The Monuments Men: Bertaruh Nyawa Demi Jutaan Karya

Meski begitu, film yang skenarionya ditulis Grant Heslov ini bukan sebuah karya yang memaksa penonton untuk mengernyitkan dahi karena keseriusannya. Aksi kocak dan konyol juga tersaji di sini.

Franklin Delano Roosevelt (Michael Dalton) menyimak dengan seksama paparan Frank Stokes (George Clooney). Presiden ke-32 Amerika Serikat ini bukan tanpa alasan memusatkan pandang ke tiap slide yang tersaji. Ada ancaman serius: upaya melumat sejarah manusia. Stokes mengungkai ancaman itu di hadapan sang presiden sambil menayangkan gambar Biara Monte Cassino yang hancur dibom sekutu. Menurutnya, orang bisa saja menghancurkan sebuah generasi dan membakar rumah mereka hingga rata, namun mereka masih bisa membangunnya kembali. Akan tetapi, bila orang menghancurkan sejarah dengan cara meluluhlantakkan hasil pencapaian mereka, maka mereka seolah-olah tidak pernah ada di dunia. Untuk itu, ungkap Stokes, perlu ada upaya penyelamatan karya seni dunia pada masa Perang Dunia II.

Langkah yang digagas Stokes berpangkal dari aksi Nazi di bawah kepemimpinan Hitler yang tengah berupaya mencuri jutaan karya seni dari negeri yang mereka invasi. Pasukan Nazi memiliki misi untuk mengoleksi patung, lukisan dan karya seni dunia lainnya guna menyimpannya di museum yang dibubuhi nama Fuhrer Museum di Linz, Austria. Ancamannya kemudian adalah bilamana Pasukan Hitler kalah perang dan sang pemimpin tewas, maka koleksi karya seni dunia yang berhasil mereka coleng akan dimusnahkan. Karenanya, Stokes melempar usul pembentukan pasukan penyelamat karya seni yang bergelar The Monuments Men.

Kekhawatiran Stokes rupanya menulari presiden yang terplih sebanyak empat kali ini. Namun begitu, Roosevelt tidak serta merta mengamini usulan Stokes begitu saja. Orang nomor satu Amerika ini mempertanyakan: apakah jutaan karya seni yang diselamatkan cukup berharga meski ada ancaman nyawa manusia yang akan melayang? Tapi sang presiden agaknya tengah bersenandika. Hanya mengungkapkan perasaan batinnya saja. Roosevelt, malah menurunkan titah kepada Stokes untuk membentuk tim penyelamat karya seni itu. Mendengar putusan itu, Stokes sumringah. Akhirnya akan ada sekelompok orang yang bisa berjuang mempertahankan senyum Mona Lisa dan meyakinkan Patung David tetap kokoh berdiri.

Dari sini perburuan anggota tim dimulai. Stokes berkeliling mencari orang-orang bernaluri seni ke pelosok dunia. Hingga akhirnya enam orang pun terkumpul. Mereka itu ahli seni James Granger (Matt Damon), arsitek Richard Campbell (Bill Murray), pemahat Walter Garfield (John Goodman), agen karya seni Jean Claude Clermont (Jean Dujardin), sejarawan seni Preston Savitz (Bob Balaban) dan Seniman Inggris Donald Jeffries (Hugh Bonneville). Semua anggota bergerak di bawah perintah Letnan Stokes.

Tujuh orang tersebut kemudian diterjunkan di Pantai Normandia, Perancis. Bergabung dengan sejumlah pasukan sekutu yang telah berada di kawasan itu. Awalnya, mereka meminta komandan pasukan tempur sekutu agar mengirimkan pasukan guna mengawal kelompok The Monuments Men menemukan karya seni dunia di pelbagai lokasi. Tetapi usaha itu kandas mengingat pasukan tempur hanya berorientasi pada penaklukan Nazi, bukan penyelamatan karya seni. Jadilah tujuh orang itu terpaksa lebih serius berlatih perang kendati sebagian mereka telah memasuki usia lanjut.

Pada fragmen ini, kelucuan dihadirkan sang sutradara. Aksi konyol latihan perang yang ditampilkan beberapa anggota The Monuments Men yang berusia baya berhasil mengundang tawa. Mulai dari keluguan saat menyandang senjata hingga aksi susah payah tim dalam menjalani setiap fase latihan perang yang berat. Itu semua dilakukan untuk pembekalan tim bilamana berpapasan dengan pasukan lawan yang bersenjata. Di tengah latihan, tim mendapati anggota baru saat mereka pusing mencari kendaraan untuk memburu karya seni dunia. Tiba-tiba saja muncul Sam Epstein (Dimitri Leonidas) sedang mengendarai mobil kecil hasil rampasan dari pasukan Nazi. Dengan keahliannya menerjemahkan bahasa Jerman, pemuda keturunan Yahudi-Jerman ini kemudian dilibatkan dalam pencarian.

