Inferno: Membantar Kiamat Populasi Manusia

inferno-movie
sumber gambar

Inferno merupakan bagian pertama puisi wiracarita (epos) Dante yang berjudul Divine Comedy

Di muka kelimun peserta seminar, miliuner Bertrand Zobrist (Ben Foster), melempar dilema: “ada sebuah tombol, bila ditekan, maka setengah populasi manusia di dunia akan musnah tapi bila dibiarkan, maka ras manusia bakal punah.”

Dilema itu disampaikan setelah ia memaparkan fakta populasi manusia yang terus meriap tiap abadnya. Baginya, kondisi ini berimplikasi pada kepunahan manusia yang bakal baku rebut mata pencarian. Zobrist berkesimpulan, perlu ada upaya mengurangi populasi manusia atau bahkan memotong separuh populasi untuk membantar kiamat populasi manusia.

Zobrist Tewas

Di puncak menara, Zobrist megap-megap sehabis lari dari kejaran seorang agen, Christoph Bruder (Omar Sy) dan rekannya. Tahu dirinya tak bisa lagi lepas dari kejaran, Zobrist menyeringai dalam kuldesaknya. Sambil menatap dua orang yang siap menangkapnya, ia enggan menyerahkan benda yang disembunyikan.

Dengan penuh keraguan, Zobrist menatap ke bawah seolah bersiap untuk menjangkau dasar menara. Sang agen pun rikuh untuk terus merapatkan diri ke Zobrist, takut Zobrist nekat terjun dari pucuk menara. Tapi langkah sang agen yang terus melipat jarak menyudutkan Zobrist ke tepi menara yang kemudian memaksanya terjun dan tewas.

Petualangan Prof. Langdon Dimulai

Prof. Langdon (Tom Hanks), si ahli kode dan simbol, seperti tak kuasa menahan sakit seperti meroyan. Mulutnya seperti merapal mantra dan aneka kata tak bermakna. dr. Sienna Brooks (Felicity Jones) tetiba memasuki ruang medis tempat Langdon berbaring.

Sambil terus melakukan penanganan, Sienna berkomunikasi dengan Langdon yang tak ingat kejadian sebelum dirinya berada di rumah sakit. Sampai akhirnya Langdon tersadar, dirinya ada di rumah sakit Kota Firenze, Italia.

Di tengah upaya pemulihan memorinya, aneka mimpi menggelayuti otaknya, gambaran kiamat: manusia bermuka menghadap belakang, berwajah buruk, bertopeng disertai kondisi kota yang hancur dan penuh darah.

Langdon berhalusinasi. Ia tetap tidak mengingat kejadian yang membawanya hingga ke rumah sakit. Tetiba, seorang wanita berpakaian polisi, Vayentha (Ana Ularu), datang menyusuri koridor menuju kamar Langdon dan melepaskan tembakan ke arah juru rawat yang membuatnya jatuh tersungkur.

Melihat peristiwa itu, Sienna langsung menutup pintu kamar rawat dan membawa serta Langdon keluar rumah sakit. Dengan susah-payah, Langdon berusaha mengikuti ritme lari Sienna hingga menemukan taksi. Taksi itupun meluncur sekaligus meloloskan mereka dari kejaran Vayentha.

Halusinasi seperti adegan kiamat terus menghantui Langdon. Tapi lambat laun, ingatannya mulai kembali. Kejadian satu-dua hari lalu lamat-lamat ia ingat. Sienna yang membawa Langdon ke unit apartemennya mulai mencurigai Langdon yang dikejar-kejar orang bersenjata. Ia mengancam akan menghubungi kepolisian dan melaporkan Langdon.

Tetapi Langdon mencegahnya. Melihat kondisi Langdon yang masih belum pulih memorinya, Sienna mengurungkan niatnya dan menyuruh Langdon bersih-bersih. Saat mengenakan jas, Langdon menemukan benda seperti Faraday Pointer yang kemudian ia tunjukkan ke Sienna.

13829192._SX540_
sumber gambar

Inferno Karya Dante

Langdon yang penasaran kemudian membuka benda itu melalui pindaian jarinya. Simbol pertama muncul dan coba dipahami oleh Sienna dan Langdon. Tetiba dari benda itu muncul sinar yang kemudian dipantulkan ke tembok dan menera sebuah bentuk seperti segitiga terbalik.

