Snowden: Menyingkap Program Peluluk Siber

share
sumber gambar

Snowden, Poitras dan Greenwald mendapat kunjungan jurnalis senior The Guardian, Ewen MacAskill

Hongkong, 3 Juni 2013

Sutradara dan produser film dokumenter, Laura Poitras (Melissa Leo) dan Kolumnis The Guardian, Glenn Greenwald (Zachary Quinto) menyorot pandang ke tiap sudut lobi sebuah hotel di Hongkong. Gerak matanya mengisyaratkan kegelisahan: persona yang belum juga kunjung dicerap matanya.

Keduanya seolah tengah menanti janji seseorang yang begitu penting. Hingga di tengah kerisauan, sesosok pria menyapa mereka lewat sepatah kode yang kemudian ditanggapi dengan kode lain yang membawa mereka beranjak ke kamar hotel pria tersebut.

Di kamar hotel, pria itu membuka tudung kepala hoodie dan mengenalkan diri sebagai Edward Snowden (Joseph Gordon-Levitt). Mendengar nama itu, Poitras bergegas menyiapkan kamera untuk melakukan perekaman sementara Greenwald membuka tas dan menarik sebuah buku catatan dari dalamnya.

Sesaat sebelum bersiap melakukan wawancara, Snowden menyita ponsel mereka dan meminta keduanya untuk tidak menggunakan telepon genggam selama berada di kamar. Di muka kamera, Snowden mulai mengenalkan diri dan menjawab pertanyaan yang dilemparkan Greenwald.

Amerika Serikat, 2004 

Snowden tampak kepayahan mengikuti serangkaian program latihan Pasukan Khusus tentara Amerika Serikat. Snowden yang terdaftar sebagai kandidat tentara harus memenuhi persyaratan masuk termasuk melalui uji fisik: mulai dari berlari, merangkak, melompat, hingga terjun dari titik ketinggian tertentu.

Tapi nahas, cita-citanya jauh panggang dari api, sesaat sebelum bersiap mengikuti giat pagi, Snowden yang melompat dari ranjang tingkatnya mendadak roboh. Kakinya patah saat mendarat. Penanganan medis menjadi penolongnya.

Kata-kata yang meluncur dari mulut sang dokter menjadi mimpi buruk Snowden. Kakinya dinyatakan patah dan masih bisa sembuh tetapi bila aktivitas berat kembali mendera kakinya, maka tulang kaki Snowden lambat laun akan keropos dan hancur.

Kabar ini sekaligus menutup peluangnya masuk jajaran anggota Pasukan Khusus Amerika. Tapi berita buruk ini lamat-lamat terlupakan seiring dengan percakapan daringnya dengan seorang perempuan bernama Lindsay Mills (Shailene Woodley). Cita-citanya kembali hidup seiring percakapan yang terus intens dengan Mills.

Snowden__Large.jpg
sumber gambar

Amerika Serikat, 2006

Pasca kegagalannya masuk menjadi anggota Pasukan Khusus, Snowden kembali mencoba peruntungannya  di CIA. Hasil wawancara yang tidak begitu baik diperoleh Snowden kendatipun akhirnya Corbin O’Brien (Rhys Ifans) memasukkannya sebagai kandidat pegawai CIA yang harus melalui serangkaian tahap ujian.

Mengikuti kelas O’Brien, Snowden bersama kandidat lain diuji membuat sebuah program yang hanya ia selesaikan dalam hitungan menit. O’Brien tidak menyangka, Snowden yang tidak lulus SMA dan perguruan tinggi bisa menyelesaikan ujian tahap pertama dengan cepat.

Dari sini O’Brien kepincut dengan kapasitas Snowden. Snowden akhirnya diputuskan menjadi pegawai CIA dan mulai bekerja di markas rahasia CIA.

Di luar pekerjaannya, percakapan yang kian intens dengan Mills memaksanya untuk membuat janji di sebuah tempat makan. Di sana Snowden melempar pandang ke sekitar namun tetap belum mendapati sosok perempuan dengan ciri-ciri khusus.

