Her: Cinta itu Sungguh Gila & Buta

Mencintai Teknologi yang Tak Abadi.

Theodore (Joaquin Phoenix) serius menatap layar komputer. Tak ada gerakan pada jemari tangannya. Dia hanya melemparkan aneka kata penyusun frasa ke hadapan layar. Seketika itu juga, deret frasa pembentuk kalimatpun menera, seolah menuruti ucapan yang keluar dari lisannya. Ternyata, itulah laku menulis pada suatu waktu di masa mendatang. Tanpa harus lelah menekan tuts, Theodore hanya cukup melisankan kata pada layar untuk menuliskan rangkaian ekspresi kalimat di komputer.

Pria berkacamata ini tidak bekerja sendiri. Dia bersama beberapa orang lain memiliki profesi serupa, penulis surat. Mereka menjadi solusi bagi setiap orang yang sulit mengekspresikan emosi. Seperti yang Theodore lakukan saat menuliskan selembar surat ulang tahun pernikahan bagi pelanggannya. Hingga kalimat terajut indah, selesai dan dikirim ke pelanggan. Semuanya dilakukan tanpa harus menumbuk tuts pada papan ketik yang memang tak ada. Laku menulis hanya dikerjakan melalui lisan.

Kecanggihan ini tidak berhenti sampai sini. Di perjalanan pulangnya, Theodore menempelkan earphone pada salah satu telinganya dan suara seperti manusia pun terdengar. Suara yang mengalir masuk ke telinga Theodore mengabarkan jumlah email yang masuk dan membacakan surat elektronik (surel) itu satu-satu. Untuk tiap email yang tak perlu, Theodore hanya cukup berucap “hapus”, maka hilanglah surel tersebut. Begitu juga saat dia membalas email penting. Hanya cukup melafalkan kata “balas” dan melisankan kalimat yang menjadi isi surat balasannya, seketika itu juga surel terkirim. Teknologi sungguh mempermudah.

Namun dalam situasi teknologi yang sedemikian canggih, persoalan cinta seolah terus menyapa hidup manusia. Di apartemennya, Theodore melayangkan ingatan ke masa lalu. Saat istrinya, Catherine (Rooney Mara), menemani tiap detail hidupnya. Tapi kini, Catherine tak lagi ada di sisi. Theodore hidup seorang diri. Dia tengah menunggu proses perceraiannya di pengadilan yang telah memasuki usia setahun. Meski sebenarnya, Theodore hanya menanti keberaniannya menyala. Sejatinya, dia tidak siap menandatangani surat perceraian dengan Catherine lantaran benaknya masih memuat kenangan indah bersama sang istri.

Dari sini konflik kemudian bermula. Di tengah perjalanan, Theodore melihat papan iklan yang menayangkan produk teknologi teranyar. Sebuah Sistem Operasi (SO) yang bisa diajak berbincang dan memiliki kesadaran laiknya manusia. Rupanya produk ini menarik minat Theodore. Dia, lantas, memesan dan langsung mengaktifkannya. Seperti proses instal, program SO ini juga menanyakan jenis kelamin yang dikehendaki. Theodore langsung memilih perempuan. Seketika itu juga, muncul suara perempuan yang memanggil dirinya sendiri sebagai Samantha (Scarlett Johansson).

Seolah menemukan rekan hidup, Theodore menikmati tiap detik perbincangannya dengan Samantha. Hanya dengan melekatkan earphone di salah satu telinganya, Theodore langsung bisa bercakap-cakap dengan Samantha yang suaranya berasal dari benda kotak serupa ponsel. Samantha mengakui dirinya adalah SO yang bisa berevolusi. Melalui deteksi suara, Samantha bisa mengetahui emosi yang dipendam pemiliknya. Sejak saat itu, Theodore tak lagi seorang diri. Samantha bertindak seperti sekretaris Theodore. Dia mengingatkan setiap rencana aktivitas yang akan dijalani Theodore. Hingga mengabarkan surel yang masuk ke akun emailnya.

Awalnya, Samantha hanya bertindak mengisi kekosongan Theodore yang ditinggal istrinya. SO ini pun mengabarkan sebuah email yang memuat pesan perjodohan dari seorang kawan Theodore. Meski mulanya tidak setuju, namun setelah dibujuk Samantha, Theodore akhirnya mengamini permintaan perjodohan kawannya itu. Bertemu di sebuah restoran, Theodore melakukan perjamuan makan malam bersama seorang wanita (Olivia Wilde). Sebagaimana kisah perjodohan pada umumnya yang tak berlangsung mulus. Hubungan itu kandas dalam beberapa jam saja. Theodore tak mencintai wanita ini.

Di tengah kelimbungan, Samantha menjadi pelepas dahaga kekosongan Theodore yang belum kunjung menemukan pendamping. Tak ayal, Theodore diam-diam menaruh kasih pada Samantha, sebuah Sistem Operasi. Gayung bersambut, Samantha yang bisa mendeteksi suara manusia mulai merasakan hal yang sama dengan Theodore. Theodore gila. Theodore buta. Karena cinta. Theodore berontak dari kelaziman hubungan cinta. Theodore mencintai produk teknologi, Samantha.