Ternyata itu gambar Map of Hell (Peta Neraka) karya seniman abad pertengahan, Botticelli berdasarkan puisi Inferno karya penyair Dante. Inferno merupakan bagian pertama puisi wiracarita (epos) Dante yang berjudul Divine Comedy, bagian lain secara berurutan: Purgatorio dan Paradiso.

Pembacaan atas kode dan simbol mulai dilakukan Langdon dan Sienna yang menurut pengakuannya menggemari aneka buku Langdon dan membacanya sejak berusia sembilan tahun. Di tengah penelusuran makna kode dan simbol itu, sekelompok orang yang mengaku dari WHO terlihat tengah membuat barikade di sekitar apartemen Sienna.

Melihat itu, Langdon dan Sienna berusaha melarikan diri dari sergapan kelompok itu. Ternyata, di area tempat yang sama, Vayentha melihat gerak-gerik Langdon dan Sienna yang akhirnya berusaha mengejar mereka namun urung karena Langdon dan Sienna kabur dengan mengendarai mobil.

Penelusuran ke Situs Sejarah

Berbekal pemaknaan simbol dan kode Peta Neraka, Langdon dan Sienna mulai mencari kode dan simbol lanjutan ke sejumlah lokasi. Di antaranya Boboli Gardens, Palazzo Vecchio, dan Florence Baptistry. Di tempat-tempat itu, Langdon dan Sienna mengamati aneka lukisan, kode dan simbol.

Langdon mulai sadar, ada kelompok orang yang mau memusnahkan ras manusia dengan senjata biologis. Melalui internet, Langdon tahu, salah satu orang itu adalah Bertrand Zobrist. Langdon juga tahu Zobrist telah tewas tapi ia juga sadar ada senjata biologis yang disimpan di suatu tempat dan sewaktu-waktu aktif dan memusnahkan populasi manusia.

Di Museum Palazzo Vecchio, Langdon mengamati lukisan The Battle of Marciano in Val di Chiana dan mendapati frasa: cerca trova (seek and find). Dari frasa itu, Langdon kembali melanjutkan pemaknaan simbol dan kode hingga ke topeng Dante Death Mask. Saat Langdon ingin melihat topeng itu, ternyata benda tersebut lenyap dari etalase penyimpanan.

Langdon dan Sienna diminta untuk melihat rekaman CCTV ruangan dan mendapati pelaku pengambilan topeng itu adalah Langdon dan seorang rekannya. Di tengah keterkejutan itu, sekelompok orang yang pernah mendatangi apartemen Sienna kembali muncul di area museum tempat Langdon dan Sienna berada.

inferno-1
sumber gambar

Kelompok itu mengaku dari WHO PBB yang dipimpin salah satu direkturnya, dr. Elizabeth Sinskey (Sidse Babett Knudsen). Muncul dalam kelompok itu juga Bruder yang pernah mengejar Zobrist. Tahu ada yang tidak beres, Langdon dan Sienna langsung kabur dari museum tapi mendapat hadangan Vayentha.

Di atap museum, Langdon yang terpojok akhirnya diselamatkan Sienna yang berhasil melumpuhkan Vayentha. Tapi Bruder tahu, ada Langdon di balik kematian Vayentha. Naluri Bruder pun benar dan berhasil mendapatkan Langdon dan Sienna di tengah pelariannya dari kelompok WHO.

Organisasi Misterius

Senjata biologis Zobrist ternyata menjadi incaran banyak pihak termasuk sekelompok organisasi misterius di bawah komando Harry Sims “Provos” (Irrfan Khan). Mengoperasikan kantornya di sebuah kapal yang terus bergerak menyusuri laut, Provos mengamati pergerakan anak buahnya, Vayentha, yang tengah mengejar Langdon.

Tapi kemudian, Provos sadar, ada yang tidak beres pada senjata biologis Zobrist. Senjata itu merupakan manifestasi cita-cita Zobrist yang mau memusnahkan 95% ras manusia sebagai solusi keberlangsungan eksistensi manusia. Cita-cita yang juga menjangkiti pemahaman sejumlah orang.

Langdon Mulai Sadar dari Amnesia

Bruder yang berhasil mendapatkan Langdon dan Sienna berusaha meyakinkan mereka ihwal upayanya untuk memusnahkan senjata biologis Zobrist. Langdon mulai bercerita tentang dugaan keberadaan senjata itu. Tapi Langdon kemudian mencurigai keterangan Bruder yang mengaku menemuinya sebelum dirinya berada di rumah sakit.

Memori Langdon pulih setelah kereta yang mereka tumpangi melewati terowongan. Langdon datang ke Italia atas undangan teman lamanya, dr. Sinskey. Direktur WHO ini meminta bantuan Langdon untuk memecahkan kode dan simbol yang ditinggalkan Zobrist.

