Fabricated City: Merancang Kematian, Mereka Tuduhan

Ji-Chang-Wook
sumber gambar

Seteru itu bergerumut, mereka kian beringsut maju. Todongan aneka senjata api seakan tegas membidik satu kelompok kecil. Sedikit saja anggota badan terlihat, desingan peluru tak terelakkan. Tapi si target engah. Anggota kelompok kecil itu siap memuntahkan peluru ke arah kelimun orang bersenjata. Dan benar, tretetetet!!!, baku tembak terjadi. Kelompok kecil dengan jumlah sekitar tujuh orang ini lebih tangkas membidik lawan. Mereka intens berkomunikasi lewat semacam mikrofon yang menempel di sekitar telinga: saling jaga, saling serang.

Si kapten jelas akas. Ia terjang semua seteru tapi tetap ingat menjaga anak buah. Misi mereka menjinakkan bom. Tapi upaya itu terhalang oleh pasukan bersenjata yang berkeriapan untuk membantar para penjinak bom. Di tengah gempuran yang intens, si kapten memilih jadi martir. Ia pasang badan dari terjangan peluru demi melindungi anggotanya yang cedera. Si kapten tewas tapi bom berhasil dijinakkan oleh anggota lain. Kelompok bertujuh ini tetap dinyatakan menang. Ya, menang dari tantangan game mirip Counter Strike (CS)!!!

Kwon Yoo (Ji Chang Wook) adalah si kapten dalam game itu. Secara online, ia terhubung dengan beberapa pelaku game lain yang menjadi anggotanya. Mereka terhubung secara daring (dalam jaringan) dan menuntaskan misi tertentu. Kwon Yoo jelas kecewa kendatipun timnya menang. Meski “tewas”, anggota lain tetap uluk hormat kepada si kapten karena rela berkorban demi menyelamatkan anggota tim. Rupanya, intensitas main game secara bersama ini menumbuhkan solidaritas pelaku game. Mereka merencanakan kopi darat. Tapi Kwon menolak rencana itu.

Kwon engah, ia seorang pengangguran yang duitnya tipis. Jelas saja, wibawa seorang kapten harus tetap terjaga. “Apa jadinya kalau anggotanya di game online tahu Kwon pengangguran yang tak punya uang.” Tapi, tetiba ia mendengar dering ponsel. Ya, tepat di kursi sebelahnya, di warung internet, ponsel itu “berteriak nyaring”. Sadar tiada siapapun di sekeliling, Kwon menjumput ponsel itu dan menerima panggilan. Suara seorang perempuan terdengar meminta kembali ponselnya dengan iming-iming duit. Pas bagi Kwon. Saat butuh uang, datang peluang.

Serunya-Kebersamaan-Ji-Chang-Wook-dengan-Aktor-Fabricated-City-Lainnya-1
sumber gambar

Mala itu Tiba

Dengan langkah pasti, Kwon menuruti arahan perempuan pemilik ponsel untuk mendatangi kamar apartemen. Ia masuk ke dalam kamar dan mendapati suara si perempuan yang tengah mandi. Kwon mengingatkan si perempuan untuk mengunci kamar demi keamanan. Tapi si perempuan cuek dan malah mengarahkan Kwon meletakkan ponsel di tempat tidur dan mengambil duit yang dijanjikan. Duit di tangan, Kwon pun pulang. Tapi setelah itu, Kwon beroleh mala.

Sepasukan polisi mendobrak rumah Kwon yang masih terlelap tidur. Polisi mendapati bercak darah di kedua tangan Kwon dan bukti lain yang membenarkan Kwon pelaku pembunuhan. Tidak tanggung-tanggung, Kwon dijerat pasal pembunuhan dan pemerkosaan pada perempuan usia sekolah. Siapa korbannya, tidak lain adalah perempuan yang meminta bantuan agar ponselnya dikembalikan ke kamar apartemen miliknya. Ibunya terkesiap. Ia tidak percaya anaknya pembunuh. Aneka bantahan ia sampaikan demi membantar tuduhan bahwa anaknya pembunuh.

Tiada yang percaya. Bahkan hakim memutuskan, Kwon dihukum bui seumur hidup di penjara super ketat. Asa hidupnya kian hari kian rompal. Para penggentar di penjara seringkali merisaknya. Bahkan mereka tidak segan melumpuhkan Kwon hingga berdarah-darah. Sebelum jadi pengangguran, Kwon adalah juara bela diri tingkat nasional. Hingga suatu hari ia menyerang penjaga toko, kariernya seolah tamat. Ia mengakui kekeliruan. Pengakuan itu, bahkan, ia wujudkan dengan hidup menganggur dan tidak mau lagi bergelut dengan bela diri. Semacam trauma.

