Kesilapan penilaian itu ternyata membuat Minke merasa tergenggam hatinya oleh Nyai Ontosoroh

Seorang sutradara kenamaan Indonesia menyebut Roman Bumi Manusia itu soal cinta Minke dan Annelies. Adalah Hanung Bramantyo yang secara tegas mengatakan, inti cerita memang bergerak di seputar hubungan percintaan, semacam hubungan yang harmonis sekaligus tragis.

Meski disanggah oleh sebagian penikmat karya Pramoedya Ananta Toer, penulis Bumi Manusia, yang menyebut anggapan itu terlalu simplistis, faktanya sekitar 2/3 pembahasan dalam buku memang menyangkut Minke dan Annelies.

Perdebatan itu kemudian mengajak kita untuk menengok kembali kisah cinta dua sejoli tersebut seperti tersaji sebagaimana berikut:

Remaja lelaki Pribumi ini boleh dikata beruntung. Sebab ia satu-satunya siswa yang berlabel Pribumi di Hogere Burgerschool (H.B.S) Surabaya. Adapun teman-temannya yang lain sebagian besar Indo alias keturunan Belanda dan sebagian kecilnya lagi Totok.

Tetapi keistimewaan yang melekat itu tidak lantas membuat Minke jemawa. Remaja kelahiran 31 Agustus 1880 yang saat itu berusia 18 tahun tersebut bahkan ogah menyebut nama keluarganya yang teraliri darah raja-raja Jawa.

Advertisements

Berawal dari ajakan teman sekelasnya, Robert Suurhof, ke kediaman kenalannya yang orang Belanda peranakan di Wonokromo, Surabaya, cara pandang Minke lambat laun berkembang

Di tengah percakapannya dengan seorang gundik kaya, Minke tetiba teringat sebuah tulisan:

“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, peradabanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput,” (halaman 165)

Ya, pemahaman kita akan manusia dan setumpuk persoalannya tidak akan pernah paripurna. Itu juga yang menjadi inti cerita mendiang Pramoedya Ananta Toer dalam romannya yang terkenal: Bumi Manusia.

Lewat tokoh utamanya, Minke, dan interaksinya dengan para tokoh lainnya, Bumi Manusia mengajak kita mendalami pengetahuan mengenai manusia.

Judul The Man with The Iron Heart jadi kurang klop lantaran cerita tidak secara ketat terfokus pada diri Heydrich.

Film ini muncul dalam bayang-bayang produk sinematik lain dengan tema serupa yang tayang pada 2016 berjudul Anthropoid.

Mengambil nama yang sama dengan operasi militer untuk pembunuhan seorang petinggi Nazi bernama Reinhard Heydrich, Anthropoid berkisah tentang upaya dua tentara Ceko dalam memuluskan rencana pembunuhannya itu.

Sadar akan adanya kesamaan tema, film The Man with The Iron Heart punya beban agar bisa tampil beda. Cedric Jimenez, si sutradara, kemudian memutuskan untuk memilih sudut pandang (angle) lain dari sejarah operasi militer paling ambisius di Perang Dunia II tersebut.

Acting­ Jon Hamm begitu menawan, baik saat menjadi diplomat, pemabuk, dan penyelamat. Perubahan karakternya tampak jelas pada laku dan gaya bicaranya.

Beirut pernah dapat julukan “Parisnya Timur Tengah” (The Paris of the Middle East). Sebutan itu muncul bukan tanpa sebab.

Ibu kota Lebanon ini pernah dihuni warga yang berpengetahuan luas, buah dari pertukaran wawasan warganya yang punya latar belakang agama dan budaya yang beraneka macam. Wajar jika kemudian Beirut menyandang label sebagai kota kosmopolitan laiknya Paris.

Namun suasana hidup yang heterogen itu pernah rusak karena perang saudara selama 25 tahun. Pada periode 1975-1990, kehidupan penuh ragam nan harmonis di sana mendadak bersalin rupa menjadi penuh curiga.