Tahu Bruder berniat buruk, Langdon dan Sienna membuat siasat. Bruder terperangkap siasat sementara Sienna dan Langdon berhasil melarikan diri. Tapi pelarian diri Sienna dan Langdon tidak gangsar. Bruder berhasil membuntuti mereka yang masuk ke salah satu situs bersejarah di Venezia.

Di tengah pengejaran itu, Sienna tetiba meninggalkan Langdon. Sienna ternyata kekasih Zobrist dan meyakini konsep kiamat populasi manusia Zobrist benar. Langdon terkejut tapi Sienna berkukuh untuk terus melanjutkan cita-cita Zobrist.

Sienna meninggalkan Langdon menuju Hagia Sofia di Turki yang diduga menjadi tempat penyimpanan senjata biologis penghancur ras manusia. Langdon tertangkap.

20892746._SX540_
sumber gambar

Drama di Balik Amnesia Langdon

Bruder menawan dan menginterogasi Langdon. Bruner mengaku akan menjual senjata itu kepada pihak yang menawarkan harga tertinggi. Dia juga menjelaskan ada tiga pihak yang menginginkan senjata itu: WHO (yang akan memusnahkan senjata), organisasi misterius (yang akan menggunakan tapi belakangan hanya akan meneliti), dan dirinya (yang akan menjual ke pihak lain).

Di tengah ketegangan itu, Provos muncul dan menikam tengkuk Bruder dengan pisau kecil. Bruder tewas, Langdon dibebaskan. Provos mengaku telah bekerjasama dengan WHO untuk menemukan senjata yang berbahaya itu.

Provos kemudian menceritakan kejadian yang membuat Langdon menderita amnesia. Awalnya, Sienna dan Provos bekerjasama untuk mendapatkan senjata Zobrist. Mereka setuju untuk menciptakan drama bagi Langdon supaya Langdon bisa percaya kondisi yang dialaminya dan mau mengungkap kode yang ditinggalkan Zobrist.

Langdon kemudian diculik oleh Vayentha dan menyuntikkan serum pencipta amnesia. Kepala Langdon digores pisau seolah-olah terserempet peluru. Sienna kemudian menjadi dokter perawat Langdon dan seorang juru rawat dibuat pura-pura tewas tertembak.

Tapi drama itu tidak terbangun dengan baik lantaran Sienna keluar dari plot drama yang diatur. Provos pun akhirnya memerintahkan Vayentha untuk membunuh Langdon namun tidak berhasil. Kini, Provos sadar senjata biologis itu harus dimusnahkan, oleh karenanya, dia bekerjasama dengan WHO.

Langdon akhirnya dipertemukan dengan dr. Sinskey dan terbang ke Hagia Sofia, Turki berkejaran dengan Sienna yang akan mengaktifkan senjata mematikan itu. Hagia Sofia kemudian menjadi situs terakhir sekaligus tempat penemuan senjata biologis Zobrist. Keterangan ini diperoleh dari tulisan yang tertera di topeng Dante Death Mask.

Baku Pukul

Benar saja, di Hagia Sofia, Sienna dan rekannya telah siap untuk mendapati senjata Zobrist sementara Langdon dan pasukan WHO juga Provos siap mencegahnya. Aksi saling kejar dan baku pukul tersaji dengan tensi ketegangan yang terus lestari. Hingga akhirnya, Sienna tewas usai meledakkan diri dengan granat lantaran berupaya untuk menghancurkan lapisan pelindung senjata biologis Zobrist.

Tapi pelapis yang melindungi senjata itu tidak hancur dan kebocoran pun terhindarkan. Langdon mendapatkan kembali jam pemberian ayahnya yang sempat hilang dan berpisah dengan dr. Sinskey.(asw)

—–

Sutradara: Ron Howard; Produser: Brian Grazer, Ron Howard; Penulis Naskah: David Koepp; Genre: Mystery-Thriller; Durasi: 121 menit; Bujet: $ 75 juta

Pemain: Robert Langdon (Tom Hanks), Sienna Brooks (Felicity Jones), Bertrand Zobrist (Ben Foster), Harry Sims “Provos” (Irrfan Khan), Christoph Bruder (Omar Sy), Dr. Elizabeth Sinskey (Sidse Babett Knudsen), Vayentha (Ana Ularu)

(Diadaptasi dari Buku “Inferno” karya Dan Brown)