Akhirnya, upaya pencarian karya seni pun dimulai. Stokes membagi penelusuran ke pelbagai tempat. Ada yang mencari Patung Madonna and Child di Gereja Katedral di Belgia. Ada juga yang bertugas menemui seorang Sejarawan Seni Rupa Perancis Claire Simone (Cate Blanchett) yang menjadi juru catat di Museum Galerie Nationale du Jeu Paume. Kisah perburuan Granger mencari data karya seni dunia dari Claire menjadi fragmen yang sering disorot. Maklum saja, Claire boleh dibilang tahu koleksi yang dicuri Nazi dan asal usulnya. Claire adalah seorang asisten senior di Kantor Nazi bagian Paris, Perancis. Tiap hari dia melihat koleksi seni yang masuk dan keluar dari museum. Sebenarnya, hatinya menolak praktik pencolengan itu, namun apa daya, Claire tak punya kuasa.

Dengan kondisi itu, seharusnya Granger mampu mendapatkan dengan mudah informasi yang diperlukan. Akan tetapi, dia harus terus meyakinkan Claire bahwa tim The Monuments Men bukan pasukan yang hendak mencuri kembali karya seni curian Nazi melainkan akan mengembalikannya ke tempat asal. upaya itu berakhir manis di pengujung keberadaan Granger di Paris. Pasalnya, Granger dipanggil Stokes untuk bertemu di tempat perburuan karena pasukan Nazi telah menarik mundur sebagian pasukannya dari negeri yang diinvasi. Pada saat itulah, Claire mengeluarkan data koleksi museum yang ia simpan dan memberikannya kepada Granger. Tugas Granger pun rampung.

Pada porsi alur cerita yang lain, aksi tidak kalah menegangkan ditampilkan Donald Jeffries. Anggota tim penyelamat karya seni ini memburu Patung Madonna and Child di salah satu Gereja Katedral. Namun upaya ini tak berjalan mulus. Laiknya film perang yang pasti merenggut nyawa pemerannya, film ini juga bukan pengecualian. Donald tewas diserbu peluru komandan pasukan Nazi saat menyerbu masuk gereja dan mencoleng Patung Madonna and Child. Tapi, kematian Donald bukan suatu hal yang disesalkan. Dalam surat yang ia tulis sebelum tewas, Donald memang berambisi menyelamatkan karya seni dari kehancuran. Ambisi itu lahir dari pergulatannya dengan sang ayah yang senantiasa mengajaknya bermain perburuan harta karun hingga menginspirasinya memburu koleksi seni. Surat pun kemudian melayang ke sang ayah.

Tidak hanya Donald. Takdir serupa juga dialami Jean, Sang Agen Karya Seni Perancis. Dalam perburuannya, dia tewas diberondong peluru pasukan Nazi yang tengah terlibat baku tembak dengan pasukan sekutu. Akan tetapi, kematian dua pasukan The Monuments Men itu tidak sia-sia. Jutaan koleksi karya seni berhasil ditemukan dan diselamatkan. Sekitar 5 juta karya seni tersebut diperoleh dari aneka lokasi persembunyian yang disimpan pasukan Nazi. Di antaranya dari Tambang Garam Merkers, Heilbronn dan Altaussee. Bahkan tim penyelamat berhasil menemukan ribuan batang emas yang disembunyikan pasukan Nazi di salah satu tambang itu.

Film berdurasi 118 menit ini diadaptasi dari buku karangan Robert M. Edsel dan Bret Witter yang berjudul The Monuments Men: Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History. Bila bersandar pada buku yang dirujuk, ada 345 orang yang terdiri atas laki-laki dan perempuan dari 13 negara yang masuk Tim The Monuments Men. Kebanyakan tidak memiliki latar belakang militer. Sebagian besar berprofesi sebagai arsitek, pemahat, agen karya seni, dan sejarawan seni. George Clooney, selaku sutradara, kemudian memangkas jumlah pasukan The Monuments Men dalam filmnya menjadi hanya tujuh orang. Semata-mata agar alur cerita lebih terpusat pada beberapa orang saja.

Film yang dirilis pada 7 Februari 2014 di Amerika Serikat ini tidak mengedepankan aksi baku tembak laiknya film perang. Dengan bujet $70 juta, film ini menonjolkan dialog dan sesekali memotret konflik kepedihan hati di medan perang. Misalnya saat salah seorang tim mendapatkan cakram rekaman dari anak-cucunya di negara asal. Dalam cakram itu, terdengar nyanyian sang anak yang tengah merayakan ulang tahunnya berharap dapat membagi kebahagiaan dengan sang ayah di medan tempur.

Meski begitu, film yang skenarionya ditulis Grant Heslov ini bukan sebuah karya yang memaksa penonton untuk mengernyitkan dahi karena keseriusannya. Aksi kocak dan konyol juga tersaji di sini. Seperti saat tim bertemu dengan prajurit Nazi yang bersenjata. Alih-alih aksi tembak-menembak yang muncul, tim malah melakukan “gencatan senjata” dengan menawarkan rokok kepada prajurit itu. Langkah tersebut dilakukan tatkala sang prajurit terlihat gugup saat menodongkan senjata ke arah tim penyelamat.

Film ini jelas menampilkan betapa aksi pencolengan karya seni oleh Nazi benar-benar dilakukan secara masif. Tidak berlebihan memang bilamana film ini mengambil tagline it was the greatest art heist in history. Di pengujung cerita, senandika Roosevelt pun mendapat jawab. Sambil melihat karya seni yang pernah dicuri Nazi bersama sang cucu, Stokes tua (Nick Clooney) berucap, “ini semua cukup berharga.” (asw)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s