Hingga akhirnya, sosok Mills muncul membawa kamera dan mengarahkan lensa ke arah Snowden. Snowden yang masih malu terus menutupi wajahnya dari sorotan lensa kamera Mills. Dia terus begitu sampai berjalan di sebuah taman.

Hongkong, 4 Juni 2013

Snowden, Poitras dan Greenwald mendapat kunjungan jurnalis senior The Guardian, Ewen MacAskill (Tom Wilkinson). Mereka berkumpul di kamar Snowden. Seperti Poitras dan Greenwald, ponsel MacAskill juga disita Snowden untuk menghindari penyadapan oleh agen CIA Amerika. Sebelum disita, MacAskill meminjam dulu ponselnya dan menghubungi editor The Guardian, Janin Gibson (Joely Richardson).

Ia mengabari Janin perihal keberadaannya bersama dengan Snowden dan akan menyampaikan langkah yang harus ditempuh selanjutnya pasca berbincang dengan Snowden, Poitras dan Greenwald. Informasi ini disampaikan lewat kalimat kode yang diketahui MacAskill dan Janin.

Genewa, 2007

Snowden mendapat tugas ke Genewa, Swiss untuk mengelola keamanan jaringan komputer di sana. Hubungan Snowden dan atasannya tidak berjalan baik dan Snowden merasa tidak betah bekerja di Genewa.

Di tengah kegelisahannya, Snowden mendapat tugas untuk menghadiri sebuah pesta. Mills yang juga diboyong Snowden ke Genewa turut serta dalam pesta itu. Snowden ditugaskan untuk mencari seorang banker untuk kepentingan pengintaian. Di pesta yang dihadiri para diplomat dan tetamu penting lain, Snowden kesulitan berbincang dengan bankir.

Hingga Mills membantu Snowden berkenalan dengan seorang bankir, Marwan Al-Kirmani (Bhasker Patel). Perkenalan ini berujung pada pengintaian kehidupan Marwan dan sanak keluarganya. Dibantu oleh seorang agen CIA lain, Snowden diperlihatkan cara meluluk target operasi.

Melalui program peluluk yang canggih, agen itu mengenalkan Snowden cara menguntit kehidupan seseorang demi kepentingan keamanan negara. Aksi memata-matai itu dilakukan melalui perangkat lensa yang menempel di setiap gawai baik ponsel maupun komputer. Dalam kondisi aktif maupun tidak aktif, lensa gawai itu bisa menampilkan suasana yang ada di sekitarnya.

Snowden yang mengetahui hal itu terkejut dan menanyakan perihal siapa saja yang bisa diintai oleh si agen CIA itu. Kekagetan Snowden mulai menjadi-jadi setelah mendapatkan jawaban si agen CIA bahwa program ini bisa menjangkau semua orang yang memiliki gawai dan lensa pada perangkatnya.

Snowden kemudian mengalami dilema psikologis pasca mengetahui nasib bangkir Marwan Al-Kirmani yang kian memburuk. Snowden yakin, nasib buruk itu mulai terjadi setelah Marwan diintai oleh rekannya sesame agen CIA.

Kegundahan Snowden semakin besar setelah dia diperlihatkan cara mengebom target operasi menggunakan Drone. Dengan hanya deteksi ponsel, sebuah permukiman langsung luluh lantak dihantam bom yang meluncur dari sebuah drone.

Snowden mempertanyakan cara itu: “apakah sudah pasti yang memegang ponsel itu adalah orang yang tepat atau sosok yang menjadi target operasi?” Jawaban rekannya tidak memuaskan Snowden, “belum tentu, yang terpenting, ponsel teroris terdeteksi dan bom menghunjam ke titik keberadaan ponsel tersebut.” Snowden mulai yakin, ada yang tidak beres dalam praktik meluluk secara siber ini.

