The Fault in Our Stars: Mereguk Cinta di Ujung Nyawa

The-Fault-in-Our-Stars
sumber gambar

Sambil berharap banyak untuk memperoleh kelanjutan cerita novel, Hazel langsung menyapa Van Houten yang duduk membelakanginya. Tapi Hazel terkejut, ternyata Van Houten adalah peminum alkohol, jauh dari gaya tutur santun dalam novel karangannya.

Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley) tidak pernah merencanakan hidup yang akan dia jalani. Dia memang tak punya kuasa mencampuri hidup yang dianugerahi Tuhan. Inilah kehidupannya. Perempuan 16 tahun pengidap kanker tiroid yang telah menyebar ke paru-parunya hingga mengharuskannya menarik-narik tabung oksigen portable untuk membantunya bernapas.

Hazel tidak pernah memikirkan masa depan dirinya. Boleh dikata, dia apatis akan hidup yang dijalani. Satu-satunya yang mengganggu pikirannya adalah kedua orang tuanya. Dia hanya tidak ingin membuat sedih ibundanya Frannie (Laura Dern) dan ayahnya Michael (Sam Trammel) tersiksa lantaran kehilangan dirinya. Mungkin itulah salah satu sebab Hazel bertahan hidup.

Alasan itu juga yang memaksanya turut bergabung dalam kelompok pemulihan penyakit kanker. Dipaksa sang ibunda agar bersosialisasi, Hazel pun menuruti pintanya. Karena berangkat dari keterpaksaan, Hazel menyimak setiap kataan para anggota kelompok sesama pengidap kanker dengan tatapan kosong. Pembicaraannya seputar bagaimana mereka bisa bertahan di tengah kanker yang menggerogoti setiap detik hidup mereka. Kehidupan Hazel boleh dibilang nyaris tanpa hal istimewa, hingga akhirnya …

Bertemu Augustus Waters

Pada pertemuan kedua kelompok penyandang kanker, Hazel berpapasan dengan seorang pria. Ceria barangkali kata yang dapat mewakili penilaian akan pria ini. Bagaimana tidak? Pria berusia 17 tahun bernama Augustus Waters (Ansel Elgort) ini senantiasa menebar senyum setiap kali melihat Hazel. Tidak meihat bahkan, Gus, begitu dia disapa, selalu memandangi Hazel di ruang pertemuan para pengidap kanker.

Sesekali Hazel terlihat risi. Namun kelamaan, dia mulai terbiasa. Apalagi setelah Gus menyapanya, berkenalan dan mengajak Hazel main ke rumahnya. Inilah momen pergaulan pertama Hazel dengan rekan sebayanya sejak divonis mengidap kanker. Gus sama dengan orang-orang dalam kelompok, pengidap kanker. Gus mengidap osteosarcoma, tumor ganas yang menyerang tulang. Tapi penyakit itu sudah lama tak mempengaruhi hidupnya sejak kakinya diamputasi.

Pada pertemuan kali itu, Hazel tidak hanya bertemu dengan Gus. Ada Isaac (Nat Wolff), rekan Gus, yang juga mengidap tumor pada salah satu matanya. Dia akan menjalani operasi dalam waktu dekat yang kemudian akan mengakibatkan dirinya kehilangan penglihatan. Sebelum itu terjadi, Isaac terlebih dulu bermesraan dengan kekasihnya di tempat parkir sambil terus menerus mengatakan “always” sebagai penyemangat hidup dan peneguh jalinan kasihnya.

Hari itu, untuk pertama kalinya, Hazel mengalami hal istimewa. Gus mengajaknya main ke rumahnya. Di sana, Hazel melihat sederet piala kompetisi bola basket milik Gus. Ternyata Gus pernah menjadi bintang basket sebelum kakinya diamputasi. Dia pun meminta Hazel membaca sebuah buku “The Price of Dawn” yang menurutnya cocok dibaca oleh Hazel. Sebagai gantinya, Hazel juga meminta Gus membaca buku “An Imperial Affliction” yang menurut Hazel menceritakan hidup pengidap kanker secara obyektif. Meski menarik, Hazel menyayangkan cerita yang menggantung pada novel karya Peter Van Houten itu. Konon katanya, si pengarang berhenti menulis sesaat dia pindah ke Amsterdam, Belanda.