Kecurigaan yang kemudian berbuah pertikaian dan peperangan antar warga sipil.

Kesederhanaan itu punya misi mulia agar film mudah dicerna sekaligus menyimpan risiko film jadi kurang istimewa

5PM, dengan kepanjangan Penjuru Masjid (PM) ataupun Pemuda Masjid (PM), sungguh film yang sederhana hampir di semua aspek. Latarnya, acting pemerannya, dialognya, sound serta sinematografinya tidak menampakkan keisitimewaan kecuali tekanannya yang konsisten pada tema kembali ke masjid.

Terkait dengan masjid, mungkin kita akan membandingkan film 5PM ini dengan seri Para Pencari Tuhan yang diputar saban sore di bulan puasa. Film yang hampir memasuki jilid ke-12 ini mengusung tema hijrahnya tiga pemuda ke kehidupan masjid.

Boleh dibilang kedua film itu punya kesamaan tema namun beda gaya. Di saat seri Para Pencari Tuhan menguarkan banyak dialog filosofis dan relijius dari para pemerannya, film 5PM tetap konsisten dengan dialog keseharian yang sederhana.

Alur waktu maju-mundur punya maksud agar pertanyaan dan jawaban atas aneka konflik yang tersaji saling sahut.

Film Arini rupanya tidak sesederhana kisah tentang sepasang kekasih dengan beda usia yang terpaut jauh. Produk sinematik ini juga bukan cuma mengusung premis soal hak perempuan untuk memperoleh cintanya pada kesempatan kedua di tengah tekanan norma masyarakat.

Jauh dari dua poin itu, Ismail Isbeth, sang sutradara, meramu kisah Arini menjadi cerita visual yang apik dengan aneka konflik yang seru namun tetap tuntas resolusinya.

Kita pun seperti diajak berempati pada perasaan Arini tinimbang menuduhnya sebagai pencinta berondong.

Tapi paket lengkap dengan bejibun informasi di dalamnya memang sulit terhindar dari pembahasan persoalan yang tumpang-tindih

Tempo kembali bikin produk pustaka mengenai dirinya. Setelah dua bukunya terbit, Seandainya Saya Wartawan Tempo dan Cerita di Balik Dapur Tempo, akhir tahun lalu, kantor berita yang dikenal dengan cerita investigasinya ini bikin buku lagi.

Lewat produk anyarnya yang berjudul Jurnalistik Dasar, Resep dari Dapur Tempo, pencetus berita yang enak dibaca dan perlu ini tidak khawatir dibilang punya kepedulian secara berlebihan pada diri sendiri.

Tempo tidak takut dibilang punya sikap narsistik karena sering menerbitkan buku mengenai cerita dan kiprah kerjanya. Dan memang ia tidak perlu risi dengan penilaian itu.

Menyaksikan film ini, kita bisa mendapatkan dua rasa sekaligus: adrenalin yang melompat-lompat dan inspirasi tentang bagaimana bangunan kekeluargaan dikelola

Bagaimana bisa sebuah film dengan sedikit dialog, minim karakter, plus nuansa yang sunyi-sepi bisa bikin bulu tengkuk kita berdiri? Sutradara John Krasinski ternyata mampu menciptakan suasana ngeri dengan “keterbatasan”, yang mungkin saja, disengaja itu.

Sebermula ia perlihatkan kondisi kota yang berantakan. Jalanan sepi dari jejak kaki orang dan hewan, kecuali dedaunan kering yang berserakan. Aneka bangunan tampak terbengkalai karena ditinggal penghuninya yang kabur atau raib entah ke mana.

Itu terlihat dari aneka koran beserta informasinya yang tergeletak begitu saja dan potongan foto penanda orang hilang di sebuah dinding toko. Dari penggambaran itu, kita kemudian sadar, ada yang tidak beres di sana.

