NIGHT BUS: BUS MALAM SAKSI KONFLIK DAN DERITA

Pada intro, ingatan kita bakal terseret ke tayangan mula film Harry Potter: gumpalan awan, meski tidak kelam, membetot mata kita selama lima detik lalu dari kepulan awan itu, sorot kamera membidik satu titik di permukaan bumi, mirip aplikasi google earth saat zoom in, yang kemudian menayangkan sebuah terminal bus bernama Rampak. Tapi tenang, Night Bus bukan film sihir laiknya Harry Potter. Tapi nuansa gelap memenuhi hampir seluruh durasi tayangan. Ini memang film gelap tentang laku (lancung) manusia yang kini masih lestari.

ROGER EBERT, MENYELIPKAN TELADAN PADA SINEMA

Ia membangun narasi dengan jujur. Film apik pasti menuai pujian dan tentu saja nyaris dapat empat bintang. Film buruk, siap-siap dapat tomat busuk dan pasti “nyaris” dapat bintang. Tapi tenang, ia tipe orang jenaka. Mustahil ia menghina sebuah karya sinema. Kritiknya dipoles dalam ungkap canda.

ROGER EBERT, SI KRITIKUS ULUNG PECINTA SINEMA

Ebert adalah kritikus film pertama yang mendapatkan penghargaan Pulitzer pada 1975. Ia juga menjadi kritikus film pertama yang dianugerahi bintang di Hollywood Boulevard Walk of Fame pada 2005.

Fabricated City: Merancang Kematian, Mereka Tuduhan

Seteru itu bergerumut, mereka kian beringsut maju. Todongan aneka senjata api seakan tegas membidik satu kelompok kecil. Sedikit saja anggota badan terlihat, desingan peluru tak terelakkan. Tapi si target engah. Anggota kelompok kecil itu siap memuntahkan peluru ke arah kelimun orang bersenjata. Dan benar, tretetetet!!!, baku tembak terjadi. Kelompok kecil dengan jumlah sekitar tujuh orang ini lebih tangkas membidik lawan. Mereka intens berkomunikasi lewat semacam mikrofon yang menempel di sekitar telinga: saling jaga, saling serang.

The Invitation: Menjagal, Melepas Agonia

Will (Logan Marshall-Green) seperti berimaji di balik kemudi mobilnya meskipun sang kekasih, Kira (Emayatzy Corinealdi) ada di sisinya. Brak!!! tetiba ada tumbukan keras di muka luar mobil Will. Seekor anjing hutan tertabrak, sekarat. Seketika itu, Will memungut kunci inggris di bagasi mobil dan memukul hingga tewas anjing malang yang tengah sangat menderita, agonia. Keduanya pun meneruskan laju kendaraan menuju kediaman rekannya di kawasan Hollywood Hills untuk merayakan suatu reuni bersama teman lama.

Pompeii: Antara Cinta, Alam, dan Kasam

Di tengah pergolakan kasam itu, Gunung Vesuvius menampilkan sisi seramnya. Kepulan asap tebal membumbung ke langit disertai bunyi gemuruh dan goncangan juga lava yang mengalir deras turun ke area pemukiman warga.

Need for Speed: Melahap Balap, Melumat Kesumat

Kasam itu seolah tak pernah menemui ujung. Hingga akhirnya Tobey menghubungi Anita untuk meminjam unit mobil. Anita yang sudah mengetahui tingkah licik Dino pun meluluskan pinta Tobey.