0421-1
sumber gambar

Saling Cinta, Bersama Membangun Cita

Pertemuan dengan Gus benar-benar “mengganggu” pikiran Hazel. Hampir setiap waktu, Hazel menengok ponselnya sekadar memastikan nama Gus tertera di layar. Hingga akhirnya Gus nyata menghubungi Hazel. Dia hendak membicarakan novel pinjaman dari Hazel sekaligus mengajaknya ke taman. Tema perbincangan adalah kutipan kalimat dalam novel: “Rasa sakit menuntut untuk dirasakan.”

Hazel sangat setuju dengan kalimat itu hingga memantik rasa penasarannya untuk mengetahui kelanjutan cerita yang berakhir gantung tersebut. Seperti perpanjangan tangan Tuhan, Gus mengabulkan setiap pinta orang-orang yang memohon kepadanya. Termasuk Hazel. Meski tidak pernah melepaskan kalimat pinta, Gus paham, Hazel sangat ingin menemui Peter Van Houten, sang penulis novel “An Imperial Affliction.”

Gus yang sejak awal mencintai Hazel tampak semakin ingin membahagiakan perempuan pembawa tabung oksigen portabel ini. Tiba-tiba saja, Gus mengabarkan Hazel bahwa dirinya berhasil mendapatkan tiket ke Belanda dan menginap selama beberapa hari di negeri kincir angina itu. Sontak, Hazel terkejut dan terharu mendengarnya.

Akan tetapi, suatu peristiwa terjadi. Hazel tetiba pingsan dan dibawa ke ruang gawat darurat rumah sakit. Paru-paru Hazel diketahui dipenuhi cairan hingga sulit bernapas. Dokter pun tidak memberikan restu bagi Hazel untuk pergi ke Belanda. Kendati Hazel mengiba setengah mati, keputusan dokter bergeming. Orang tuanya pun tidak bisa berbuat banyak demi keselamatan buah hatinya.

Gus yang senantiasa menunggu kepulihan Hazel terus-menerus menghiburnya. Tapi Hazel tahu bahwa dia tidak bisa membahagiakan Gus. Dia tahu sebentar lagi usianya mendekati pengujung. Hazel mengibaratkan dirinya sebagai granat yang cepat atau lambat akan meledak dan menghancurkan orang-orang yang mengasihinya. Mendengar itu, Gus tak lantas patah arang. Gus bilang:

“Di dunia ini, tidak ada yang bisa terhindar dari rasa sakit hati. Tapi kita bisa memilih siapa yang bisa menyakiti hati. Saya mimilih kamu untuk menyakitinya.”

Mendapat penjelasan itu, Hazel semakin bergairah bahkan mulai nekat untuk pergi ke Belanda meski kondisi kesehatannya memburuk. Seperti doa yang terkabul, salah seorang dokter membolehkan Hazel berangkat ke Belanda. Jadilah Hazel dan Gus pergi ke Belanda. Kejutan lain muncul, sang ibunda pun diborong serta oleh Gus untuk pergi juga ke Belanda. Ini semua bisa terwujud berkat sebuah instansi pemerhati kanker yang mengabulkan satu permohonan apapun bagi para pengidapnya.

MV5BNTUxMDYyNTIxMF5BMl5BanBnXkFtZTgwMTU5MDA3MTE@._V1_
sumber gambar

Perjalanan di Amsterdam

Raut ceria terpancar di wajah Hazel dan Gus saat mereka mendapati alamat rumah Peter Van Houten. Alamat itu diperoleh dari hasil percakapan surel antara Gus dengan Lidewij (Lotte Verbeek), asisten Van Houten. Percakapan itu berlangsung jauh hari sebelum keberangkatan mereka. Benar saja, di depan pintu rumahnya, mereka langsung disambut Lidewij dan langsung diminta masuk ke dalam.

Sambil berharap banyak untuk memperoleh kelanjutan cerita novel, Hazel langsung menyapa Van Houten yang duduk membelakanginya. Tapi Hazel terkejut, ternyata Van Houten adalah peminum alkohol, jauh dari gaya tutur santun dalam novel karangannya. Keterkejutan Hazel semakin menjadi-jadi saat Van Houten mencibir kedatangan mereka yang dianggap membuang-buang waktu. Bagaimana bisa seorang pengarang buku terlaris bersikap tidak santun kepada seorang wanita pengidap kanker.

Ditambah lagi pengusiran Van Houten kepada Gus dan Hazel. Van Houten seperti terganggu dengan pertanyaan Hazel yang terus menerus didengungkan meminta kelanjutan cerita novel. Seolah tak percaya, Hazel akhirnya memaki Van Houten sebagai peminum alkohol dan keluar dari rumahnya. Sambil ditemani Lidewij, Hazel dan Gus kemudian berjalan menuju Museum Anne Frank.