1f60f416-5164-11e6-ba91-9b331c0ddad9_1280x720
sumber gambar

Tokyo, 2009

Karena tidak betah, Snowden ditugaskan bekerja di Dell Tokyo sebagai supervisor Badan Keamanan Nasional Amerika. Ia bertugas untuk untuk menghindarkan semua sistem komputer dari terjangan peretas Cina.

Untuk melakukan hal itu, Snowden menanamkan virus/malware ke sistem komputer setempat sekaligus, melalui virus/malware itu, ia bisa memata-matai aktivitas tiap anggota masyarakat di sebuah negara. Program ini dijalankan terus, tidak hanya di Jepang, tetapi juga di negara-negara Asia bahkan Eropa.

Hongkong, 5 Juni 2013

Editor The Guardian, Janin ragu-ragu menerbitkan cerita Snowden. Keputusan ini membuatnya berdebat dengan Greenwald. Sementara MacAskill memperhatikan perkembangan situasi dan mencoba meyakinkan Janin untuk terus berkonsultasi dengan penasihat hukum The Guardian agar cerita Snowden tidak menjadi bumerang bagi medianya.

Seiring fakta yang disodorkan Snowden semakin memperkuat cerita, penasihat hukum meyakinkan Janin bahwa cerita Snowden layak dimuat dengan catatan tertentu.

Hawaii, 2012

Setelah keberhasilan di Tokyo, Snowden ditugaskan untuk mengamati kerja-kerja pengintaian di markas CIA Hawaii. Melalui sistem PRISM, CIA semakin canggih dalam memata-matai anggota masyarakat dunia.

Snowden yang lambat laun mulai menyadari kesalahan praktik peluluk siber ini, mulai nekat untuk membongkar praktik “jahat” ini. Ditambah lagi pasca Mills juga menjadi obyek mata-mata siber CIA, keputusannya untuk membongkar praktik ini ke dunia internasional semakin tebal.

Snowden kemudian mengambil aneka data program peluluk siber dari komputernya melalui flashdisc. Setelah data masuk, flashdsic mini itu dimasukkan ke dalam mainan rubik yang selalu ia mainkan ke manapun ia berjalan.

Hingga di pengujung pintu keluar, petugas keamanan memeriksa barang-barang Snowden sementara rubiknya ia lemparkan ke salah satu petugas jaga sehingga rubik itu lolos dari pemindaian. Aneka data program peluluk siber keluar dan dari situ kemudian Snowden menceritakan semua kisahnya kepada Poitras dan The Guardian.

6 Juni 2013

Kisah Snowden dimuat The Guardian dan hasil rekaman Poitras meluncur ke jejaring televisi dunia internasional. Snowden diminta untuk keluar dari Hongkong. Namun perjalanannya terhambat di bandara Rusia dan Amerika meminta Rusia menyerahkan Snowden kepadanya.

Alih-alih menyerahkan “pengkhianat” Amerika, Rusia malah memberikannya suaka dan memberikan kebebasan pada Snowden untuk hidup di salah satu tempat di Rusia. Snowden kini hidup dalam pelarian bersama Mills, kekasihnya.

Meskipun hidup terbatas, tapi Snowden yakin, keputusannya berdampak baik bagi semua anggota masyarakat dunia. (asw)

—–

Sutradara: Oliver Stone; Penulis Naskah: Oliver Stone, Kieran Fitzgerald; Genre: Drama, Thriller, Biografi; Durasi: 134 menit; Bujet: $40 juta

Pemain: Edward Snowden (Joseph Gordon-Levitt), Lindsay Mills (Shailene Woodley), Laura Poitras (Melissa Leo), Glenn Greenwald (Zachary Quinto), Ewen MacAskill (Tom Wilkinson), Trevor James (Scott Eastwood), Corbin O’Brien (Rhys Ifans), Hank Forrester (Nicolas Cage), Janin Gibson (Joely Richardson), Marwan Al-Kirmani (Bhasker Patel)

(Diadaptasi dari Buku The Snowden Files karya Luke Harding dan Buku Time of the Octopus karya Anatoly Kucherena)