Tapi kepiawaian bela dirinya jelas belum hilang. Di tengah impitan para perusuh di penjara. Ia mulai membela diri. Tapi pembelaan itu malah membawanya ke ruang pengasingan. Ia dianggap menyerang penghuni penjara. Hidupnya tak lagi ber-asa. Pada kondisi itu, si ibu datang menjenguk bersama dengan seorang pengacara publik, Min Cheon-Sang (Oh Jung Se). Ia coba meyakinkan Kwon untuk bertahan di penjara karena ada seorang saksi yang mengetahui alibi Kwon. Kwon mulai “hidup lagi”. Penderitaannya di penjara tidak ia rasakan. Bahkan ia mulai bersahabat dengan seorang pembunuh berdarah dingin yang iba pada Kwon.

maxresdefault
sumber gambar

Balas Dendam

Hingga suatu hari, si pengacara publik mengabarkan, ibu Kwon tewas bunuh diri. Kwon terpukul. Asanya kembali tanggal. Bahkan ia berusaha bunuh diri. Hingga sebuah kesadaran muncul. Ia harus membuktikan kepada mendiang ibunya, ia tidak bersalah. Dengan sebuah rekayasa bunuh diri yang diajarkan rekannya di penjara, Kwon berhasil kabur dari terungku besi. Ia menemui si pengacara publik yang ternyata malah memanggil polisi datang untuk menangkapnya. Kwon, sekali lagi, berhasil lari hingga akhirnya bertemu dengan Yeo Wool (Shim Eun Kyung).

Yeo ternyata perempuan. Ia salah seorang anggota game online yang menjadi anak buahnya. Laku Yeo unik. Ia berkomunikasi dengan ponsel kendati si komunikan ada di hadapannya. Yeo seorang peretas dan ia membuatkan video penyangkalan pembunuhan oleh Kwon. Bahkan Ia mengundang anggota game online lain untuk ikut mengusut kebenaran dari tuduhan pembunuhan kepada Kwon. Dari sini aneka kejutan dimulai. Pembunuhan yang dituduhkan kepada Kwon ternyata hasil rekayasa seorang maniak pembunuhan.

Ya, si maniak ini menyiapkan korban dan pelaku. Ia bahkan merancang TKP agar semua bukti dan tuduhan sahih. Tentu saja ia tidak kerja sendiri. Ada tim di balik rekayasa pembunuhan itu. Dan ternyata, kejadian ini tidak hanya terjadi pada Kwon. Serangkaian pembunuhan terjadi karena rekayasa si maniak ini. Siapa si maniak pembunuhan ini? Bagaimana Kwon dan rekannya menelusuri dan membuktikan rekayasa pembunuhan? Semua jawaban bakal muncul di 1/3 akhir durasi film.

Komen Film   

Dilihat dari poster film, saya sempat menduga, ini film tentang adu balap mobil. Di 10 menit awal, saya coba menerka lagi ini pasti film game online. Memasuki menit ke-30, saya mengubah tebakan: yah, pasti cuma drama orang yang dipenjara dan ibunya yang hidup penuh rengsa. Tapi masuk pada menit ke-60. Tebakan saya salah semua. Film garapan Park Kwang-Hyun lebih dari itu semua. Aneka hentakan informasi baru mulai muncul di paruh kedua durasi film. Bangunan tema dan plot mulai tergambar pada durasi waktu itu.

Bahkan, peran antagonis baru terlihat jelang 20 menit terakhir. Peran itu jelas peran yang tak dinyana sebelumnya. Dan di pengujung cerita, lebih seru lagi, ada peran intelektual yang belum terungkap. Lagi-lagi, saya tidak pernah menduga peran intelektual itu ada di dia. Tema cerita menarik. Kisah aksi kejahatan dibalut thriller plus teknologi kekinian. Lumayan asyik. Tapi sayang, ketegangan yang coba dihadirkan teralihkan dengan dagelan-dagelan kurang asyik. Kekonyolan aksi Ma Deok-Soo (Kim Sang Ho) jadi semacam gangguan. Meskipun tujuannya mungkin biar penonton tidak terlalu serius.

Tapi secara keseluruhan, dari segi plot, tema dan ide cerita, Fabricated City menarik buat ditonton. Apalagi penontonnya perempuan. Rasanya teriak histeris bakal keluar sepanjang aksi Kwon. Hehe, (asw)

—–

Fabricated City/Jojakdwen Doshi (2017)

Sutradara: Park Kwang-Hyun; Penulis Naskah: Park Kwang-Hyun, Oh Sang-Ho; Genre: Aksi, Thriller; Durasi: 126 menit

Pemeran: Kwon Yoo (Ji Chang Wook), Yeo Wool (Shim Eun Kyung), Min Cheon-Sang (Oh Jung Se), Ma Deok-Soo (Kim Sang Ho), Demolition (Ahn Jae Hong)