The Hobbit: Akhir Petualangan Bilbo Baggins

The_Hobbit_trilogy_dvd_cover
sumber gambar

Tanpa ampun, naga terbang itu “menghukum” siapapun yang ditemui

Seperti tak mengenal paran, naga terbang itu menjulurkan lidah api ke tiap sisi perkampungan air tempat kawanan manusia tinggal. Semuanya terbakar. Seluruhnya rusak. Sebagiannya hangus. Sejumlah manusia tewas. Smaug, nama naga itu, rupanya tengah marah setelah huniannya, Istana Erebor, dimasuki sekelompok kurcaci yang dulu menghuni puri. Tanpa ampun, naga terbang itu “menghukum” siapapun yang ditemui.

Tapi, aksi geram sang naga tidak berlangsung lama. Bard (Luke Evans) yang berhasil lolos dari jeruji besi akhirnya menikam jantung Smaug dengan anak panah besi. Berdiri di atas menara lonceng kota, Bard menghujamkan anak panah tepat di titik kelemahan Smaug. Sang naga tumbang, melayang jatuh ke wilayah perkampungan, menindih Master of Laketown (Stephen Fry) yang berusaha kabur membawa harta kota dengan perahunya.

Rupanya bunyi jatuhan sang naga terdengar hingga Istana Erebor. Bilbo Baggins (Martin Freeman), Thorin Oakenshield (Richard Armitage) dan beberapa kawanan kurcaci yang tengah berada di sekitar istana pun tak luput mendengar bunyi itu. Kematian Smaug seperti menjadi kabar baik untuk semua. Tidak terkecuali pasukan Peri, para kurcaci lain dan Orc dari kegelapan. Mereka seperti menanti kematian sang naga. Karena kematiannya berarti membuka jalan untuk meraup emas dari Istana Erebor.

Mengetahui hal itu, Thorin dan kawanannya lajak menyikapi. Erebor mereka masuki. Aneka celah ditutup. Emas diamankan. Pasukan kurcaci dipersenjatai. Thorin tidak mau istananya direbut kembali seperti dulu. Thorin menilai, semua yang ada di dalam istana adalah milik keluarganya. Tidak terkecuali emas yang terkandung di dalamnya. Thorin bahkan berjanji, tidak akan ada sekeping emas pun keluar dari istananya. Ketamakan meliputi Thorin dan Istana Erebor.

Gandalf Lolos dari Perangkap 

Di tengah keceriaan atas kematian Smaug, situasi mengerikan menyaput tempat penangkapan Gandalf (Ian McKellen). Bersama dengan Radagast (Sylvester McCoy), Gandalf dikurung dalam sangkar besi setinggi tubuhnya. Energinya habis diserap Sauron, sang raja kegelapan. Tapi, Galadriel (Cate Blanchett) yang dekat dengan Gandalf tak kuasa melihat rekannya teraniaya. Galadriel menyambangi markas Sauron dan melepaskannya dari kurungan.

Tapi tampaknya, kehadiran Galadriel tidak diharapkan Sauron. Sembilan iblis, anak buah Sauron, mengepungnya. Mereka siap menyerang Galadriel yang susah payah memboyong Gandalf. Di tengah kepungan iblis, Saruman(Christopher Lee) dan rekannya tetiba muncul. Keduanya meladeni sembilan iblis yang berupaya menyerang Galadriel. Pertarungan sengit tak terhindarkan. Hingga akhirnya sembilan iblis itu berhasil diusir pasca Galadriel mengeluarkan seluruh kekuatannya.

poster_thandriul
sumber gambar

Kawanan Manusia dan Peri Menagih Hak 

Di tempat lain, usai kematian Smaug, sekawanan manusia yang selamat dari serangan api sang naga membentuk koloni baru. Mereka menempati perkampungan yang tak lagi dihuni dekat Istana Erebor. Hidup mereka sengsara. Tanpa makanan dan harta untuk membeli barang kebutuhan. Dalam kondisi itu, sepasukan besar Peri tetiba muncul. Mereka seperti pasukan dari surga yang membawa anugerah. Aneka makanan dan kebutuhan mereka datangkan bagi kawanan manusia yang baru saja lolos dari celaka. Bard, yang kini menjadi pemimpin pasukan manusia, menyambut Peri dengan tangan terbuka.

Rupanya, sang Peri yang dipimpin Thranduil (Lee Pace), punya misi lain. Mereka mencari permata Arkenstone yang diduga kuat ada di dalam Istana Erebor. Batu itu bukan sembarang batu. Benda itu dinilai sebagai warisan bagi Warga Peri. Thranduil sangat ingin mendapatkan batu itu kembali setelah hilang dirampas sang naga. Kini, dengan kematian sang naga, Thranduil yakin, Arkenstone akan mudah didapatkan.

Harapan Pasukan Peri agaknya mendapat rintangan dari pasukan Kurcaci yang menghuni Erebor. Thorin, sang raja, sudah berjanji untuk tidak pernah mengeluarkan sekeping pun emas dari istananya. Apalagi, batu Arkenstone juga sedang dicari Thorin. Bahkan, untuk menjaga hartanya, Thorin berani menantang pasukan manusia dan peri untuk berperang. Padahal, pasukan manusia hanya meminta sedikit saja harta istana sementara pasukan peri hanya berharap pada batu Arkenstone.

Tapi perang seperti menjadi pilihan terbaik bagi Thorin. Perselisihan antara Thorin, manusia dan peri semakin mengental pasca kedatangan sepasukan kurcaci saudara dekat Thorin. Mereka siap menyerang manusia dan peri bilamana keduanya nekat menantang Thorin. Dengan baju besi yang mereka kenakan, pasukan kurcaci pantang mundur dari hadangan manusia dan peri. Tiga pasukan itu siap saling serang demi mendapat haknya.

