Wind River: Drama Pembunuhan dan Derita Peranakan Suku Indian

Nothing is harder to track than the truth,

Dari Wind River, kabar ratusan hingga ribuan laporan orang hilang tak berpenyelesaian secara laik berembus. Di wilayah penampungan warga asli Amerika itu, perempuan keturunan Suku Indian disebut sering jadi korbannya. Saat ditemukan, mereka teridentifikasi mengalami kekerasan fisik bahkan seksual, tidak jarang berujung kematian.

Natalie Hanson (Kelsey Asbille Chow) adalah salah satunya. Di tengah malam yang pekat pada musim dingin itu, ia berlari tergopoh dengan napas sengal-sengal. Tak beralas kaki dan bersandang secara patut, perempuan itu terus melaju seperti ada sesosok makhluk jahat yang mengejarnya.

Dengan paras dan fisik yang tampak payah di padang belantara putih bersalut salju itu, kita tidak tahu sampai kapan Natalie bisa bertahan hidup.

Di pagi hari menjelang badai salju, Cory Lambert (Jeremy Renner) terperenyak. Dalam upayanya memburu hewan buas pembunuh binatang ternak, ia menemukan sesosok tubuh tersungkur di atas gundukan salju. Pada jasad yang tak lagi bernyawa itu, ada luka bekas pukulan di keningnya dan percikan darah di celananya.

Sontak, Cory berusaha menahan tangis. Selain karena kondisi naas jasad yang ditemukan itu, ia juga mengenali tubuh perempuan tersebut: Natalie Hanson. Perempuan berusia remaja ini merupakan anak rekannya yang keturunan Suku Indian, Martin Hanson (Gil Birmingham). Natalie juga teman anak perempuannya yang hilang dan ditemukan tewas tiga tahun lalu.

Bersama Kepala Polisi Suku Indian, Ben (Graham Greene) dan agen khusus Biro Penyelidikan Federal (FBI), Jane Banner (Elizabeth Olsen), Cory turut menyelisik kematian Natalie. Keikutsertaannya dalam penyelidikan ini bukan tanpa alasan.

Cory dinilai cakap melacak jejak karena profesinya sebagai pemburu hewan predator pembunuh binatang ternak. Ia juga dianggap mengenali medan Wind River yang ganas karena sering digempur badai salju.

Tapi alasan paling utama bagi Cory untuk ikut melacak sebab kematian Natalie adalah menemukan kebenaran di balik kematian anak rekannya itu.

Ia pernah mencari tahu kejadian semacam ini saat anak perempuannya hilang dan tewas tiga tahun lalu, tapi jawaban tidak kunjung datang. Cory berharap, kemampuannya melacak jejak bisa mengungkap sebab kematian Natalie.

Sebuah Drama Pembunuhan dengan Tema Kemanusiaan

Taylor Sheridan, sang sutradara sekaligus penulis naskah Wind River, tahu betul cara menyusun cerita bergenre thriller. Ia pernah tercatat sebagai nominasi penulis naskah terbaik di pelbagai penghargaan film untuk karyanya dalam produk sinematik Hell or High Water dan Sicario.

Yang menarik justru bangunan cerita drama pembunuhan dalam Wind River ini hanya menjadi bungkus untuk sebuah tema besar mengenai kemanusiaan. Taylor coba memotret aneka mala yang selama ini dirasakan warga keturunan Suku Shoshone dan Arapaho di kawasan Wind River, negara bagian Wyoming, Amerika Serikat.

Itu juga yang menjadi alasan Taylor menyematkan penjelasan di awal dan akhir cerita perihal film Wind River yang terinspirasi dari peristiwa nyata di wilayah penampungan warga asli Amerika tersebut.

Taylor mengumbar derita itu secara jeli. Lewat percakapan dan penggambaran sinematik, penonton diajak untuk turut merasakan kepedihan itu.

Misalnya saat Agen FBI Jane mencecar pertanyaan kepada ayah korban yang tidak menampakkan kesedihan atas kematian putrinya dan malah seolah menuduhnya sebagai ayah yang tidak bertanggungjawab.

Taylor kemudian menampilkan bentuk perasaan sedih warga keturunan Suku Indian yang kadang terlihat ekstrem melalui mata Jane. Sepenggal dialog dengan pesan tajam juga keluar dari mulut ayah korban, Martin: “why is it that whenever you people try to help us, you always insult us first?”

Contoh lain lagi adalah ketika Jane menyebut dirinya beruntung karena selamat dari baku tembak yang ia alami. Cory yang berjasa menyelamatkannya menampik alasan keberuntungan itu. Di Wind River, kata Cory, “luck don’t live out here.” Semuanya terjadi karena usaha yang keras untuk bertahan hidup.

Cory kemudian membandingkan betapa banyak keberuntungan terjadi di kota besar. Seperti saat orang yang tengah memelototi ponselnya waktu menyeberang jalan tapi tidak tertabrak kendaraan. Namun di Wind River, dengan musim dingin yang ekstrem, semua penghuninya dituntut untuk terus bertahan hidup.

Taylor, melalui ucapan Cory, lagi-lagi melontarkan pernyataan agar orang kota macam Jane perlu menghargai penduduk Wind River yang bisa tetap hidup meski jauh dari fasilitas pemerintah.

Kondisi ini juga digambarkan Taylor dengan keberadaan Jane selaku utusan FBI untuk menyelisik kematian perempuan keturunan Suku Indian. Jane, dalam cerita ini, adalah agen amatir di Biro Penyelidikan Federal.

595a007175157fee2045d4af40bfbeff

Komen tentang Wind River

Wind River, bagi saya, relatif berhasil menampilkan genre thriller dengan mengajak penonton untuk terus menerka siapa pihak yang bertanggung jawab dalam peristiwa pembunuhan gadis bernama Natalie.

Film ini juga berhasil menyampaikan pesan kemanusiaan lewat percakapan dan penggambaran sinematik wilayah Wind River yang terisolasi, jauh dari fasilitas pemerintah.

Wind River juga berhasil menuntaskan setiap potongan cerita yang disuguhkan. Misalnya perihal nasib Martin setelah sebab kematian anaknya terungkap dan kondisi Jane pasca baku tembak yang mematikan.

Tapi ada satu pertanyaan yang masih belum mendapatkan jawaban. Bagaimana kelanjutan hubungan Cory dengan istrinya setelah sebab kematian Natalie yang memiliki kemiripan dengan peristiwa yang dialami putrinya terungkap?

Taylor seperti mau menuntaskan pertanyaan ini melalui penggambaran sikap sang istri yang dingin terhadap Cory sebagai jawaban bahwa masa depan keduanya tidak akan pernah bersama lagi.

Ini jelas persoalan minor dari keberhasilan Taylor Sheridan membangun cerita dan penggambaran sinematik. Wind River jelas laik tonton dan haram menilai kualitasnya hanya sebatas melihat gambar poster dan cuplikan film.(asw)

—–

Sutradara dan Penulis Naskah: Taylor Sheridan; Produser: Matthew George, dkk; Genre: Thriller, Mystery; Durasi: 107 menit; Bujet: $ 11 juta; Tahun Tayang: 2017; Pemeran: Jeremy Renner (Cory Lambert), Elizabeth Olsen (Jane Banner), Gil Birmingham (Martin Hanson), Graham Greene (Ben), Jon Bernthal (Matt Rayburn), Kelsey Asbille Chow (Natalie Hanson)

Terinspirasi dari peristiwa nyata ihwal maraknya laporan orang hilang dan kekerasan pada perempuan di wilayah penampungan Suku Indian,