ROGER EBERT, MENYELIPKAN TELADAN PADA SINEMA

Roger Ebert, Si Kritikus Film Pecinta Sinema

Ia membangun narasi dengan jujur. Film apik pasti menuai pujian dan tentu saja nyaris dapat empat bintang. Film buruk, siap-siap dapat tomat busuk dan pasti “nyaris” dapat bintang. Tapi tenang, ia tipe orang jenaka. Mustahil ia menghina sebuah karya sinema. Kritiknya dipoles dalam ungkap canda.

Tiap tulisan Roger Ebert selalu jujur dan pasti terselip lelucon di dalamnya. Seperti dalam artikel Reflections after 25 years at The Movies yang terbit pada 1992, Peraih Hadiah Pulitzer untuk Kritik Film ini tidak lupa curhat, sebagai ungkapan kejujuran, dan tentu saja bikin kelakar. Tidak aneh bila sang istri, Chaz Ebert punya kenangan sendiri tentang tulisan ini sehingga ia menjadikannya sebagai salah satu artikel kesukaan.

Di awal narasi, Ebert mengaku, dirinya dulu ogah-ogahan menyandang profesi sebagai juru ulas film. Ia sempat berpikir hanya bakal bertahan selama lima tahun sebagai kritikus film. Rencana besarnya menjadi kolumnis cerita fiksi yang kemudian bakal terkenal sebagai seorang novelis besar yang karyanya diterima banyak kalangan.

Di sini Ebert mulai berkelakar. Tapi lamunan menjadi seorang novelis kenamaan mendadak rusak kala ia tengah asyik tenggelam membaca karya Dickens dan tetiba terdengar dengkur seekor anjing. Baginya, ini sebuah ejekan yang membawa pesan: “jangan mimpi!!!” Sampai seekor anjing pun berani menyela khayalannya.

Ebert kemudian mengklarifikasi, di usia ke-25 karier kepenulisannya sebagai kritikus film, ia tidak punya karya novel yang dibanggakan, tidak juga memelihara anjing, tapi ia jujur, Ebert punya koleksi Dickens. Dan tentu saja, ia menjalani profesi sebagai juru ulas film. Ebert menikmati kenyataan itu.

Buktinya, selama 25 tahun, pencipta ungkapan two thumbs up ini sudah memelototi 10 ribu film dan 6 ribu di antaranya ia tuangkan ke dalam sebuah ulasan. Terang saja kalau ia tidak ingat sebagian besar film yang telah ditonton. Tapi film yang laik kenang, bagi Ebert, harus selalu melekat dalam ingatan. Menurutnya, tidak ada yang disebut film jadul. La Dolce Vita, misalnya, film itu, baginya, tetap tak lekang di makan waktu dan laik diperlakukan sama dengan film yang tayang belakangan.

Untuk menopang prinsip itu, tidak jarang, Ebert menonton film bisu dan tetap saja tidak pernah menganggapnya sebagai film lawas. Memang saat pertama kali menontonnya, ada perasaan aneh, seperti ketinggalan zaman. Tapi saat ia engah bahwa ini hanya soal rambut dan kostum yang terlihat kuno, Ebert langsung menganggap sebuah film bakal abadi.

Maestro kritik film ini rupanya punya selera sendiri soal film. Bila terpaksa harus menyamaratakan (baca: generalisasi), film kesukaannya harus berkaitan dengan Orang Baik. Ia tidak menghiraukan ujung cerita yang sedih atau senang. Tidak masalah juga bila akhirnya si jagoan menang atau kalah. Karena bagi Ebert, film yang baik bukan soal apa yang terjadi dengan para pemerannya tetapi soal ada-tidaknya keteladanan di dalamnya.

Casablanca dan The Third Man bercerita tentang orang yang melakukan hal benar. Tapi tentu saja, tidak semua film bercerita tentang Orang Baik. Ebert juga suka film tentang orang jahat yang punya selera humor. Ia mencontohkan, Orson Welles dalam The Third Man yang melempar dialog jenaka sehingga penonton kadang kala bisa memaafkan laku jahatnya dalam cerita karena kelakar yang disampaikan.

Selain tentang Orang Baik dan orang jahat berselera humor, Ebert juga suka film yang menampilkan suka cita aktif. Seperti seorang tokoh film yang lari karena bahagia di tengah guyuran hujan. Atau pemeran yang asyik menari di loteng rumah. Suka cita, bagi Ebert, harus dirayakan dalam sebuah laku kegiatan.

Untuk film horor, Ebert punya seleranya sendiri. Ia tidak suka cara menakuti penonton yang tetiba menghadirkan si hantu di muka layar dalam bingkai yang hampir penuh. Baginya, teknik menghadrikan ngeri seperti itu sudah usang. Ebert mau merasakan ngeri yang terus dipelihara bahkan dinanti kehadirannya meski akhirnya urung muncul.

Film tema cinta romantis, Ebert tidak terlalu yakin bakal suka. Ia tidak terlalu peduli pada film yang berlebihan mengumbar hubungan asmara yang terlihat serius dan baginya malah tampak konyol. Ebert suka bila tema cinta dipakai secara proporsional, sebatas untuk membuat para pemerannya senang.

Khusus untuk sutradara kesukaan, Ebert mantap menyebut Martin Scorsese. Teknik pengambilan gambar Martin, menurut Ebert, sangat tidak biasa. Kamera yang ia mainkan sangat aktif. Kamera itu tidak melulu bergerak mengikuti peristiwa cerita. Kamera Scorsese, terang Ebert, justru terlibat dan ikut serta bersama peristiwa.

Seperti pada satu adegan dalam film GoodFellas di saat-saat terakhir Henry Hill menghirup udara bebas sebelum dicokok polisi. Scorsese menciptakan cara unik pengambilan gambar yang membuat penonton turut merasakan perasaan dan pikiran Hill. Untuk menarik penonton agar turut merasakan emosi mungkin mudah, seperti kata Hitchcock, play them like a piano. Tetapi sulit untuk menghadirkan nuansa yang ada dalam pikiran tokoh cerita. Di tahap ini, Scorsese bisa. Ia istimewa.

Di ujung artikel, Ebert mengajak pembaca untuk ikut merenung soal denyut perfilman dewasa ini. Kala kita pergi ke bioskop setiap hari, kadang-kadang kita merasa banyak film yang tayang di bioskop tampak biasa-biasa saja. Bahkan sekadar diproduksi untuk memenuhi selera pasar yang rendah, bukan malah mencipta karya yang edukatif. Tapi di tengah kondisi itu, kita pasti menemukan karya apik semisal Wings of Desire; Do The Right Thing; Drugstore Cowboy; atau Beauty and the Beast.

Atas film berkelas itu, seringkali, saat melakukan aktivitas, kita teralihkan pada pesan dan teladan pada film apik tersebut. Tetiba seperti ada ilham. Itulah sinema yang harus tercipta dan terus lestari.

sumber: rogerebert.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s