Make sure you surprise them and they don’t surprise you

Pernah ada gaduh politik di Indonesia pada pengujung 2015. Ada keterlibatan perusahaan penyedia jasa lobi untuk mengatur pertemuan presiden Jokowi dengan presiden Obama.

Asal kabar datang dari tulisan Dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies, Universitas London, Michael Buehler. Buehler menuliskan artikel di situs new mandala dengan judul waiting in the white house lobby.

Advertisements

Aneka ngeri hadir di sepanjang perjalanan bus

Pada intro, ingatan kita bakal terseret ke tayangan mula film Harry Potter: gumpalan awan, meski tidak kelam, membetot mata kita selama lima detik lalu dari kepulan awan itu, sorot kamera membidik satu titik di permukaan bumi, mirip aplikasi google earth saat zoom in, yang kemudian menayangkan sebuah terminal bus bernama Rampak.

Tapi tenang, Night Bus bukan film sihir laiknya Harry Potter. Meski begitu, nuansa gelap memenuhi hampir seluruh durasi tayangan. Ini memang film gelap tentang laku (lancung) manusia yang kini masih lestari.

Untuk film horor, Ebert punya seleranya sendiri

Roger Ebert, Si Kritikus Film Pecinta Sinema

Ia membangun narasi dengan jujur. Film apik pasti menuai pujian dan tentu saja nyaris dapat empat bintang. Film buruk, siap-siap dapat tomat busuk dan pasti “nyaris” dapat bintang.

Tapi tenang, ia tipe orang jenaka. Mustahil ia menghina sebuah karya sinema. Kritiknya dipoles dalam ungkap canda.

Lirik yang disenandungkan itu, rupanya bertujuan memanggil arwah tiga hantu

Danur, pada dirinya, sudah menyimpan debar: air yang keluar dari bangkai (mayat) yang membusuk.

Sebelum jadi karya sinematik, Danur telah menebar “ngeri” lebih dulu lewat novel garapan Risa Saraswati, Gerbang Dialog Danur.

Inilah fiksi misteri yang diadaptasi dari pengalaman pribadi Risa, seorang perempuan indigo, yang diberkati kemampuan melihat hantu, bahkan menjalin pertemanan dengannya.

Ebert adalah kritikus film pertama peraih penghargaan Pulitzer pada 1975

Ia larut dalam lamunan: seperti ada yang salah pada profesinya. Orang lain tampak hidup normal. Bangun pagi, mulai kerja saat hari terang, bercengkerama dengan kolega, bersiap pulang kala senja, tidur di waktu langit gelap.

Tapi pria ini cuma punya satu kesamaan dengan “orang normal” itu. Sama-sama bangun pagi. Sisanya, jauh dari gaya hidup orang kebanyakan.