Danur: Berbagi Pengalaman Mistik lewat Karya Sinematik

Lirik yang disenandungkan itu, rupanya bertujuan memanggil arwah tiga hantu

danur-showcase-banner-new-62a49a7f7802809de304a56f461e77ac_420x280
sumber gambar

Danur, pada dirinya, sudah menyimpan debar: air yang keluar dari bangkai (mayat) yang membusuk. Sebelum jadi karya sinematik, Danur telah menebar “ngeri” lebih dulu lewat novel garapan Risa Saraswati, Gerbang Dialog Danur. Inilah fiksi misteri yang diadaptasi dari pengalaman pribadi Risa, seorang perempuan indigo, yang diberkati kemampuan melihat hantu, bahkan menjalin pertemanan dengannya.

Nuansa angker pada film besutan Awi Suryadi ini kian tebal setelah beredar cerita mistis di balik proses produksinya. “Sahabat” Risa, lima makhluk kasatmata, sempat menolak kisahnya diangkat ke layar lebar meskipun belakangan mengamininya dengan sejumlah syarat. Pemeran Risa, Prilly Latuconsina, seperti enggan lepas dari sorotan mistis juga. Ia dikabarkan, merelakan mata batinnya dibuka agar bisa melihat hantu yang membantunya menghayati tokoh dan karakter Risa Saraswati.

Aneka cerita yang menyelimuti proses produksi film berdurasi 78 menit itu seolah tidak mengada-ada. Sejak mula adegan, Danur sudah bikin bulu tengkuk berdiri. Ritme Lagu Sunda, Boneka Lucu-yang biasanya bernada ceria-tetiba mengalun laun, terasa gelap, bak pencahayaan yang temaram pada latar ruang adegan Risa yang tengah memainkan tuts piano.

Abdi teh ayeuna, Gaduh hiji boneka. Teu kinten saena, Sareng lucuna. Ku abdi diacukan, Acukna sae pisan. Cing mangga, tingali boneka abdi.

Danur_film
sumber gambar

Lirik yang disenandungkan itu, rupanya bertujuan memanggil arwah tiga hantu yang belakangan diketahui bernama Jansen, William dan Peter. Ya, ketiganya adalah “teman” main Risa sejak kecil. Mereka muncul bersamaan dengan harapan Risa yang kesepian akan kehadiran sosok teman di hari ulang tahunnya yang ke-8. Mereka main bersama hingga suatu hari Risa tersadar, tiga sahabatnya bukan manusia.

Sang sutradara, Awi Suryadi, seperti engah dengan wejangan Alfred Hitchcock tentang pentingnya menjaga ketegangan (suspense) untuk menghindari rasa bosan. Kritikus film kenamaan, Roger Ebert, pernah mengutip sang maestro film langgam suspense itu dengan menyatakan, film horor, misteri ataupun thriller sebaiknya menjaga ritme ketegangan selama durasi tayangnya agar penonton tidak bosan.

Ia melanjutkan, bila ada dua puluh orang mengelilingi sebuah meja dan di bawah meja itu ada sebuah bom yang kemudian meledak, bagi Hitchcock, itu namanya teror. Merawat ketegangan yang ia maksud adalah menghadirkan rasa was-was, deg-degan, dan ngeri kepada penonton yang tahu ada bom di bawah meja tetapi bom itu, akhirnya, tidak meledak.

Danur, bagi saya, dalam beberapa adegan, mempraktikkan petuah itu dengan baik. Seperti saat Asih (Shareefa Daanish) masuk ke dalam rumah dan dianggap sebagai suster yang akan menjaga nenek Risa. Kita tahu Asih bukan makhluk kasatmata. Lihat saja caranya memandang dan wajahnya yang pucat. Tapi kita seperti dipancing untuk terus menerka kelakuan Asih di setiap adegan. Kita pun dibuat penasaran tentang sosok Asih.

Awi seolah enggan menampilkan wajah hantu yang seram, disfigurement (salah satu elemen dalam film horor), sejak awal. Di sinilah, tokoh Asih yang diperankan Shareefa Daanish menjadi tepat. Tidak ada yang aneh pada tampilannya. Tapi wajah dan senyum yang datar serta mata yang terbuka lebar membola mengingatkan kita akan tokoh Dara pada film Rumah Dara. Air muka seperti itu, tampak sangat khas pada wajah Suzana, ikon tokoh horor Indonesia.