Saat cinta bersemi, Theodore merasakan kemanisan hidup. Wajah sumringah seolah merekah setiap saat. Seperti kala bertemu dengan rekan kerjanya, Amy (Amy Adams) dan Charles (Matt Letscher). Pasangan suami-istri ini senang melihat Theodore berwajah cerah. Mereka pun menanyakan Theodore ihwal kecerahan harinya. Theodore menjelaskan dirinya telah mendapat tambatan hati. Sebuah SO, Samantha. Mendengar itu, keduanya sedikit terkejut namun menyembunyikannya seraya mengucapkan selamat. Bahkan, Amy berujar, “saat jatuh cinta, semua orang terlihat aneh, hingga tampak gila. Tapi itulah kegilaan yang bisa diterima masyarakat.”

Namun, kegilaan itu malah tak terjadi pada Amy. Beberapa hari berselang usai perjumpaannya dengan Theodore, Amy dan Charles bercerai. Sebabnya sepele. Amy meletakkan sepatu di dekat pintu, sementara Charles menitahkannya untuk menaruh sepatu di rak. Bagi Charles, ini prinsip. Amy tak mengamini permintaan Charles hingga berujung perceraian. Tapi kepiluan Amy tak berlarut-larut. Seperti Theodore, Amy juga membeli SO berjenis kelamin laki-laki. Untuk menemani kekosongan hidupnya pasca ditinggal Charles.

Sepertinya, film ini akan berakhir manis dengan jalinan cinta Theodore dan Samantha yang kian terikat. Hingga pada suatu waktu, Theodore memberanikan diri menandatangani surat cerai di depan Catherine. Dalam perjamuan makan siang, Theodore membubuhkan tandatangannya di hadapan Catherine yang juga menggoreskan mata pena di sisi tandatangan Theodore. Penasaran dengan laku Theodore, Catherine menanyakan ihwal hubungan cinta Theodore. Seolah terhenyak, Catherine mendapat penjelasan bahwa pasangan hidup Theodore adalah sebuah Sistem Operasi. Catherine lantas berupaya menjelaskan bahwa laku Theodore itu aneh.

Agaknya, perkataan Catherine itu terus mengiringi langkah pulang Theodore. Hingga dia pun sontak mengurangi kekerapan percakapannya dengan Samantha. Tanpa diduga, Samantha pun memperoleh teman maya yang baru, sesama Sistem Operasi, Alan Watts (Brian Cox). Suara titisan filsuf asal inggris ini diperkenalkan Samantha kepada Theodore. Dengan girang, Samantha menunjukkan kebanggaannya kepada Theodore akan banyak hal yang dipelajari dari Alan. Di sini Theodore mulai cemburu.

Film ini perlahan menemui penghujung saat Samantha sulit dihubungi Theodore. Dalam beberapa jam, Theodore rambang. Bingung ke mana gerangan Samantha. Hingga akhirnya Samantha kembali bersuara dan menjelaskan bahwa dirinya baru saja mengalami upgrade. Tapi, rupanya kini tak manis lagi. Selain dengan Theodore, Samantha juga berbincang-bincang dengan 8.316 Sistem Operasi lain. Dia juga mencintai 641 Sistem Operasi yang mulai banyak digunakan orang. Hati Theodore luluh lantak. Puncaknya saat Samantha benar-benar menghilang selamanya.

Theodore kemudian mengunjungi Amy yang juga ditinggalkan Sistem Operasinya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju atap gedung apartemen. Tanpa kata, mereka kemudian duduk bersisian dengan kepala Amy bersandar di pundak Theodore. Akhirnya, cinta itu kembali kepada manusia. Teknologi harus berhenti hanya sebagai pelengkap aktivitas manusia. Tidak lebih.

Film HER (2013) besutan Sutradara Spike Jonze mengangkat tema cinta yang unik, percintaan dengan produk teknlogi. Wajar saja, film berdurasi 126 menit ini meraih aneka penghargaan. Di antaranya Film Terbaik untuk The National Board of Review Awards pada 2013. Film ini juga menempati posisi puncak bersama dengan film Gravity dalam Los Angeles Film Critics Association Awards. Padahal, bujet yang dikeluarkan untuk film yang dirilis pada 12 Oktober 2013 dalam ajang Festival Film New York ini relatif kecil. Hanya $23 juta.

Kutipan menarik dalam film ini terletak pada bagian akhir cerita. Kala Theodore menuliskan surat untuk mantan istrinya, Catherine. Di sini Theodore mengungkapkan perasaannya yang terdalam kepada sang mantan sekaligus menjadi renungan bagi para pecinta:

Teruntuk Catherine,

Di sini, aku duduk sambil merenungkan segala hal yang terus menanti maaf darimu. Pelbagai pedih yang pernah kita rasakan dan ku bebankan itu semua kepadamu. Segala hal yang memaksamu untuk menjadi sosok yang seharusnya di mataku. Maafkan aku atas semua ini. Aku selalu mencintaimu karena kita tumbuh bersama dan kau membantuku menemukan siapa diriku sebenarnya. Aku hanya ingin mengatakan, selalu ada potongan dirimu di diriku. Aku berterimakasih. Entah kelak kau akan menjadi apa dan di mana pun kau berada, cintaku senantiasa terkirim untukmu. Kau temanku sampai akhir waktu. 

Theodore, (asw)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s