Kemunculan Pasukan Orc 

Di tengah keributan itu, ribuan personel Orc dari kegelapan tetiba muncul. Azog, sang pemimpin Orc, memerintahkan pasukannya untuk membunuh habis pasukan manusia, peri dan kurcaci. Melihat kedatangan musuh bersama, pasukan manusia, peri dan kurcaci mendadak saling menahan benci. Ketiganya lebih memilih bersatu melawan pasukan kegelapan.

Pertempuran akbar itu pun tak terhindarkan. Saling tikam antar musuh pun terjadi. Korban di tiap pihak pun tak terelakkan. Namun, Azog yang cakap berstrategi, rupanya memiliki pasukan cadangan. Dengan jumlah pasukan yang melimpah ruah, Azog mengirimkan pasukan cadangan itu untuk menyerang perkampungan tempat para manusia tinggal.

Serangan tak terhindarkan. Ratusan wanita dan anak kecil mati ditikam Orc. Bard yang sadar akan serangan itu langsung kembali ke perkampungan untuk mempertahankan hidup kawanan manusia.

Gejolak Perasaan Thorin 

Saat seluruh pasukan bertempur melawan Orc, Thorin duduk tegang di singgasananya. Meskipun kelompok kurcaci dalam istana membujuk Thorin untuk ikut berperang, dia lebih memilih diam di istana. Bahkan menitahkan pasukannya untuk mengamankan harta emas di tempat tersembuyi. Di tengah gejolak perang di luar istana, hal yang sama juga terjadi dalam hatinya. Thorin gelisah antara ikut berperang atau diam di istana dengan harta melimpah.

Rupanya, Thorin lebih suka berperang. Setelah bujukan rekan dan keluarganya berhasil menyadarkan Thorin, mereka akirnya berjuang bersama pasukan manusia, peri dan kurcaci lain. Thorin dan kerabatnya turut menyerang pasukan Orc. Bahkan, Thorin bersama dengan Fili (Dean O’Gorman) dan Kili (Aidan Turner) merencanakan penyerangan langsung ke pemimpin Orc, Azog. Bersama tiga kerabatnya, Thorin menyambangi Azog yang berada di atas bukit.

lNTnc8yw
sumber gambar

Akhir Kisah Thorin, Fili dan Kili 

Dalam perjuangannya melawan para penggawa Orc, pasukan kurcaci berjuang susah payah. Bahkan Fili secara nahas ditangkap Azog dan mati di tangannya. Kili yang menyaksikan langsung pembunuhan atas kerabatnya pun tak kuasa menahan emosi. Kili menyerang sang pembunuh sebelum akhirnya mati di depan penggawa Orc dan Tauriel (Evangeline Lilly) yang mengasihinya.

Melihat kematian itu, hati Tauriel seperti hancur berkeping-keping. Alasannya satu: Tauriel jatuh cinta kepada Kili. Selain Fili dan Kili, kematian juga menghampiri Thorin yang berjuang melawan Azog. Keduanya tewas saling tikam. Bilbo Baggins yang melihat peristiwa itu tak kuasa menahan tangis. Thorin, sang raja kurcaci yang membawanya ikut bertualang, akhirnya tewas. Kematian Thorin rupanya membuat pasukan Orc lain bersiap menyerbu kawanan peri, kurcaci dan manusia yang sudah kewalahan. Namun di tengah kehancuran itu, Radagast muncul membawa serta pasukan elang raksasa. Elang itu meluluhlantakkan pasukan Orc sampai habit.

Secara keseluruhan, film berdurasi 144 menit ini dipenuhi adegan perang. Boleh dibilang, fragmen tempur mengisi hampir 80 persen isi materi film. Peter Jackson, sang sutradara, agaknya hendak menyuguhkan akhir trilogi yang menegangkan dan berakhir klimaks. Tapi jangan pernah pikir, film bergenre fantasi ini menyuguhkan tayangan pertempuran yang keras semata. Aneka kelucuan juga dihadirkan dalam film ini.

Sumber kelucuan tiada lain adalah kehadiran Alfrid (Ryan Gage) sang pengawal Master of Laketown yang disingkirkan. Tingkah lakunya konyol sekaligus bikin berang orang. Tapi justru di situlah kelucuan itu muncul. Beberapa catatan sedikit harus dimunculkan pasca menyaksikan film yang dibesut dari novel karya J.R.R Tolkien ini.

Porsi Hobbit agaknya hanya sedikit muncul dalam tayangan, sehingga membuat kontras antara judul film dan tayangan. Sejumlah tanda tanya juga menyelimuti benak penonton di akhir film. Bagaimana kelanjutan kisah Tauriel pasca kematian Kili? Bagaimana juga nasib Bard dan keluarganya? Di mana Galadriel sepanjang film ini berlangsung? Tapi aneka pertanyaan itu sama sekali tidak mengganggu ketegangan dan kehebatan visual bagian akhir dari trilogi Hobbit ini. Selamat Berfantasi.(asw)

—–

The Hobbit: The Battle of Five Armies (2014); Durasi: 144 menit; Genre: Petualangan, Fantasi; Sutradara: Peter Jackson

Pemeran: Gandalf (Ian McKellen), Bilbo Baggins (Martin Freeman), Thorin (Richard Armitage),  Fili (Dean O’Gorman), Kili (Aidan Turner), Tauriel (Evangeline Lilly), Thranduil (Lee Pace), Galadriel (Cate Blanchett), Bilbo Tua (Ian Holm), Saruman (Christopher Lee), Legolas (Orlando Bloom), Alfrid (Ryan Gage), Radagast (Sylvester McCoy), Bard (Luke Evans), Master of Laketown (Stephen Fry)