan Bulan Juni. Ada Pingkan yang baru tiba di Indonesia, sejak keputusannya menempuh studi di Jepang, dalam rangka kunjungan beberapa mahasiswa negeri Sakura ke kampus UI. Ada Katsuo, kolega yang menyimpan perasaan cinta kepada Pingkan, yang turut menemani gerombolan peserta didik itu.

Sementara Sarwono, peneliti FISIP-UI, yang baru memamerkan tiga sajak tentang perasaannya kepada Pingkan tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Ia tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Pingkan dan Katsuo mengetahui kabar itu.

Berangkat dari titik ini, novel kedua dari trilogi Hujan Bulan Juni, Pingkan Melipat Jarak, melanjutkan narasinya.

Sarwono dan Pingkan dihadapkan pada kepelikan dan keruwetan perasaan sayang yang mengendap dalam batinnya masing-masing

Sarwono adalah seorang peneliti di Prodi Antropologi FISIP-UI. Sementara Pingkan menekuni bahasa dan kebudayaan Jepang di kampus tersebut. Keduanya terlibat cinta dan kasih sayang yang intens. Orang tua Sarwono dan Pingkan merestui hubungan mereka. Tapi, jika cuma tema besar ini yang muncul, cerita pasti sudah rampung, dan tentu saja, berakhir bahagia, nyaris tanpa konflik yang kuat.

Namun, Hujan Bulan Juni tidak menawarkan cerita semacam itu. Mustahil juga bagi penulisnya, Sapardi Djoko Damono, membuat cerita pertama yang sesederhana itu untuk sebuah rencana trilogi Hujan Bulan Juni. Akhirnya, gerombolan situasi pelik pun bermunculan dalam cerita. Tentu bukan melulu karena kehadiran pihak ketiga melainkan juga sajian situasi pelik yang menyentuh sisi budaya, konsep liyan, dan agama.

Ya, O adalah tokoh kunci sekaligus sendi bagi struktur cerita yang menghubungkan 30-an lebih tokoh dengan alur ceritanya sendiri-sendiri

Sabar jadi kata kunci saat menikmati narasi “O” karangan Eka Kurniawan. Sebab pembaca yang sabar takkan kesasar. Setidaknya terhindar dari kemungkinan tersesat saat menapaki alur cerita yang penuh percabangan.

“O” bukan novel biasa yang hanya punya alur utama cerita dan alur tambahan yang kadang berakhir menggantung. Meskipun blurb di sampul belakang buku hanya tertulis tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut, tapi novel ini jauh dari bunyi yang terdengar sederhana itu.

Membaca buku ini adalah juga berlagak menjalani aktivitas sebagai calon reporter TEMPO dan bersedia menerima masukan dari para redakturnya

Buku ini bikin kita berkhayal seolah tengah menghadapi tugas perdana sebagai calon reporter TEMPO.

Bayangkan Anda adalah seorang calon reporter yang diminta mencari dan menuliskan berita tentang apa saja yang Anda temukan di luar kantor. Beberapa saat setelah menerima tugas dari redaktur, Anda menemukan suatu kejadian dan menurut Anda layak untuk dijadikan berita.

Pada momen itu, Anda langsung mengomunikasikan kejadian yang Anda lihat kepada redaktur. Tentu saja akan ada arahan dari redaktur yang mengalir deras. Tetapi ini bukan komunikasi satu arah, Anda akan menyampaikan sejumlah hal yang menurut Anda perlu menjadi perhatian redaktur.

Setelah yakin telah memahami kejadian dan arahan redaktur, Anda mulai menulis berita.

Jangan pernah berharap akhir yang utopis untuk cerita yang distopis ini: the end will be wicked

Entah apa yang akan menjadi pokok cerita di seri ketiga Maze Runner ini jika Teresa (Kaya Scodelario) tidak berkhianat dan Minho (Ki Hong Lee) tidak diculik di The Scorch Trials (2015). Tentu saja tidak ada alasan bagi Thomas (Dylan O’Brien) untuk “berlari” mengejar kelompok WCKD atau dikejar oleh anggota pasukan Si Tikus Botak (Rat Man), Janson (Aidan Gillen).

Atas dua alasan itulah, Thomas dan alumni Glade lain yang masih tersisa, Newt (Thomas Brodie-Sangster) dan Frypan (Dexter Darden), kembali melancarkan aksi. Sejak dalam Glade, sebuah wahah di tengah labirin, tempat sekumpulan orang yang menjadi kelinci percobaan berinteraksi, ketiganya memang bersahabat. Persahabatan yang kemudian memunculkan tekad untuk menyatukan kembali teman yang “hilang”, Minho dan Teresa.

