Night Bus: Bus Malam Saksi Konflik dan Derita

Aneka ngeri hadir di sepanjang perjalanan bus

2042138image5780x390
sumber gambar

Pada intro, ingatan kita bakal terseret ke tayangan mula film Harry Potter: gumpalan awan, meski tidak kelam, membetot mata kita selama lima detik lalu dari kepulan awan itu, sorot kamera membidik satu titik di permukaan bumi, mirip aplikasi google earth saat zoom in, yang kemudian menayangkan sebuah terminal bus bernama Rampak. Tapi tenang, Night Bus bukan film sihir laiknya Harry Potter. Tapi nuansa gelap memenuhi hampir seluruh durasi tayangan. Ini memang film gelap tentang laku (lancung) manusia yang kini masih lestari.

Alkisah, sejumlah penumpang, dengan tujuannya masing-masing, bertolak dari Rampak menuju Sampar dengan menumpang Bus Babad yang tampak usang dan lusuh. Mereka sadar akan potensi mala di sepanjang lin menuju Sampar. Dua pekan lalu, konflik di Sampar dikabarkan pecah. Sekelompok orang yang menamakan diri sebagai milisi Sampar Merdeka (Samerka) bentrok dengan aparat pemerintah. Meski kini perundingan tengah berlangsung, suasana damai tentu hanya jadi spekulasi.

Meski begitu, niat para penumpang menuju Sampar tetap tidak terbendung. Bus melaju pada sore hari dan dijadwalkan tiba di lokasi tujuan sebelum fajar. Sejak mula, aneka pertanda sudah tersaji. Satu penumpang urung berangkat, perasaannya tak enak; kabar perundingan gagal dari pos jaga pertama di perlintasan menuju Sampar hingga kemunculan seorang pria dengan darah bersimbah yang memaksa turut naik bus. Laju konflik cerita Night Bus memang apik. Tiap konflik dicicil kadarnya: mulai dari sederet tanda hingga mewujud pada serangkaian peristiwa.

Fokus cerita benar-benar melekat pada Bus Babad. Seperti film Train to Busan (2016) yang memusatkan tayangan pada kereta beserta upaya sejumlah penumpangnya agar selamat dari kepungan zombie yang menguasai kota, Night Bus juga demikian. Aneka ngeri hadir di sepanjang perjalanan bus. Kedua film ini juga bikin kita penasaran ihwal siapa yang bakal selamat di akhir tayangan: Dead or Alive (DoA) Movie.

Tapi Night Bus bukan cuma soal ngeri. Film besutan sutradara Emil Heradi ini menghadirkan tangis, darah, jerit, juga aneka petuah yang membungkus tema utama cerita: derita manusia akibat konflik horizontal. Emil coba mengakomodasi sejumlah kisah yang muncul di seputar konflik semisal perang perebutan kedaulatan wilayah. Ada kehilangan seorang ibu yang anaknya turut serta membela salah satu pihak yang berselisih. Ada juga seorang perempuan korban nafsu birahi anggota pasukan tempur. Bahkan ada pula pencarian orang akan rekannya yang hilang di tengah kerjanya sebagai sukarelawan di tengah konflik. Semua persoalan itu kumpul jadi satu dalam sebuah bus.

fit
sumber gambar

Meski mengeksploitasi cerita ngeri di seputar konflik, Night Bus tetap jenaka. Kehadiran Teuku Rifnu yang memerankan seorang kernet bus sukses bikin rancak cerita yang berbalut suasana malam nan gelap. Selain Rifnu, petuah Agus Nur Amal/PM Toh, yang berperan sebagai orang tua tuna netra laik dapat pujian. Tanpa mereka, Night Bus cuma film thriller yang menjual kengerian semata. Tapi masih ada satu lagi peran yang laik jadi teladan, yakni, Yayu Unru sebagai sopir bus bernama Amang. Dialog dan lakunya bersama Teuku Rifnu pasti mengundang tawa dan air mata. Amang laik jadi teladan karena beberapa aksi epiknya menyelamatkan penumpang. Semua sopir, contohlah Amang!!! Hehe.

Jelang pengujung tayangan, kita bakal disuguhkan adegan yang bikin jengkel ihwal dalang di balik konflik yang terjadi antara Samerka dan aparat pemerintah. Boleh jadi, dalang seperti itu ada di setiap konflik dan tentu saja Night Bus kembali mengingatkan kita akan bahaya provokator: hati-hati hati hati hati hati provokasi (slogan yang sering dinyanyikan saat demo, hehe).

Meski tampak apik. Beberapa catatan perlu disampaikan mengenai film yang berdurasi dua jam lebih ini. Pertama, berkaitan dengan efek visual dua helikopter yang muncul di awal tayangan. Benda ini seperti tak ada guna lantaran hanya lewat dan muncul lagi dalam keadaan tumbang di pengujung film. Kalau helikopter ini hadir di tengah tayangan semisal membantu para penumpang atau sekadar melempar tembakan untuk membubarkan bentrokan, benda ini jadi berguna. Kalau hanya melintas saja di awal tayangan, kehadirannya seperti hanya pamer efek visual.

Kedua, beberapa dialog terdengar tidak jelas. Tata suara yang sedikit bermasalah ini ditambah dengan ketidakjelasan gerak mulut para pemerannya lantaran suasana gelap bikin kita sekip, kehilangan cerita. Ketiga, saya menduga, ada “penumpang gelap” dalam bus. Ada sejumlah orang yang tidak muncul dalam bus pada tayangan mula tetiba muncul di tengah tayangan dan hilang lagi di akhir film. Mungkin mereka kena tangkap anggota di pos jaga? Hehe.

sinopsis-night-bus-2017
sumber gambar

Kendati begitu, Night Bus pantas jadi tontonan yang menarik dan siap bikin kita penasaran di tiap adegannya. Film yang diproduseri Darius Sinathrya dan Teuku Rifnu ini juga mengajak kita merenung: conflict doesn’t choose its victims. Siapa saja bisa jadi korban konflik. Durasi tayang dua jam lebih untuk film Indonesia jelas menakjubkan. Sebagian besar berisi dialog tapi tenang, muatannya jenaka dan tentu saja ada teladan di sana. Seperti kata mendiang Roger Ebert, sang juru ulas film legendaris, film tanpa muatan teladan cuma bikin garing, hehe.

—–

Night Bus (2017)

“conflict doesn’t choose its victims”

Sutradara: Emil Heradi; Produser: Teuku Rifnu, Darius Sinathrya; Penulis Naskah: Rahabi Mandra; Genre: Aksi, Thriller; Durasi: 135 menit

Pemeran: Bagudung (Teuku Rifnu), Amang (Yayu Unru), Yuda (Edward Akbar), Mahdi (Alex Abbad), Annisa (Hana Prinantina), Bu Nur (Laksmi Notokusumo), Laila (Keinaya Messi Gusti), Rifat (Arya Saloka), Idrus LSM (Abdurrahman Arif), Luthfy Orang Tua Tuna Netra (Agus Nur Amal/PM Toh), Umar (Torro Margens), Mala (Rahael Ketsia), Suha (Lukman Sardi), Anggota Samerka (Donny Alamsyah), Komandan Pos Jaga (Tio Pakusadewo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s