Lima tokoh kita kemudian masuk bingkai film dan nyaris tidak melakukan dialog lisan sedikitpun. Jalinan komunikasi antar mereka dilakukan lewat bahasa isyarat dan bisikan. Bahkan semua tokoh kita jalan bersijingkat seperti ketakutan langkahnya didengar orang.

Dari sini, kita sudah berkenalan dengan latar film yang dilanda “kiamat” di hari ke-89 tahun 2020. Kita juga tahu kelima tokoh kita, yang tampak seperti satu keluarga, adalah para penyintas alias orang-orang yang bertahan hidup pascakiamat.

Novel ketiga ini tidak lagi mengulik lorong-lorong labirin cinta Sarwono dan Pingkan seperti yang tersaji di novel pertamanya

Novel pemungkas untuk Trilogi Hujan Bulan Juni itu akhirnya terbit. Judul puisi lama karangan Sapardi Djoko Damono (SDD), yang fana adalah waktu, didaulat menjadi judul novel penutup trilogi itu.

Judul puisi yang termaktub dalam kumpulan sajak Perahu Kertas (1982) itu pun bukan lagi semacam satire bagi manusia yang mengaku kekal dan menyebut waktu adalah fana.

Judul itu kini seolah menjadi penegasan akan kefanaan waktu dan kekekalan cinta Sarwono dan Pingkan.

Ya, dua tokoh utama cerita itu memang sudah melalui pelbagai macam ujian sebelum membuktikan cinta keduanya tak lekang oleh waktu alias tetap abadi.

Bahkan pada Pingkan Melipat Jarak (novel kedua), Sarwono “mampu” keluar dari kerangka waktu agar bisa berkomunikasi dengan Pingkan.

Saat itu, mabui (semacam roh/jiwa) Sarwono keluyuran di tengah masa komanya. Ia mengunjungi mimpi Pingkan untuk sekadar meyakinkan perempuan itu bahwa cintanya akan selalu ada untuk Pingkan.

Sarwono dan Pingkan memang sudah menaklukkan waktu.

Sekuel ini jadi pertaruhan untuk kelanjutan cerita Jaeger dan Kaiju

Produsen film Pacific Rim Uprising sadar betul industri sinema dunia tengah menggemakan perayaan kemanusiaan. Pembukaan akses yang luas untuk bermain peran bagi para aktor dan aktris dengan kulit berwarna menjadi salah satu semangat perayaan itu.

Wajar saja jika kemudian sekuel Pacific Rim (2013) ini menghadirkan para pemeran dengan latar kulit dan negara yang beraneka ragam. Namun satu negara rupanya mendominasi peran dan berkontribusi cukup besar dalam alur cerita film garapan Steven S. DeKnight ini.

Ya, Tiongkok punya andil besar dalam produksi film yang menelan biaya US$ 150 juta ini. Paling tidak, ada dua alasan yang bisa menjelaskan keputusan produsen film untuk memberikan karpet merah kepada Tiongkok.

Ketidaktuntasan cerita ini meruapkan kesan seolah film ini hanya jadi alat propaganda untuk usaha mengurangi pembelian senapan api

Cerita horor yang melekat kuat di benak masyarakat rupanya masih menarik bagi sebagian pengarah film untuk menyajikannya dalam sebuah produk sinematik. Setidaknya, modal berupa kisah itu bisa mengurangi beban pekerjaan, terutama dalam hal penggarapan ide cerita.

Tinggal kemudian si sutradara menyiapkan aneka bumbu penyedapnya. Bagi kita penikmat film horor, tentu berharap adanya sajian yang bisa bikin adrenalin melompat-lompat.

Tidak melulu obral jump scares. Tetapi pengarah film bisa menawarkan aneka efek suara, variasi sorot kamera, dan sejumlah elemen yang sudah kita kenal di dunia nyata dan mampu menciptakan suasana horor.

Misalnya, perlampuan yang temaram, senandung lagu yang bikin bergidik, atau bunyi-bunyian yang sering kita dengar dan punya asosiasi dengan mitos yang berseliweran di ruang publik.