Elemen pencipta suasana horor tampak lengkap pada Danur. Latar waktu yang sebagian besar senja dan malam, pencahayaan yang temaram, latar musik yang bikin bergidik, hujan dan bunyi petir, serta tempat dan perangkat yang mengandung aura mistis. Semua elemen itu kompak saling melengkapi satu sama lain demi membangun nuansa ngeri. Di sini saya mau menyoroti poin terakhir.

Danur-BookMyShow-1-e1490705554123
sumber gambar

Sang sutradara berusaha melekatkan poin terakhir itu dengan tradisi mistis orang Indonesia. Seperti rumah tua berukuran besar dengan lampu temaram yang kerap dinilai menjadi hunian kesukaan hantu. Pohon tua besar dengan daun lebat yang sering dianggap ada “penunggunya.” Atau waktu senja (biasa disebut waktu maghrib) yang ditengarai menjadi waktu temu antara dunia nyata dan gaib. Asosiasi mistis yang dipercaya orang Indonesia ini turut memperkuat kesan ngeri pada film Danur.

Alur cerita film ini biasa saja. Risa yang sejak kecil menjadi “korban” kesibukan orang tua tentu merindukan teman untuk berbagi cerita dan bermain bersama. Tinggal di sebuah rumah megah bersama ibu yang sibuk mengurusi orang tuanya di rumah sakit dan ayah yang bekerja di laut dan pulang enam bulan sekali, tentu saja membuat rungsing hati Risa. Tapi sayang, teman baru yang hadir menemaninya bukan bersosok manusia.

Pada dua puluh menit pertama tayangan, kita sudah tahu siapa dan apa latar belakang tiga sahabat mistis Risa. Bahkan kita juga sudah engah tentang siapa yang mengampu peran antagonis pada cerita ini sejak pohon tua raksasa diperlihatkan. Aspek dialog pun tidak ada yang istimewa. Sebagian besar percakapan merupakan ocehan harian.

Komen Film 

Danur-BookMyShow-2-e1490705659588
sumber gambar

Di sepanjang film, sebenarnya saya mempertanyakan seberapa kenal Risa dengan tiga sahabatnya. Ia seperti keliru menyebut nama Jansen pada William atau William pada Peter atau Peter pada Jansen. Jangan-jangan silap itu terjadi karena Risa kecil sudah lama tidak bertemu mereka dan baru kembali bersua saat Risa sudah remaja.

Pada pengujung cerita, saya juga bertanya, ke mana sosok aki Ujang (Fuad Idris) yang telah membantu mengusir hantu? Ke mana juga si nenek (Inggrid Widjanarko), pasca kejadian yang melibatkan Risa, adiknya, Riri (Sandrinna Michelle), sepupunya, Andri (Indra Brotolaras), dan ibunya, Elly (Kinaryosih)? Apakah si nenek ada di dalam mobil atau ditinggal sendiri di rumah tua, besar dan temaram? Ke mana juga kang Asep dan asisten rumah tangga perempuan di adegan awal film pergi? Jangan-jangan mereka hantu juga?

Dari plot yang bolong-bolong ini, saya menduga, film Danur seperti mengejar ngeri dan seram saja dengan mengeksploitasi unsur sinematik. Unsur naratif seperti alur cerita agaknya tidak menjadi prioritas di film ini. Meski begitu, saya menilai, Danur adalah benar-benar film hantu. Tokoh dan karakter Asih yang dimainkan Shareefa Daanish, sekali lagi, memainkan peran sentral. Tanpanya, sulit bagi Danur untuk menghadirkan kengerian dan ketegangan sepanjang film.

—–

Danur (2017)

Sutradara: Awi Suryadi; Genre: Horor; Durasi: 78 menit

Pemeran: Risa (Prilly Latuconsina); Riri (Sandrinna Michelle); Asih (Shareefa Daanish); Andri (Indra Brotolaras); Elly (Kinaryosih); Nenek (Inggrid Widjanarko); Risa Kecil (Asha Kenyeri); Ujang (Fuad Idris)