Pentingnya melandaskan penulisan kalimat berita pada logika merupakan keutamaan kedua yang harus diperhatikan para jurnalis

Berterimakasihlah kepada para jurnalis atas sajian beritanya yang bermutu kepada khalayak. Bermutu karena berita yang ditampilkan merupakan deskripsi atau hasil konstruksi atas suatu keadaan atau kejadian tanpa terselip opini atau pendapat pribadi penulisnya. Bermutu karena isi berita mengangkat persoalan yang berkembang di masyarakat dan bertujuan untuk memanusiakan manusia (hal. xi).

Hormatilah mereka, para jurnalis, yang menyajikan berita secara sederhana. Bukan karena ketidakmampuannya memerikan ide yang melangit atau istilah yang kompleks, melainkan karena hal yang rumit dan berat, kalau sudah dipegang oleh wartawan dan ditulis menjadi berita, hendaknya berubah menjadi barang yang ringan dan mudah dipahami (hal. 19).

Laut, boleh jadi, tidak menghiraukan berbagai jenis kepedihan dan kepiluan itu asalkan ada kejelasan kabar untuk keluarga dan orang terkasihnya tentang nasib yang ia alami

Novel Laut Bercerita jauh dari hal ihwal seputar laut dan aneka biotanya. Karya fiksi ini merupakan kisah seorang aktivis ’98 bernama Biru Laut Wibisana yang mengalami kehilangan sekaligus penghilangan paksa. Suatu kondisi yang kemudian menyiksa orang-orang dekatnya karena mengalami ketidakpastian.

Laut mungkin tidak pernah menyangka perjuangannya menuntut perubahan dan perbaikan sistem pemerintahan, kala itu, akan menyeret hidupnya ke dalam tempat yang gelap bahkan kelam di dasar laut. Merasakan Hening. Begitu sunyi. Begitu Sepi. Hingga ia hilang tak relevan lagi (hal. 6).

Bila melihat aksi Gary Oldman di Darkest Hour, penonton, sedikit-banyak, akan lupa bahwa mereka tengah menyaksikan film fiksi bukan karya dokumenter tentang Churchill

Sebagian dari kita, tentu masih ingat suasana rapat dengar pendapat yang dihadiri Perdana Menteri David Cameron di Majelis Rendah Parlemen Inggris pada medio Juli 2016. Kala itu, Cameron, dari Partai Konservatif, dicecar sejumlah pertanyaan dari anggota Partai Buruh seputar hasil referendum yang menunjukkan mayoritas rakyat Inggris menghendaki negaranya keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Di sebuah ruang sidang parlemen dengan kursi-kursi yang saling berhadapan itu, silang pendapat antara Cameron dan anggota Partai Buruh berlangsung sengit. Tapi jangan pernah menyangka aksi lempar argumentasi itu diwarnai keributan yang destruktif atau berakhir dengan adu-jotos. Justru yang terjadi adalah riuh rendah laku canda-tawa para anggota parlemen yang tetap menyampaikan argumentasi secara logis.

Aktris pemeran Psylocke di X-Men: Apocalypse (2016) itu mengaku telah berkali-kali mengalami pelecehan seksual dari pengarah film Rush Hour dan serial televisi terkenal Prison Break itu

Di pengujung tahun lalu, jagat perfilman Hollywood diterpa isu pelecehan seksual. Seorang perempuan, pada Oktober 2017, mengaku diperkosa oleh sutradara beken, Brett Ratner (48 tahun).

Alih-alih dianggap isapan jempol semata, kabar skandal itu semakin kencang menerpa Ratner setelah tujuh orang aktris, pada November lalu, menuduhnya telah melakukan pelecehan seksual atas mereka.

Bleeding Steel seperti tergopoh-gopoh mengampu model cerita bergaya fiksi ilmiah

Jangan lupa, Jackie Chan kini sudah seusia eyang-eyang, 63 tahun. Tapi sederet aksinya di Bleeding Steel seperti menarik kembali kenangan kita pada masa muda pria kelahiran Hong Kong ini.

Larinya tetap terlihat kencang. Lompatannya masih tampak berstamina. Bahkan, aksi jumpalitannya bikin kita bergidik. Khawatir bila ia terserang encok dan malah batal tampil di film terbarunya itu.

Sepintas, penggarapan film ini semacam usaha memperbaiki kesalahan karena film perdana Insidious malah “membunuh” tokoh penguat cerita dan peran pembeda

Siapa sebenarnya pemeran utama film Insidious dan tiga lanjutan ceritanya? Bila merujuk pada dua film pertama yang tayang pada 2010 dan 2013, Insidious tampak mengistimewakan keluarga Lambert yang beranggotakan suami-istri: Josh dan Renai serta dua anaknya: Dalton dan Foster.

Tetapi bila berangkat dari dua film terakhir yakni Insidious 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018), tampak bahwa peran Si Cenayang, Elise Rainier (Lin Shaye), begitu istimewa. Aksinya bersama Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson) dalam menyelamatkan sebuah keluarga yang diganggu oleh roh jahat mendapat sorotan utama.