Di sini, kondisi kesehatan Hazel semakin memburuk. Situasi ini diperparah dengan matinya lift yang menuju tempat utama museum. Sambil bersusah payah dan tak mau dibantu Gus, Hazel menapaki anak tangga sambil menenteng tabung oksigennya yang berat. Setapak demi setapak dengan kelelahan yang amat sangat, Hazel akhirnya mencapai lantai utama museum.

Di sana, seluruh pengunjung museum dibuat takjub melihat sepasang pemuda pengidap kanker berhasil menuju lantai teratas dengan menapaki anak tangga. Di sana pula kedua anak muda ini kemudian berpelukan dan menunjukkan cinta kasihnya ke khalayak luas. Aksi padu kasih itu langsung mendapat riuh tepuk tangan dari pengunjung museum yang terharu melihat dua insan manusia ini.

Meski Hazel tak memperoleh jawaban kelanjutan kisah novel, dia tak merasa hampa kembali ke Amerika. Dia malah memperoleh anugerah terindah, Gus yang sangat menyayanginya. Tapi anugerah ini tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah mereka kembali ke tanah kelahirannya, suatu hal terjadi pada diri Gus.

Gus yang Tak Lagi Ceria

Suara Gus tetiba berbeda dari biasanya. Lewat sambungan telepon, Gus menghubungi Hazel sambil terisak-isak. Seperti ada kesedihan meluap dari diri Gus. Hazel yang penasaran kemudian menyambangi rumah Gus dan mendapati Gus yang kelam. Dia tidak seceria dulu saat pertama bertemu. Kondisi Gus ini, ternyata, disebabkan penyakit kanker yang kembali muncul dalam tubuhnya. Bahkan sudah tersebar ke seluruh badannya.

Gus seperti mematikan kehidupannya. Dia tidak lagi bisa memotivasi Hazel seperti yang dia lakukan dulu. Kondisi saat ini berbalik. Hazel lah sang penyemangat Gus. Hazel kemudian mengajak Gus ke taman, tempat mereka pertama kali berkencan. Hazel menyemangati Gus dengan kalimat-kalimat yang pernah terlontar kepadanya. Pasrah dengan kondisinya ini, Gus bahkan meminta Hazel dan rekannya Isaac menuliskan surat kematian untuknya dan membacakannya di saat dia masih hidup.

Sambil tak kuasa menahan tangis, Hazel membacakan surat kematian untuk Gus di hadapannya sendiri. Hal serupa juga dilakukan Isaac yang membacakan surat kematian dengan kalimat lelucon. Mereka berdua tak menyangka bahwa Gus akan meninggalkan mereka lebih awal. Orang yang merasa kehilangan paling besar, jelas, adalah Hazel. Cintanya yang mulai merekah seketika luluh lantak di tengah jalan.

Tapi Hazel langsung teringat kalimat Gus bahwa dia berhak memilih siapa yang bisa menyakiti hatinya. Hazel telah memilih Gus. Gus boleh menyakiti hatinya dengan meninggalkannya lebih awal. Hazel tidak pernah menyesal pernah memiliki cerita dengan Gus.

Film yang diadopsi dari novel keempat Penulis Amerika Serikat, John Green ini tidak melulu mengadegankan kisah sedih. Adegan kocak juga terselip dalam film berdurasi 126 menit ini. Seperti saat mereka berdua melempari kendaraan milik mantan kekasih Isaac dengan telur. Karena tak dapat melihat, Isaac sempat salah sasaran melempar telurnya. Bahkan saat ibunda sang kekasih Isaac keluar rumah pun, seketika dia masuk kembali karena melihat banyak telur di teras rumahnya.

Judul film garapan sutradara Josh Boone ini terinspirasi dari satu baris dialog drama Shakespeare berjudul Julius Caesar. Dalam dialognya, Bangsawan Cassius berkata kepada Brutus, “the fault, dear Brutus, is not in our stars, but in ourselves, that we are underlings.” Inilah drama remaja yang tak hanya menonjolkan kemesraan dan kisah cinta picisan. Upaya memotret kenyataan sengaja dipamerkan dalam etalase film ini untuk membangkitkan suasana satu antara yang nyata dan rekaan. Keharuan sudah pasti muncul di akhir kisah.(asw)